Hari Ini PT Semen Padang Genap Berusia 106 Tahun

Jajaran Direksi Semen Padang berfoto bersama usai upacara HUT ke-106 di pelantaran parkir kantor pusat Semen Padang
Jajaran Direksi Semen Padang berfoto bersama usai upacara HUT ke-106 di pelantaran parkir kantor pusat Semen Padang (Klikpositif)

KLIKPOSITIF - PT Semen Padang sebagai sebuah entitas bisnis membanggakan bagi Sumbar , kini genap berusia 106 tahun. Perayaan milad lebih dari satu abat itu, ditandai dengan upacara yang dipimpin langsung oleh Benny Wendry, dirut perusahaan semen tertua di Indonesia ini. 

Usai upacara yang digelar di pelantaran parkir kantor pusat PT Semen Padang itu, Benny Wendry mengatakan bahwa tahun ini akan menjadi sejarah bagi Semen Padang, karena diakhir tahun ini pabrik Indarung VI, siap dioperasikan dan angka produksi tentu akan meningkat dari 7,4 juta ton menjadi 10,4 juta ton. 

baca juga: Putus Mata Rantai Covid-19, Bupati Solsel: Satu Bulan Kedepan Vaksin Harus Tuntas

"Saat ini pengerjaan pabrik Indarung VI sudah 85 persen. Pada September nanti, kami sudah bisa melakukan uji coba pabrik baru tersebut," kata Benny kepada KLIKPOSITIF saat ditemui usai Upacara HUT ke-106 PT Semen Padang. 

Selain dioperasikannya pabrik Indarung VI, lanjutnya, di tahun ini Semen Padang juga menargetkan angka penjualan 7,6 juta ton. Angka ini naik 0,4 persen dibandingkan tahun lalu. 

baca juga: Wawako Payakumbuh Motivasi Atlet Kempo Sumbar Jelang Tampil di PON

Ia berharap meski persaingan industri semen semakin meningkat, namun ia optimis target itu bisa tercapai mengingat tahun ini, pembangunan insfrastruktur seperti jalan tol kian pesat, seperti Tol Sumatera. 

"Kami akan melakukan berbagai terobosan agar target itu tercapai. Di antaranya dari sisi kualitas, sehingga perusahaan-perushaan kontruksi yang ada di pangsa pasar Semen Padang seperti Sumatera, DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat menggunakan Semen Padang. Di samping itu, Kami juga terus memperkuat divisi pemasaran dan distribusi," ujarnya. 

baca juga: Dinkes Solsel Sebut Vaksin Diperlukan untuk Membentuk Kekebalan Kelompok Terhadap Virus Covid-19

Untuk ekspor, Benny mengatakan bahwa Semen Padang sudah mendistribusikan semennya ke Srilangka, Banglades dan Myanmar dengan angka penjualan mencapai 6500 ton/tahun. "Kami akan terus kembangkan pangsa pasar Semen Padang keberbagai negara lainnya di Asia," bebernya. 
 
Sejarah Semen Padang

PT Semen Padang merupakan peninggalan sejarah Hindia Belanda. Pendirian semen yang beroperasi di Indarung itu berawal dari penemuan batu-batu menarik oleh seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman bernama Carl Christophus Lau pada 1906.

baca juga: Musdalub HapKido Sumbar, Risnaldi Ibrahim Terpilih Jadi Ketua Umum Secara Aklamasi

Carl Christophus Lau kemudian mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk pendirian pabrik semen di Indarung . Tujuh bulan kemudian, permohonannya itu disetujui sehingga pada 18 Maret 1910, Christophus Lau menggandeng sejumlah perusahaan untuk bermitra, yakni Firma Gebroeders Veth, Fa.Dunlop dan Fa.Varman & Soon.

Bersama mitranya itu, ia mendirikan pabrik yang bernama NV Nederlmidschhidische Portland Cement Maatschappij (NY NIPCM) dengan akta notaris Johannes Pieder Smidth di Amsterdam.

Kehadiran NY NIPCM ini kemudian menjadi tonggak sejarah berdirinya industri semen di Indonesia, karena merupakan industri besar pertama di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Perusahaan ini kemudian terdaftar di bawah Departemen Pertanian, Industri dan Perdagangan di Hindia Belanda dengan dasar legalitas “Koninklijke Bewilliging”, pada 8 April 1910, No 20. 

Pada tahun 1911, pabrik ini selesai dibangun dengan kapasitas produksi 76,5 ton sehari. Untuk sumber energi listrik yang digunakan untuk mengoperasikan pabrik ini, berasal dari pembangkit listrik Rasak Bungo yang memanfaatkan air Sungai Lubuk Paraku.

Sementara bahan bakar pabrik, menggunakan batubara Ombilin. Batu bara didatangkan dengan kereta api dari Sawahlunto ke Bukit Putus, tak jauh dai Teluk Bayur. 

