Perhatian Serius Kemenlu pada Diplomasi Siber, Ini Tujuannya

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

KLIKPOSITIF -- Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (P3K) Multilateral Kementerian Luar Negeri sejak awal tahun 2017 melakukan penyusunan policy paper yang disebut Kajian Mandiri, mengenai cyber diplomacy (diplomasi siber).

Policy paper ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan bagi pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, khususnya Pimpinan Kemlu, mengenai strategi diplomasi siber Indonesia.

baca juga: Bupati Terpilih Pasbar Gunakan Mobil Dinas Mantan Bupati Periode 2010-2015, Alasannya Patut Dicontoh

"Kemlu ingin memberikan sumbangsih gagasan dalam pendefinisian posisi dan strategi diplomasi siber Indonesia yang dapat meningkatkan peran internasional Indonesia dalam konstelasi siber global maupun dalam melindungi kepentingan nasional ," ujar Siswo Pramono, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu, dilansir dari laman Kemenlu , Kamis (31/8).

Andi Widjajanto menjelaskan bahwa pertumbuhan pesat Indonesia menuju ekonomi digital harus dibarengi dengan upaya untuk menekan sekecil mungkin cyber threat.

baca juga: Ini Deratan Merek Mobil Bekas Usia Muda Harga Dibawah Rp100 Juta, Mana Pilihanmu?

Hal itu dapat dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai negara maupun aktor internasional lainnya, terutama dalam capacity building.

Sementara itu, Dr Yono Reksoprodjo berpendapat, meskipun infrasktruktur siber Indonesia masih lemah dibanding negara lain, Indonesia dapat berperan aktif dalam konstelasi siber global dengan mengusung kampanye cyber ethics yang berupa seruan moral penggunaan teknologi siber yang bertanggung jawab .

baca juga: Ade Armando Sebut Anies Salah Satu Gubernur Terburuk dalam Sejarah Pemerintahan DKI

Dalam sesi tanya jawab, yang dilakukan secara online melalui "www.sli.do," beberapa peserta memberikan masukan agar pemerintah melakukan kolaborasi yang lebih intens dengan sektor swasta dalam diplomasi siber mengingat korporasi, terutama yang berjaringan multi national, telah tumbuh menjadi aktor terdepan dalam penanganan isu siber. Selain itu, peserta berharap agar setelah terbentuk, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dapat berperan efektif dalam mengkoordinasikan strategi dan visi kebijakan siber nasional .

Menurut International Telecommunication Union (ITU), saat ini lebih dari separuh dari total populasi dunia (80% penduduk di negara maju dan 34% penduduk di negara berkembang) memiliki akses internet dalam berbagai bentuk. Pertumbuhan penggunaan internet dan teknologi informasi mengalami peningkatan drastis. Jika pada tahun 2000, hanya terdapat 400 juta pengguna internet di seluruh dunia, jumlah ini meningkat hingga 8 kali lipat saat ini.

baca juga: Menpora Singgung Pola Pembinaan Atlet, Ada Apa?

Penggunaan internet telah memberikan berbagai dampak positif di berbagai bidang. Namun, di sisi lain, terdapat dampak negatif yang menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Cybercrime, misalnya, cybercrime telah menimbulkan kerugian global sekitar USD 450 miliar sepanjang tahun 2016. Belum lagi hubungan antarnegara yang bisa terganggu karena penggunaan teknologi siber untuk kepentingan ofensif. (*)

Sumber: P3K Multilateral BPPK

Penulis: Eko Fajri