Tujuh Tahun Terbaring Sakit, Pemuda Malang di Pessel Ini Butuh Uluran Tangan

Kondisi Darul Karar, Tujuh Tahun Sakit Belum Pernah Dibawa Berobat ke Rumah Sakit
Kondisi Darul Karar, Tujuh Tahun Sakit Belum Pernah Dibawa Berobat ke Rumah Sakit (Kiki Julnasri/Klikpositif.com)

PESSEL , KLIKPOSITIF --Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Ungkapan di atas sangat cocok jika melihat kondisi Darul Karar.

Pemuda yang berusia dua puluh tiga tahun tersebut, sudah tujuh tahun terbaring di tempat tidur, hingga kini belum pernah merasakan penanganan medis dari rumah sakit .

baca juga: Pasien Sembuh COVID di Pessel Bertambah Dua Orang, Total Jadi 15 Orang

Diketahui, Darul Karar merrupakan pemuda asal Kampung Langgai, Nagari Gantiang Mudiek Utara, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan -Sumatera Barat.

Ia terbaring sakit , semenjak umur 16 atau tahun 2015 silam setelah pinggulnya jatuh saat mengendarai sepeda motor. Saat itu, Darul Karar tengah membawa kayu bakar untuk kebutuhan di rumahnya. Malang, tulang pinggulnya terbentur dan begeser hingga membuat kesehatan fisiknya hingga kini terus memburuk.

baca juga: Hanyut di Bendungan Lesung Air, Seorang Remaja Pessel Ditemukan Meninggal


"Karena kondisi itu, hingga kini tulang pinggulnya tak kunjung sehat dan tubuh terus me-ngurus," ungkap ibu Darul Karar, Polisma Yarni (44) saat ditemui wartawan.

Pemuda yang akrab disapa Darul itu, saat ini hanya bisa terbaring lemas. Kekinian, bersama kedua orang tuanya, ia menumpang tinggal di rumah kerabatnya di Kampung Lampanjang, Nagari Rawang Gunung Malelo, Kecamatan Sutera.

baca juga: Lama di Rumah Akibat Pandemi, Guru di Pessel Kembali Bertugas ke Sekolah

Menumpang dengan tujuan, agar mudah menjangkau tempat pengobatan. Sebab, jarak kampungnya tinggal jauh terpelosok dari pusat kecamatan.

Untuk bangun dari pembaringan saat ini, Darul terlihat tidak kuat. Sebab, ketika dibawa duduk ia tampak seperti menahan perih, dengan sesekali menghela nafas panjang.

baca juga: 42 Hasil Tes Warga di Pessel Dinyatakan Negatif, 38 Orang Masih Menunggu


"Tidak bisa dibawa duduk lama bang. Sakit ," ucap Darul lirih.

Menurut Polisma Yarni, ia bersama suaminya sampai saat ini hanya bisa membawa Darul berobat ke tukang urut. Sebab, katanya, untuk ke rumah sakit , mereka belum memiliki kartu BPJS .

"Kalau tak pakai BPJS kata orang mahal, sedangkan untuk mendaftar BPJS saja hingga kini kami tidak memiliki cukup uang," terangnya.

Tidak bisa mendaftar BPJS secara mandiri mereka cukup punya alasan, karena sekeluarga tercatat sebanyak 10 orang. Apalagi, hidupnya hanya tampak pas-pasan.

"Belum lagi untuk makan, mana lagi buat membayar bulanan BPJS ," jelasnya.

"Jadi, sampai saat ini kami hanya bisa berdoa dan berusaha mebawa Darul ke tukang urut," terangnya.

Sementara salah seorang kerabat dari orang tuanya, Dodianto (42) membenarkan kondisi yang dialami keluarga Darul. Apalagi, setelah tinggal menumpang di rumah salah satu kerabatnya di Kampung Lampangjang.

Katanya, kondisi keluarga kurang mampu ini semestinya sudah harus mendapat bantuan pemerintah. Namun, karena luput dari perhatian, hingga menjadi terabaikan.

"Seharusnya, harus dapat bantuan. Karena melihat kehidupan di sini (Lampanjang) mereka cukup kekurangan. Apalagi, kedua orang tuanya menggantung hidup dengan bertani," ujarnya.

Selaku kerabat yang cukup prihatin, ia berharap pemerintah bisa segera membantu. Sebab, Darul sebagai warga kurang mampu berhak medapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah.

"Kalau bisa pemerintah langsung melihat dan membawanya berobat. Karena tanpa itu, Darul tidak akan kunjung sembuh. Sebab upaya saat ini, orang tuanya hanya bisa berobat melalui tukang urut dan obat tradisional," tutupnya.

Catatan Redaksi: Melihat kondisi Darul Karar saat ini, tentu sangat membuat kita merasa prihatin. Apalagi dengan kondisi ekonominya orang tuanya yang terbilang kurang mampu. Jadi, bagi yang ingin mengetahui langsung bisa menghubungi melalui nomor ini, 0852-6351-4657 (Dodianto) dan 0852-7420-2380 (Robi Hermanto).

Penulis: Kiki Julnasri | Editor: Muhammad Haikal