Larangan Berakhir, Pengungsi 11 Negara Hadapi Hambatan Tambahan di AS

Administrasi AS untuk sementara menunda pemrosesan sebagian besar pengungsi dari 11 negara yang diidentifikasi berisiko tinggi
Administrasi AS untuk sementara menunda pemrosesan sebagian besar pengungsi dari 11 negara yang diidentifikasi berisiko tinggi (Aljazeera)

KLIKPOSITIF - Administrasi AS untuk sementara menunda pemrosesan sebagian besar pengungsi dari 11 negara yang diidentifikasi berisiko tinggi dalam kasus proses kelanjutan memasukkan pengungsi ke negara lain.

Sebagian besar negara yang terkena dampak berada di Timur Tengah dan Afrika kata pejabat pemerintah, Selasa (25/10).

baca juga: Kasus Corona Meningkat, Harga Minyak Dunia Masih Stabil

"Pemerintah juga akan menempatkan sebuah program yang memungkinkan penyatuan kembali keluarga bagi beberapa pengungsi yang dimukimkan kembali di Amerika Serikat," menurut sebuah memo administrasi Trump.

Pemindahan kembali pengungsi akan dilanjutkan sesuai dengan memo yang ada.

baca juga: Joe Biden Keluarkan Perintah Wajib Pakai Masker

Pejabat AS mengatakan bahwa perubahan tersebut bertujuan untuk melindungi keamanan nasional AS, namun para pendukung pengungsi mengatakan bahwa mereka melakukan larangan de facto terhadap pengungsi dari 11 negara dan tidak perlu, karena para pengungsi sudah diperiksa secara ketat.

Perubahan tersebut terjadi pada penutupan larangan 120 hari terhadap sebagian besar pengungsi yang diperintahkan oleh Presiden Donald Trump untuk memungkinkan dilakukannya peninjauan terhadap proses pemeriksaan. 120 hari berakhir pada Selasa (24/10), dan Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang mengizinkan dimulainya kembali program pengungsian AS secara umum.

baca juga: Baru Menjabat, Biden Cabut Larangan Terkait Umat Muslim Ini

Memo tersebut mengungkapkan kekhawatirannya untuk mengakui pengungsi dari ke-11 negara tersebut dan mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan peninjauan 90 hari untuk menentukan pengamanan tambahan jika diperlukan untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan Amerika Serikat.

Dilansir dari laman reuters, Trump mulai menjabat pada bulan Januari dengan tujuan untuk mengurangi penerimaan pengungsi secara tajam, sesuai dengan janji yang dia buat selama kampanye pemilihan 2016. Dia segera mengeluarkan larangan sementara untuk pengungsi dan pelancong dari beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, yang ditantang di pengadilan.

baca juga: Disumpah jadi Presiden AS, Joe Biden: Banyak Hal yang Harus di Perbaiki

Penulis: Fitria Marlina