Dalam perjalanannya, pabrik ini terus mengalami perkembangan. Setahun setelah beroperasi, NY NIPCM kemudian membangun klin kedua dengan kapasitas yang sama dengan klin pertama dan menjelang perang dunia II, tepatnya pada 1939, pabrik ini mampu produksi 170.000 ton setahun. Angka ini merupakan produksi tertinggi di kala itu, karena pabrik ini memiliki kapasitas terpasang 210.000 ton.

Setelah Jepang memenangkan perang dunia II dan berhasil menekuk sekutu, negeri berjuluk ”matahari terbit” itu kemudian mengambil alih penguasaan pabrik dari tangan Belanda dan manajemen perusahaan semen ditangani Asano Cement Jepang. 

Semua produksi pabrik ini digunakan untuk mendukung aktivitas militer Jepang. Penguasaan Jepang terhadap pabrik ini hanya bertahan lebih kurang dua dua tahun (1942-1944) karena pabrik semen ini dibom tentara sekutu dan mengalami kerusakan parah. 

Setelah zaman kemerdekaan, pabrik Semen Padang mengalami kondisi gonjang-ganjing. Pabrik ini kemudian diambil alih karyawan dan selanjutnya diserahkan kepada Pemerintah Indonesia pada tahun 1947.

Pada agresi Belanda 1947-1949, pabrik ini relatif tidak berfungsi. Belanda kemudian kembali menguasai alih pabrik dan pengelolaannya diserahkan pada perusahaan yang sebelumnya menangani pabrik ini.

Pada masa itu, meski Indonesia sudah memperoleh kemerdekaan, namun pabrik Semen Padang yang berganti nama menjadi NV Padang Portland Cement Maatshappi (PPCM) itu tetap berada di bawah pengelolaan Belanda.

Kemudian pada tanggal 5 Juli 1958, perusahaan dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia dari Pemerintah Belanda. Oleh pemerintah, pengelolaan pabrik kemudian dipercayakan kepada Badan Penyelenggara Perusahaan-perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) no. 23 Tahun 1958, pada 26 Februari 1958.

BAPPIT sendiri bernaung di bawah kementerian Perindustrian. Ketika itu, J Sadiman ditunjuk sebagai direktur utama. Pergulatan politik dalam negeri juga mempengaruhi perjalanan sejarah Semen Padang. Produksi perusahaan ini sempat terganggu ketika terjadi pergolakan PRRI. Imbasnya, di akhir 1960-an itu, pabrik ini nyaris dilego menjadi besi tua.

Upaya melego itu akhirnya digagalkan oleh Harun Zain. Gubernur Sumbar ketiga itu menyelamatkan pabrik tersebut dengan meminta pemerintah pusat agar memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mencarikan jalan keluar.

Harun Zain kemudian meminta kepada Ir.Azwar Anas memimpin pabrik. Azwar sukses melakukan revitalisasi pabrik, sehingga pabrik ini bisa kembali ”survive” dan kapasitas pabrik Indarung I menjadi 330.000 ton/tahun. 

Selanjutnya, pabrik melakukan transformasi pengembangan kapasitas pabrik dari teknologi proses basah menjadi proses kering dengan dibangunnya pabrik Indarung II, III, dan IV. 

Berdasarkan PP No 135 tahun 1961, perusahaan itu berubah menjadi Perusahaan Negara Semen Padang. Lalu pada 1971, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7, status Semen Padang ditetapkan menjadi PT Persero dengan akta notaris No.5 tanggal 4 Juli 1972.

Kemudian, berdasarkan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No.5-326/MK.016/1995, pemerintah melakukan konsolidasi atas tiga pabrik semen milik pemerintah yaitu, PT Semen Tonasa (PT ST), PT Semen Padang (PT SP) dan PT Semen Gresik yang terealisir pada 15 September 1995. 

Ketiga perusahaan itu berada dalam holding PT Semen Gresik (Persero) Tbk. Sejak 7 Januari 2013, PT Semen Gresik (Persero) Tbk berubah nama menjadi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta pada 20 Desember 2012. 

Pada saat ini, pemegang saham perusahaan adalah PT Semen Gresik (Persero)Tbk dengan kepemilikan saham sebesar 99,99% dan Koperasi Keluarga Besar Semen Padang dengan saham sebesar 0,01 %. 

PT Semen Gresik (Persero) Tbk sendiri sahamnya dimiliki mayoritas oleh Pemerintah Republik Indonesia sebesar 51,01%. Pemegang saham lainnya sebesar 48,09% dimiliki publik. PT Semen Gresik (Persero) Tbk. merupakan perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Kini, PT Semen Padang bersama PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement Company Vietnam resmi menjadi bagian dari PT Semen Indonesia, perusahaan semen terbesar di Indonesia (*)

Penulis: Super Administrator