MUI Sumbar Membolehkan Salat Idulfitri Berjemaah, Ini Syaratnya

Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar
Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) mengeluarkan maklumat yang isinya membolehkan pelaksanaan Salat Idulfitri bagi daerah terkendali. Terkendali di maksud belum ada kasus positif di daerah tersebut atau istilah pemerintah zona hijau.

Sebaliknya, bagi daerah yang tidak terkendali (zona merah), MUI Sumbar menghimbau tidak ditunaikan Salat Idulfitri di lapangan atau di masjid.

baca juga: Update COVID-19 Sumbar per 2 Juni, Berikut Rincian 7 Penambahan Positif dan 5 Sembuh

"Kalau ingin juga Salat Idulfitri , harus melakukan prosesur ketat dan ada jaminan dan pengawalan dari pemerintah," ujar Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar , Rabu, 20 Mei 2020.

Menurutnya, pemerintah berkewajiban memfasilitasi umat beribadah. Namun, harus ada pengawalan yang ketat bagi masyarakat dalam penyelenggaraan Salat Idulfitri sehingga umat terlindungi dari berbagai kemungkinan penularan COVID-19.

baca juga: Kabar Baik, Satu Lagi Pasien Asal Lima Puluh Kota Sembuh COVID-19

" Jangan sampai pula kegiatan Salat Idulfitri dituduh sebagai kambing hitam penularan virus," katanya.

Pengamanan dan pengawasan bisa dilakukan dengan ketat dalam berbagai bentuk dengan disiapkannya oleh pemerintah daerah seperti penerapan prosedur COVID-19 dan konsistensi untuk kedisiplinan, yang harus sesuai dengan protokol kesehatan.

baca juga: Legislator: Standar Protokol Covid-19 harus diaplikasikan dalam Pilkada Serentak 2020

"Saya berharap dalam pelaksanaan nantinya pemerintah betul-betul memfasilitasi umat sesuai protokol kesehatan dengan penyediaan hand sanitizer yang halal (tidak menggunakan alkohol) atau yang tidak membatalkan wuduk paling tidak, menggunakan sabun cuci tangan," imbaunya.

Kemudian jangan terlalu banyak kerumunan. Tempat ibadah yang selama ini disatukan, mungkin saat ini bisa diklasterisasi, dibuat di beberapa tempat sehingga tidak rumit untuk mengawasi dan mengawal masyarakat demi menghindari kerumunan.

baca juga: Anggota DPR Minta Pemerintah Klarifikasi Penggunaan 'Klorokuin'

"Ini sudah menjadi keputusan MUI Sumbar, kita tidak mengeluarkan Maklumat baru tetapi mengeluarkan bayyan (penjelasan) dari maklumat No. 001 MUI Sumbar sebagai penjelasan dari Maklumat 007 karena masih relevan dan masih sesuai dengan kondisi perkembangan Sumbar saat ini," terangnya.

Dijelaskannya, MUI tidak mengistilahkan zona merah dan zona hijau tapi terkendali atau tidak terkendali. Karena itu, tidak tertutup kemungkinan banyak wilayah di Sumbar yang bisa menyelenggarakan shalat Ied, karena memang ada lokasi-lokasi yang tidak ada warga terjangkit atau notabene tidak ada orang luar yang masuk ke daerah tersebut dan di daerah tersebut memang tidak ada Orang dalam Pemantauan (ODP).

"Seandainya suatu Nagari ingin melaksanakan shalat Ied, terlebih dahulu dalam Nagari tersebut memiliki kesepakatan agar jangan sampai ada jamaah dari luar yang bergabung karena risikonya sangat tinggi, bisa jadi yang bersangkutan berasal dari daerah wabah," sebut Buya Gusrizal.

Termasuk berkoordinasi dengan pihak berwenang di daerah tersebut. Jika Gugus Tugas setempat menilai lokasi itu aman, dan dikoordinasikan juga dengan MUI daerah setempat, maka penyelenggaraan Salat Idulfitri bisa dilakukan.

Terkait pelaksanaan Salat Idulfitri MUI Sumbar mengimbau agar masyarakat mulai saat ini sudah mulai meningkatkan kewaspadaan didaerahnya, agar pelaksaan shalat Ied bisa terselenggara tanpa ada wabah di nagari tersebut. (*)

Editor: Joni Abdul Kasir