Sejak 2016, Pemerintah Indonesia Telah Blokir 6000 Situs Negatif

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Sejak tahun 2016 lalu, Pemerintah Indonesia mengaku telah memblokir sebanyak 6000 situs yang memuat konten negatif dan dianggap tidak layak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informasi menilai sebanyak 6000 situs tersebut memuat konten yang berbau radikalisme, komunisme, pornografi dan lain sebagainya.

baca juga: Ingat Jangan Sembarangan Unggah Sertifikat Vaksin Covid-19 di Medsos, Ini Alasannya

"Pada akhir 2016 kami telah memblokir 800 situs bermuatan negatif dan dilanjutkan tahun ini. Semuanya telah berjumlah 6.000 situs ," kata Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informasi, Gun Gun Siswadi.

Meski sudah banyak yang diblokir, namun saat ini kata dia masih banyak situs baru yang bermunculan, namun pihaknya mengaku tidak serta merta menghentikan pemblokiran.

baca juga: Pemerintah Terapkan Strategi Hilir-Hulu Digitalisasi Indonesia

"Untuk pemantauannya kami ingin sinergitas antara masyarakat dengan pemerintah berjalan baik," sebut Gun.

Selain itu menurutnya, masing-masing orang tua juga perlu mengawasi dengan ketat pola perselencaran anak-anak di internet, pasalnya saat ini siapa saja bisa mengakses apa saja dengan menggunakan layanan internet.

baca juga: Aplikasi Clubhouse Terancam Diblokir Kominfo

"Jadi harus ada filter sejak dini dari orang tua untuk mengawasi pola tersebut," ujarnya.

Tidak hanya itu, ia juga mengajak masyarakat agar berhati-hati menyebarluaskan berbagai konten di media sosial karena bisa membuat mereka akan berurusan dengan aparat penegak hukum karena melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

baca juga: 1 Tahun Pendemi Covid-19, Kominfo Catat 1.402 Kabar Bohong

"Hati-hati dalam menyebarluaskan konten baik yang dihasilkan sendiri ataupun berasal dari kiriman orang lain, karena jika telah disebarluaskan maka aparatur penegak hukum bisa dengan mudah melacaknya walaupun sudah dihapus," pungkasnya kemudian.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa