Kasus Corona di Brazil Meningkat, WHO Sebut Amerika Selatan Jadi Episentrum Baru

ilustrasi
ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF - Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) mengatakan Amerika Selatan menjadi pusat baru Covid-19. Kondisi ini terjadi setelah meningkatnya jumlah kasus positif corona di Brazil.

Dilansir dari CNBC, WHO juga melihat adanya kenaikan jumlah kasus infeksi Covid-19 di sebagian besar negara-negara di Amerika Selatan. "Kami melihat banyak negara di Amerika Serikat mengalami peningkatan sebaran kasus, tetapi yang paling terdampak saat ini adalah Brazil," ujar direktur eksekutif program darurat WHO , Mike Ryan.

Ryan menjelaskan dalam artian tertentu, Amerika Selatan telah menjadi episentrum baru untuk penyakit ini. Berdasarkan data dari WHO , Brazil memiliki lebih banyak kasus infeksi dibandingkan dengan negara-negara lain di Amerika Selatan. Sejauh ini total kasus mendekati 300 ribu dengan 19 ribu kematian.

baca juga: Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Malaysia Hampir 82 Persen

Sebaran kasus di Brazil sebagian besar berada di wilayah Sao Paulo, kemudian disusul oleh Rio de Janeiro, Ceara, Amazonas, dan Pernambuco. Sementara, Amazonas disebutkan menjadi wilayah dengan attack rates tertinggi.

"Sekitar 490 orang terinfeksi per 100 ribu populasi (Amazonas), ini merupakan attack rate yang cukup tinggi," jelasnya.

WHO juga menyorot keputusan Brazil untuk menggunakan hidrosiklorokuin sebagai obat Covid-19, meski penelitian menyebut obat ini belum terbukti ampuh dan berisiko untuk menyembuhkan pasien virus corona.

baca juga: Studi Terbaru: Jaga Jarak 2 Meter Tekan Resiko Penularan Covid-19 Hingga 1,3 Persen

"Bukti klinis saat ini tidak mendukung penggunaan secara luas hidrosiklorokuin untuk pengobatan Covid-19, setidaknya sampai uji coba selesai dan kami memiliki hasil yang lebih jelas," katanya.Maret lalu, WHO menyatakan episentrum Covid-19 berpindah dari China ke Eropa. Berdasarkan data dari Worldometers, Covid-19 sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 5,3 juta orang di seluruh dunia dan menyebabkan lebih dari 340 ribu kematian.

Editor: Ramadhani