BPS: Pengelolaan Sumber Daya Air Indonesia Sangat Rendah

Saat ini diperkirakan sekitar 30 persen air hujan menjadi sumber air yang potensial tertampung pada danau alam, danau buatan, waduk-waduk, dan rawa-rawa
Saat ini diperkirakan sekitar 30 persen air hujan menjadi sumber air yang potensial tertampung pada danau alam, danau buatan, waduk-waduk, dan rawa-rawa (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Badan Pusat Statistik mencatat, pengelolaan dan pemanfaat sumber daya air di Indonesia masih sangat rendah.

Hal itu dibuktikan dengan jumlah pemakaian air untuk ektor pertanian, air baku bagi masyarakat perkotaan dan industri, pembangkit listrik, hingga pariwisata.

baca juga: BPS: Necara Perdagangan Mei Tahun Ini Surplus

Menurut data, dari total 3,9 trilyun meter kubik per tahun hanya sekitar 17,69 persen atau sekitar 691,3 juta meter kubik per tahun yang dapat dimanfaatkan.

Artinya masih terdapat sekitar 3,2 triliun meterkubik per tahun atau sekitar 82,31 persen yang belum dimanfaatkan.

baca juga: Utang Pemerintah Terus Bertambah, DPR: Harus Bisa Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Data tersebut diperoleh dari Rencana Strategis 2015-2019 Direktorat Jendral Sumber Daya Air , Kementerian Perumahan Rakyat dan Pekerjaan Umum.

Data itu juga menjelaskan bahwa sumber air tawar di Indonesia yang memiliki iklim tropika basah sepenuhnya berasal dari air hujan.

baca juga: Sektor Pertanian Tunjukan Pertumbuhan Positif, BPS: Serap 30 Persen Tenaga Kerja Indonesia

Saat ini diperkirakan sekitar 30 persen air hujan menjadi sumber air yang potensial tertampung pada danau alam, danau buatan, waduk-waduk, rawa-rawa dan sebagian lagi meresap ke dalam tanah sebagai air tanah.

Sementara sekitar 70 persen air hujan menjadi aliran air permukaan (surface run off) yang masuk ke sungai-sungai dan sebagian terbuang percuma ke laut.

baca juga: Benarkah Minum Air Sebelum atau Selama Makan Bikin Pencernaan Terganggu? Ini Kata Ahli Diet

Kondisi ini sangat disayangkan, mengingat ketersediaan air hujan tidak dijumpai sepanjang tahun, sementara kebutuhan air semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia.

BPS juga menjelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti dengan peningkatan kebutuhan lahan dan air .

Hal ini menyebabkan intervensi manusia terhadap sumberdaya air semakin besar, yang menyebabkan terjadinya perubahan wilayah resapan air dan penurunan mutu air secara nyata.

Faktor lain yang juga perlu diperhitungkan adalah terjadinya perubahan iklim global yang akan berdampak luas pada sistem sumberdaya air yang ada.

"Salah satu dampak yang saat ini dirasakan adalah bencana banjir dan kekeringan yang semakin sering terjadi," tulis BPS dalam laporan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2017.

Menurut lembaga statistik itu, Indonesia yang mempunyai dua musim selalu mengalami perbedaan ketersediaan air yang ekstrem antara musim hujan dan musim kemarau.

Pada musim hujan, curah hujan yang tinggi menyebabkan sebagian wilayah Indonesia mengalami kelebihan air dan seringkali menimbulkan bencana banjir.

Sementara, pada musim kemarau, wilayah-wilayah tertentu akan mengalami kelangkaan air .

Untuk itu, diperlukan pengelolaan air dan sumber daya air terpadu yang mempertimbangkan keberlangsungan dan pemanfaatannya yang perlu didukung dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa