Khairul Fahmi: Teror Terhadap Novel Tindakan Menghalangi Proses Hukum

Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas (Unand), Khairul Fahmi
Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas (Unand), Khairul Fahmi (Ist)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas (Unand), Khairul Fahmi, mengatakan, tindakan teror yang dialami oleh penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Bawesdan, merupakan bentuk tindakan dengan tujuan menghalanghi proses hukum yang sedang diselidiki oleh pihak terkait.

"Tindakan penyiraman air keras pada novel merupakan tindakan biadab dan pengecut," kata Fakmi, di Padang, Selasa (11/4).

baca juga: Ditanya Deddy Corbuzier Kemungkinan Maju di Pilpres 2024, Prabowo: Lu Ngomong Presiden Melulu

Ia menambahkan, tindakan teror itu tidak dapat dilepaskan dari peran Novel yang sedang menyidik kasus-kasu korupsi besar. Teror itu sesungguhkan bukan saja untuk novel tapi teror terhadap proses pemberantasan korupsi yg dilakukan KPK.

Sebab itu, pengamat hukum tersebut mengharapkan pihak kepolisian untuk dapat mengungkap kasus ini hingga tuntas, sebab merupakan bagian dari tindakan menghalangi proses penagakan hukum yang sedang berjalan (obstruction of justice) dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

baca juga: Aktivis Papua Sebut Hanya 2 Tokoh Ini yang Kompeten Maju Sebagai Capres 2024

"Tergetnya memang untuk itu. Institusi KPK baik pimpinan dan seluruh jajaran harus kuat dengan segala teror seperti ini. Jangan biarkan penegakan hukum kalah oleh oknum "preman-preman" yang ada dibelakang hal kejadian seperti ini. KPK harus tetap menyelesaikan semua kasus-kasus korupsi tanpa pandang bulu," tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Novel Baswedan di siram air keras usai melaksanakan salat subuh di Masjid Al Iksan dekat kediamannya, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (11/4) pagi.

baca juga: AHY Mau Jadi Capres di Pilpres 2024, Lembaga Survei Nilai Mustahil Terwujud

Akibat penyiraman itu, Novel Baswedan harus dirawat intensif di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Teror seperti ini juga bukan kasus pertama yang dialami penyidik KPK tersebut, sebelumya dari berbagai sumber, juga diketahui Novel telah dua kali diburu dengan cara tabrak lari. Kasus pertama menimbulkan luka pada tubuhnya, dan yang kedua salah sasaran.

baca juga: Risnawanto Sudah Pikirkan Pemilu 2024, Siap Maju Sebagai Kepala Daerah di Pasbar

Ketua Tim Penyidik Mega Korupsi eKTP ini juga pernah dipidanakan atas kasus meninggalnya tahanan tahun 2004 saat dia menjadi penyidik di Bengkulu. (*)

Penulis: Eko Fajri