Ditengah Pendemi COVID-19, Ribuan Buruh Rencana Geruduk Gedung DPR Tolak Omnibus Law

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF - Sekitar 50 ribu buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia ( KSPI ) berencana melakukan aksi unjuk rasa ke Kantor Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Gedung DPR RI pada 30 April 2020.

Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, mereka akan tetap turun aksi menolak RUU Omnibus Law Cipta Kerja meski di tengah pandemi virus corona baru atau COVID-19.

baca juga: Ahli Ungkap Konsumsi Jahe Bisa Bantu Perpanjang Usia

"Jika aspirasi ratusan ribu WA dan SMS tidak ditanggapi, maka tanggal 30 April ribuan buruh akan datang langsung untuk menyampaikan aspirasi," kata Said Iqbal dalam keterangannya, Kamis (9/4/2020).

KSPI , kata Said akan menolak untuk hadir jika DPR mengajak membahas omnibus law di pandemi corona . Sebab mereka lebih memilih fokus membela buruh yang di- PHK dan dirumahkan tanpa upah.

baca juga: Masjid di Tanah Datar Mulai Laksanakan Salat Jumat

"Tanggal 30 April, KSPI bersama buruh lainnya akan melakukan aksi unjuk rasa di DPR RI dan Kemenko Perekonomian. Aksi ini juga serentak akan dilakukan 20 provinsi di seluruh Indonesia, dengan resiko apapun," katanya.

Menurut KSPI , ada dua hal yang lebih penting didiskusikan DPR ketimbang membahas Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

baca juga: Positif Covid-19, BM Sempat Mengikuti Rapat di Kantor Bupati dan DPRD Solsel

Pertama, DPR bersama pemerintah fokus memikirkan cara yang efektif dan cepat untuk mengatasi penyebaran virus corona , salah satunya dengan meliburkan buruh dengan tetap membayar upah penuh, sebagai langkah physical distancing yang mengancam nyawa buruh .

"Kedua, DPR sebaiknya fokus memberikan masukan terhadap pemerintah dengan melakukan fungsi pengawasan dan legislasi terhadap ancaman PHK terhadap puluhan hingga ratusan buruh ," lanjutnya.

baca juga: Suara Kader Partai, Prabowo Bakal Kembali Jabat Ketum Gerindra

KSPI meminta pemerintah untuk memperbesar anggaran untuk memberikan insentif kepada rakyat kecil.

"Kalau tidak salah, dana yang dianggarkan Rp20 triliun. Itu masih kurang. Karena akan ada jutaan buruh yang di PHK dirumahkan dan upahnya tidak dibayar. Mereka harus mendapatkan insentif yang layak agar tetap memiliki daya beli," imbuh dia.

Sumber: Suara.com

Editor: Eko Fajri