BNPB: Penanganan Bencana Urusan Semua Pihak

Ilustrasi
Ilustrasi (KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB ) mengatakan, semua orang mempunyai risiko terhadap potensi bencana , sehingga penanganan bencana merupakan urusan semua pihak, sebab itu perlu dilakukan berbagi peran dan tanggung jawab (Shared responsibility) dalam peningkatan kesiapsiagaan disemua tingkatan baik untuk anak, remaja, dan dewasa.

"Seperti yang telah dilakukan di Jepang, untuk menumbuhkan kesadaran kesiapsiagaan bencana, semua pihak harus terlibat dalam penanganan bencana," kata Kepala BNPB , H.E Willem Rampangilei, melalui rilis BNPB .

baca juga: Termasuk Sumbar, Ini 5 Provinsi yang Melaksanakan Seleksi CPNS Kemenag Hari Ini

Willen menambahkan, sehingga upaya pengurangan risiko bencana perlu dilakukan melalui latihan kesiapsiagaan, mitigasi struktural dan non struktural harus diperhitungkan sebagai investasi untuk keberlanjutan usaha dan pembangunan.

Willem menjelaskan, terkait tren bencana kedepan terus cenderung meningkat, diantaranya 92 persen adalah bencana hidrometeorologi. Peningkatan bencana disebabkan oleh faktor alam dan antropogenik. Faktor alam meliputi dampak perubahan iklim global dimana frekuensi hujan ekstrim makin meningkat dan kerentanan lingkungan. Sedangkan, pengaruh antropogenik meliputi tingginya degradasi lingkungan, permukiman di daerah rawan bencana, DAS kritis, urbanisasi, dan lainnya.

"Selain dapat kita ketahui rekapitulasi kejadian dan dampak bencana tahun 2016 dimana terjadi 2,384 bencana yang mengakibatkan 521 jiwa meninggal dunia dan hilang, 3,164 juta jiwa menderita dan mengungsi" jelasnya.

Kerusakan dan kerugian akibat bencana tertinggi masih didominasi oleh gempa bumi dan diikuti oleh bencana banjir dengan rata-rata kerugian setiap tahun akibat bencana sekitar Rp30 trilyun rupiah.

Berdasarkan hasil kajian risiko bencana tahun 2015 yang disusun oleh BNPB , potensi jumlah jiwa terpapar risiko bencana, jumlah kerugian fisik, ekonomi, dan lingkungan, berkategori sedang-tinggi yang tersebar di 34 provinsi, per jenis ancaman bencana diantarannya, lima jenis bencana jiwa terpapar tertinggi adalah puting Beliung sebanyak 244 juta jiwa, diikuti dengan kekeringan sebanyak 228 juta jiwa, dan banjir sebanyak 100 juta jiwa, lalu gempa bumi sebanyak 86 juta jiwa, dan bencana tanah longsor sebesar 14 juta jiwa. Sedangkan untuk potensi kerugian fisik tertinggi untuk ancaman gempa bumi sebesar 467 miliar, dan banjir sebesar 176 miliar, tanah longsor sebesar 78 miliar.

Seterusnya untuk potensi dampak ekonomi tertinggi adalah kekeringan sebesar 192 miliar, diikuti dengan bencana gempa bumi sebesar 182 miliar, dan bencana banjir sebesar 140 miliar.

Selain itu, untuk potensi dampak lingkungan tertinggi adalah ancaman bencana kekeringan 63 ribu hektar, diikuti oleh bencana kebakaran hutan dan lahan 42 ribu hektar, dan tanah longsor sebesar 42 ribu hektar

Sementara itu menurut hasil penelitian dan survey di Jepang, Great Hansin Earthquake 1995, korban bencana yang dapat selamat dalam durasi “golden times” disebabkan oleh kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35 persen, Dukungan anggota keluargasebesar 31,9 persen, Dukungan teman/tetangga sebesar 28, persen, Dukungan orang disekitarnya sebesar 2,60 persen, Dukungan Tim SAR sebesar 1,70 persen dan Lain-lain sebesar 0,90 persen.

“Sangatlah jelas bahwa berdasarkan hasil kajian tersebut, maka individu dan masyarakat merupakan kunci utama yang perlu terus ditingkatkan,” ujar Willem.

baca juga: Sampuran Rajo Panjang, Wisata Alam yang Baru Ditemukan di Situak Pasaman Barat

Atas dasar beberapa kajian dan refrensi hasil survei tersebut, BNPB mendorong masyarakat untuk mampu mengelola ancaman dari bencana yang kerap/berpotensi terjadi di lingkungannya. Masyarakat wajib tahu dan paham apa yang dilakukan saat gempa bumi, kebakaran gedung, tsunami, banjir bandang, tanah longsor atau letusan gunung api terjadi di lokasi mereka berada.

Sebab itu, BNPB menjadikan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana dengantujuan untuk membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana. (*)

baca juga: Ada Gelandang Muda Semen Padang FC Saat Timnas U-23 Kalahkan Tajikistan 2-1

Penulis: Eko Fajri