Mesjid Siguntur, Saksi Perkembangan Islam di Dharmasraya

Mesjid Siguntur
Mesjid Siguntur (Cecep/Klikpositif)

DHARMASRAYA , KLIKPOSITIF -- Menjadi salah satu saksi perkembangan Islam di Dharmasraya , Masjid Tua Siguntur yang berdiri pada abad ke 15, hingga kini masih eksis digunakan umat Muslim di Kabupaten Dharmasraya , khususnya keturunan kerajaan Siguntur, atau yang biasa disebut Kerajaan Siguntua.

Masjid Tua Siguntur berada di pinggir Sungai Batang hari, yakni di Jorong Siguntur ll, Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung. Di samping masjid terdapat pemakaman raja-raja Siguntur, dan di depannya juga berdiri Rumah Gadang Raja Siguntur. Ketiganya sudah ditetapkan pemerintah sebagai sebuah cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

baca juga: Masuk Nominasi API 2020, Begini Pesona Kampung Wisata Sarugo di Koto Tinggi Lima Puluh Kota

Untuk menuju masjid pada era kerajaan yang dijabat oleh Raja Sutan Abdul Jalil ini, pengunjung cukup menempuh sekitar 20 menit perjalanan dari pusat kota Dharmasraya , yakni ke kiri masuk melalui simpang empat Sikabau.

Dari arsitektur bangunan, tampak jelas masjid tersebut sudah berusia tua. Salah satunya adalah atap masjid dengan model limas susun tiga berundak undak atau bertingkat-tingkat tingkat. Dipuncak atap terdapat ukiran lafaz Allah SWT.

baca juga: Objek Wisata Jembatan Pelangi di Pariaman Diresmikan, Tiket Cuma Rp2.000

Masjid memiliki 10 buah jendela dengan satu pintu masuk berada di posisi depan. Masuk ke dalam masjid , terlihat 17 buah tiang yang terbuat dari kayu. Konon, 17 difilosofikan sebagai banyaknya rakaat Shalat 5 waktu sehari semalam.

Salah seorang keturunan kerajaan Siguntur, Putri Marhasnida mengisahkan, Masjid Tua Siguntur didirikan setelah Islam masuk ke Dharmasraya , yang mana sebelumnya para masyarakat menganut ajaran Hindu Budha.

baca juga: 32 Personel Polisi Resor Pasbar Naik Pangkat

"Sengaja didirikan menyeberangi Sungai Batang Hari. Di seberangnya merupakan komplek ajaran Hindu Budha. Yang kini ditandai dengan komplek percandian. Ada Candi Pulau Sawah dan Padang Roco," ungkap Putri Marhasnida, yang dalam keturunan kerajaan biasa disapa Tuan Acik ini kepada KLIKPOSITIF .

Dia berkisah, masjid sempat tidak digunakan lagi untuk beribadah, karena memang kondisi yang tidak dapat dimasuki lagi, seperti lantai dan tiang tiang yang sudah lapuk. Seiring berjalan waktu, masjid dilakukan pemugaran. Kini, masjid kembali dapat difungsikan.

baca juga: Polisi Pasbar Blender 64,61 Gram Sabu

Pemugaran pertama dilakukan pada tahun 1957, yakni dengan penggantian sebagian tiang kayu. Kemudian lantai yang sebelumnya terbuat dari papan yang ditukar menjadi coran semen. Selanjutnya juga merenovasi dinding-dinding yang telah keropos dimakan usia. Pemugaran masjid kembali dilakukan pada tahun 1991, untuk penggantian atap yang sudah tidak layak pakai.

"Dulu ada tangga menuju atas atap. Gunanya untuk tempat orang azan," kisahnya.

Kini, masjid terus digunakan, apalagi dalam momen Bulan Suci Ramadan . Selain siang digunakan untuk pengajian wirid, pada malam hari juga digunakan untuk Shalat Tarawih berjamaah.

"Di masjid kami juga menyelenggarakan Shalat 40. Kalau Tarawih, kami memakai rakaat 23," tutupnya.

[Cecep]

Penulis: Rezka Delpiera