Peneliti Sebut Ekspos Wisata Mandeh Sangat Berlebihan

Pesona wisata Mandeh di Pessel-Sumbar
Pesona wisata Mandeh di Pessel-Sumbar (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Upaya pemerintah untuk menjual Kawasan Wisata Mandeh ternyata belum sejalan dengan kesiapan zonasi daerah. Berbagai penawaranpun sudah di sampaikan pada investor, tapi konsep wisata dan zonasinya belum jelas. Hingga saat ini perda zonasi pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir masih terkatung-katung di DPRD Sumbar.

Peneliti Pusat Pengembangan Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni mengatakan, konsep pengembangan Mandeh harus jelas. Menurutnya, jika Mandeh akan dijadikan ekowisata bahari, maka harus dimatangkan dari awal, jangan sampai jadi Bali atau Raja Ampat.

baca juga: Saksi Ahli JPU Mengaku Tak Tahu Posisi Mangrove Rusak Ketika Ditanya HakimĀ 

Ia juga menilai, saat ini ekspos wisata Mandeh sangat berlebihan, sementara produk dan sistem regulasi belum jadi. Jika nanti bayak yang berbondong-bodong ke Mandeh, dikhawatirkan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada objek wisata.

"Penelitian saya, 1 banding 3. Satu wisatawan nusantara, 3 wisatawan lokal Sumbar. Padahal, definisi wisatawan harusnya orang yang datang dari luar Sumbar, agar ada pergerakan ekonomi secara signifikan," ujarnya saat rapat koordinasi penyusunan dokumen rencana pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup pada sektor jasa pariwisata di Mandeh, Selasa 7 November 2017.

baca juga: Sidang Mangrove, Saksi: Kewenangan Izin Ada di Dinas Kehutanan Provinsi

Dijelaskannya, dalam mengembang Mandeh, harus jelas mana wisata yang dianggap premium mana pula yang harus dikembangkan dengan konsep lainnya. Kemudian juga harus ada zonasi, yang menurutnya bisa mengacu kepada Great Barrier Reef yang ada di Australia, sehingga seluruh aktivitas pegembangan Mandeh yang dijalankan berdasarkan regulasi yang melibatkan pakar lingkungan. 

"Meski Mandeh ini kapasitasnya masih dianggap surplus, namun kalau tidak dijaga maka bisa tidak berkembang. Contohnya kita lihat dari segi minat investasi di Mandeh sudah mulai berkurang. Wisata itu ada brandingnya. Investor akan mundur ketika melihat ada krisis dari branding," katanya.

baca juga: Sidang Wabup Pessel, Saksi Kembali Tegaskan Pelataran Parkir dan Pinggiran Jalan Bukan Mangrove

Sesuai Permen 14 /2016, pembangunan wisata harus berkelanjutan. Apalagi sudah ada MoU atau kerjasama antara Kemenpar dan Pessel, bahwa seluruh pembangunan harus wisata berkelanjutan.

"Realitanya pengembangan Mandeh arahnya justru mengarah pada mass tourism. Kalau mass tourism ini, sudah tidak lagi melihat expreience sebagai kualitas namun sebagai kuantitas. Ini adalah cikal bakal kehancuran," sebutnya.

baca juga: Dilewati Pembalap TdS 2019, Jembatan Mandeh Dipasang Pelapis Sebelum Balapan

[Joni Abdul Kasir]

Penulis: Iwan R