Ini Usulan Pengamat Terkait Kisruh Gojek dan Angkot di Bukittinggi

Driver Gojek melintas di kawasan Stasiun Bukittinggi
Driver Gojek melintas di kawasan Stasiun Bukittinggi (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI, KLIKPOSITIF  - Budayawan sekaligus Pengamat Sosial Bukittinggi Asraferi Saberi angkat bicara terkait kisruh angkot vs transportasi online gojek yang menyita perhatian publik Bukittinggi beberapa hari belakangan.

Kata Asraferi, jika Pemerintah Kota (Pemko) Bukitinggi menemukan formula yang tepat, maka angkot dan gojek dipastikan bisa hidup berdampingan dalam mencari penumpang.

baca juga: Jadi Pemegang Saham Super App Air Asia, Gojek Fokuskan Investasi di Singapura dan Vietnam

"Saya kira Pemko perlu mengeluarkan semacam Perda agar dua objek ini tak berbenturan," sebut Asraferi, Rabu 13 September 2017.

Menurut Asraferi, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara membatasi layanan transportasi online.

baca juga: "WIB Spesial Kolaborasi Anak Bangsa" Jadi Program Pertama Gojek dan Tokopedia Pasca Kolaborasi Bersama

"Bisa saja Pemko membatasi layanan dengan mengizinkan Gojek beroperasi pada jam tertentu. Contohnya, gojek tak beroperasi pada jam 08.00-10.00 wib, atau di jam lain,"ujarnya.

Sebut Asraferi, hal ini mungkin adalah solusi yang tepat karena untuk meredam ketegangan antara kedua belah pihak.

baca juga: GoFood dan INKOWAPI Bekerjasama Tumbuhkan Bisnis UMKM Perempuan di Tengah Pandemi

"Sebenarnya, target konsumen masing-masing jasa transportasi itu berbeda. Tak semua orang bisa naik gojek , begitupun angkot . Jadi semuanya seharusnya tergantung selera konsumen,"katanya.

Terkait tuntutan angkot yang mendesak operasional gojek dihentikan, kata Asraferi itu adalah hal yang sulit.

baca juga: GOJEK Jalin Kerjasama dengan Pemko Padang, Ribuan Pedagang Siap Ekspansi ke Pasar Digital

"Itu sebuah keniscayaan, kita tak mungkin melawan teknologi," lanjutnya.

Selain itu, Asraferi juga menghimbau agar momen ini juga dimanfaatkan angkot dalam berbenah diri meningkatkan pelayanan.

Menurut dia, hal itu bisa dilakukan dengan cara membuat semacam halte-halte khusus penumpang sehingga angkot tak perlu lagi ngetem sembarangan.

"Saya kira Pemko perlu membuat semacam Perda sehingga kedua jasa transportasi ini bisa hidup berdampingan,"pungkasnya.

Saat ini di Bukittinggi, terdapat lebih dari 500 angkot yang beroperasi dan lebih dari 250 Gojek .

[Hatta Rizal]

Penulis: Khadijah