Soal Salat Jumat dan Berjamaah, Ketua MUI Pessel Ajak Masyarakat Memaklumi

Ketum MUI Pessel, H. Asli Sa'an, SH, MH
Ketum MUI Pessel, H. Asli Sa'an, SH, MH (istimewa)

PESSEL , KLIKPOSITIF - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat, Asli Sa'an mengimbau, masyarakat Muslim di daerah itu untuk memaklumi fatwa MUI terkait tidak dianjurkannya salat Jumat dan salat berjamaah demi mencegah penyebaran COVID-19.

Asli Sa'an menegaskan, hal itu sehubung dengan masa darurat Pesisir Selatan dalam menghadapi COVID-19. Terutama setelah adanya, satu orang yang positif Covid-19 asal daerah tersebut.

baca juga: Lama di Rumah Akibat Pandemi, Guru di Pessel Kembali Bertugas ke Sekolah

"Kami memandang, perlu mengimbau dan mengingatkan kembali kepada para Khatib Jumat dan Kaum Muslimin di Pesisir Selatan untuk menghentikan sementara," ungkapnya menegaskan imbauan yang dikeluarkan, saat dikonfirmasi KLIKPOSITIF , Jumat 27 Maret 2020.

Ia menjelaskan, ketentuan dalam salat Jumat memang telah dianjurkan wajib bagi laki-laki. Bahkan, dalam penekanannya, tiga kali berturut-turut tidak melaksanakan salat Jumat hatinya bisa membeku (tertutup).

baca juga: 42 Hasil Tes Warga di Pessel Dinyatakan Negatif, 38 Orang Masih Menunggu

Namun, pada suatu ketika, ada hal yang tidak lagi mewajibkan dan mengganti dengan salat Dzuhur, seperti kondisi wabah saat ini. Sebab, diyakin untuk memutus mata rantai wabah perlu menghidari kerumanan orang, dan aktivitas yang menghimpun orang banyak.

"Salah satu hikmah disyariatkan shalat Jum'at sebagai penjaga kerukunan dan kekompakan di antara sesama Muslim.

baca juga: Disiplinkan Masyarakat Dengan Protokol COVID, Bupati Pessel: Camat dan Wali Nagari Harus Lebih Gencar

Hanya saja, dalam kondisi tertentu, syari'at membolehkan shalat Jum"at di suatu daerah ditiadakan," terangnya.

Ia menginginkan, imbauan ini tidak menjadi buah perdebatan di tengah umat. Apalagi di tengah wabah saat ini, MUI tentu lebih bijak mempertimbangkan dampak mudarat dari apa yang dikerjakan.

baca juga: Pengelola Ekowisata di Amping Parak Pessel Masih Tutup Pelayanan Untuk Pengunjung Umum

"Oleh karena itu perlu kita pelajari bersama dan kita nukilkan kembali kutipan pendapat berkaitan dengan salat Jumat di suatu daerah boleh ditiadakan ketika terdapat masyaqqah (kondisi memberatkan)," terangnya.

Selain mengimbau meniadakan salat Jumat dan berjamaah untuk sementara, pihaknya juga mengajak para mubaligh dan jemaah di Pessel untuk tidak dulu mengadakan acara tabligh akbar dan lainnya, mengingat telah keluarnya Fatwa MUI Nomor: 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Wabah Covid-19.

"Jadi hal ini perlu untuk kita patuhi bersama, demi keselamatan dan kesehatan yang lebih baik. Diharapkan kepada para mubaligh dan jemaah di Pessel untuk membatalkan tabligh akbar yang telah terjadwal, termasuk juga pengajian yang menghimpun jemaah," tutupnya.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat mengumumkan, jumlah warga yang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan notifitikasi bertambah, Kamis 26 Maret 2020.

Berdasarkan data rilis Bagian Humas dan Protokoler Pesisir Selatan pukul 13.00 WIB, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) masih sama, 3 orang.

Sedangkan, Orang Dalam Pemantauan (ODP) dari sebelumnya 11 orang, kini menjadi 13 orang. Begitu orang notifikasi 147, kini menjadi 171 orang.

Sesuai data dari Pemprov Sumbar, satu pasien asal Pesisir Selatan telah dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19.

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Haswandi