Dinkes Sumbar: Teliti Konsumsi Obat, Waspadai Peredaran Obat PCC

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat ( Sumbar ) Merry Yuliesday mengimbau kepada masyarakat agar teliti dalam hal mengkonsumsi obat . Imbauannya itu mengingat adanya obat yang bertuliskan PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodol) menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 42 orang lainnya harus dirawat di beberapa Rumah Sakit di Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Jadi setelah konfirmasi ke BPOM, obat yang bertuliskan PCC itu sudah ditarik pada tahun 2013 lalu. Jadi, sekarang tidak ada lagi beredar obat PCC tersebut," katanya, Minggu (16/9) di Padang.

baca juga: Dokter Spesialis Olahraga SPH: Rutin Latihan Fisik Selama 30 Menit Turunkan Resiko Terkena COVID-19

Menurutnya tingkat kewaspadaan di Sumbar harus ditingkatkan, tidak hanya untuk orangtua tapi juga anak-anak yang berada dilingkungan sekolah. Karena tidak tertutup kemungkinan, ada oknum yang menjalankan niat jahat untuk merusak anak-anak di sekolah, seperti melalui jajanan dan yang semacamnya.

Ia menjelaskan, dari hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC mengandung karisoprodol, dan karisoprodol sendiri digolongkan sebagai obat keras. Hal yang demikianlah yang membuat obat PCC tersebut dibatalkan izin edarnya pada tahun 2013 lalu.

baca juga: Tekan Angka Pengangguran, Dinas Tenaga Kerja Pasbar Kukuhkan Klinik Produktivitas

"Saya tidak tau, bagaimana bisa obat yang tahun 2013 telah dicabut peredarannya malah muncul sekarang dan langsung memakan korban," ujarnya.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumbar mengimbau orang tua agar selektif dalam memilih produk makanan atau jajanan yang dikosumsi oleh anak. Tidak hanya itu, Ketua YLKI Sumbar Dahnil Aswad meminta kewaspadaan berbagai pihak terhadap konsumsi obat yang membahayakan jiwa orang-orang mengkosumsinya.

baca juga: Tak Mau Disanksi Kerja Sosial, Seorang Pelanggar Perda AKB di Tanah Datar Pilih Bayar Denda

"Pengawasan terhadap anak-anak perlu ditingkatkan, karena ada kemungkinan ancaman yang demikian datang ke lingkungan sekolah," katanya di tempat terpisah.

Menurutnya, orang tua harus mendampingi anak saat berbelanja, sebab pencampuran jajanan anak dengan bahan berbahaya sejenis narkoba tersebut diduga karena adanya unsur kesengajaan dengan tujuan merusak mental dan perilaku generasi muda. [Joni Abdul Kasir]

baca juga: Dampak Penangkapan Edhy Prabowo, KKP Stop Sementara Ekspor Benih Bening Lobster

Penulis: Eko Fajri