Warga Lampung Ini Keliling Indonesia Kampanyekan Hemat Energi

Egi Suryana, warga Sinapaga, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, Povinsi Lampung melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda Ontel
Egi Suryana, warga Sinapaga, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, Povinsi Lampung melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda Ontel (Humas SP)

PADANG, KLIKPOSITIF - Egi Suryana, warga Sinapaga, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Mesuji, Povinsi Lampung melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda Ontel. Hal itu dilakukan untuk kampanye hemat energi dan menghidupkan lagi budaya bersepeda. "Saya mengelilingi Indonesia dengan sepeda untuk mengkampanyekan soal hemat energi, hidup sehat dan membudayakan masyarakat dan generasi muda menggunakan sepeda agar memberikan," ungkapnya saat mengunjungi Radio Classy FM, Kamis, 20 April 2017.

Dikatakannya, saat ini generasi muda dan masyarakat lebih suka dengan hal-hal yang bersifat instan. "Misalnya untuk ke warung atau menempuh jarak yang dekat, menggunakan kendaraan, padahal itu bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda sehingga lebih hemat energi dan sehat," ujarnya.

baca juga: Mengenal Djunaidy Abdillah, Legenda Sepakbola Indonesia di Era 60-an

Dalam kampanye yang dilakukan ini, Egi memulai perjalanan pada 22 Maret 2017. Dari Lampung, Ia masuk ke Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Jambi, Kabupaten Dhamasraya, Kabupaten Sijunjung, Kota Sawahlunto, dan Kota dan Kabupaten Solok. Saat memasuki suatu daerah, ia akan mampir ke SMP atau SMA yang ada di daerah itu untuk menyampaikan misinya. "Di setiap daerah saya akan mampir di satu atau dua sekolah untuk menyampaikan misi soal kampanye hemat energi, hidup sehat, dan membudayakan penggunaan sepeda," ungkap lelaki yang berprofesi sebagai petani kebun karet dan sawit ini.

Selama kunjungan ke SMP atau SMA yang ada di daerah, Egi mendapat sambutan positif dari. "Palingan dari mereka banyak yang nanya, "Apa nggak capek Pak, keliling Indonesia pakai sepeda. Ontel lagi?" ungkapnya sambil tertawa. Selain itu, setiap mampir di suatu daerah atau instansi, Egi selalu berupaya mengumpulkan bukti otentik, seperti stempel atau tandatangan sehingga jika ada yang bertanya soal perjalanannya, ia bisa membuktikan perkataannya dengan bukti yang ada.

baca juga: Gara-gara Susi Pudjiastuti, Legenda Tinju Mike Tyson Tertarik Untuk Datang ke Indonesia

Selama perjalanan hingga sampai di Padang, ia banyak mendapat simpati dari orang-orang yang ditemuinya. "Tidak sedikit dari mereka yang simpati dengan perjalanan saya ini. Sedang jalan, tiba-tiba ada mobil berhenti dan ngasih minum atau bekal makanan. Hal ini mungkin karena melihat kondisi sepeda saya yang sudah sangat jarang ada di tengah masyarakat saat ini. Kalau untuk finansial, saya hanya bermodalkan Rp 70 ribu melakukan perjalanan ini,"ujarnya.

Dalam sehari, ia melakukan perjalanan selama 60 km. Ia tidak memaksakan perjalanannya untuk bisa mencapai suatu daerah karena disadarinya perjalanan panjang untuk keliling Indonesia memerlukan stamina yang kuat. "Jika ada hujan, maka saya akan berhenti terlebih dahulu. Saya tidak memaksakan diri karena perjalanan ini akan berlangsung selama 1,5 tahun dalam perencanaan saya. Sedangkan untuk makan, saya tetap makan tiga kali sehari dan menjaga pola makan dengan tidak memakan sembarang makanan. Sedangkan untuk perjalanan siang hari, saya lebih banyak mengkonsumsi air putih. Sedangkan untuk mencapai satu daearah dengan daerah lainnya, saya menghabiskan waktu satu hingga dua hari," ujarnya.

baca juga: Indonesia akan Bangun Kantor Layanan Haji dan Umrah di Arab Saudi

Untuk penginapan, Egi memilih tidur di rumah makan yang buka selama 24 jam atau di tempat pengisian minyak (Pertamina) dan juga masjid. Dalam perjalanan mengelilingi Indonesia , Egi membawa perlengkapan untuk dirinya dan sepeda. "Sedangkan untuk gangguan keamanan, sejauh ini saya masih aman dalam melakukan perjalanan," ujarnya.

Perjalanan di Sumatera Barat hingga saat ini menjadi perjalanan yang paling berkesan bagi dirinya karena banyak tanjakan. "Jika ada tanjakan, maka saya harus turun dan dorong sepeda karena kondisi sepeda yang tidak memungkinkan untuk hal itu. Sedangkan untuk perjalanan dari Solok ke Padang, jalan di daerah Sitijau Lauik menjadi perjalanan paling berkesan bagi Egi karena medan jalan yang sangat luar biasa. Saya harus turun dari terutama di daerah Panorama satu. Dan itu benar-benar membuat saya harus ekstra hari-hati," tutur lelaki satu anak ini.

baca juga: Penyair Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia

Perjalanan ini tidaklah memberatkan karena rasa percaya diri yang dimilikinya. "Dimanapun kita berjalan, akan ada orang baik yang akan membantu kita. Dan perjalanan saya ini bukanlah perjalanan yang bergantung pada orang lain. Yang terpenting misi dan visi saya tercapai," katanya. Setelah perjalanan keliling Indonesia , Ia akan membuat catatan kecil tentang perjalanan sehingga orang-orang bisa mengambil hikmah positif dari perjalanan ini. Selama perjalanannya, Egi juga memposting semua kegiatannya di media sosial. "Sejauh ini respon masyarakat positif terhadap perjalanan saya," ujarnya.

Diakuinya, dalam perjalanan ini, daerah yang paling tidak sabar untuk dikunjungi yakni 0 km Sabang. "Karena dari cerita-cerita yang saya dengar, Aceh sangat rawan dengan masalah keamanan. Selain itu, saat memasuki suatu daerah, saya mencoba mengenal dengan baik karakter dari daerah itu sendiri," ujarnya.

Ia berharap dengan perjalanannya, misi dan visinya untuk kampanye soal hemat energi bisa tersampaikan kepada masyarakat luas. "Karena selama ini saya melihat, kehidupan kita sudah sangat instan sehingga sangat rentan dengan yang namanya penyakit. Hendaknya kita menjaga kesehatan dengan melakukan pola hidup sehat, salah satunya dengan bersepeda. Karena manfaatnya sangat banyak, misalnya terhindar dari penyakit pernapasan, memperkuat otot, dan kerangka," ujarnya.

Setelah dari Padang, Egi akan melanjutkan perjalanannya ke Kota Padang Panjang, Kota Bukittinggi, Kabupaten Tanah Datar Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota hingga berlanjut ke Kota Pekanbaru.

Penulis: Fitria Marlina