Skimming Marak, Pengawasan Orang Asing Masuk Indonesia Diperketat

ilustrasi pintu masuk bandara
ilustrasi pintu masuk bandara (istimewa)

KLIKPOSITIF -- Polda Metro Jaya berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM untuk memantau warga negara asing masuk ke Indonesia . Imigrasi diminta memperketat pemeriksaan WN Asing masuk Indonesia .

Hal ini menyusul pengungkapan kasus pembobolan uang nasabah bank melalui teknik skimming yang dilakukan 5 WNA dari sejumlah negara di Eropa Timur. Jadi, sesuai dengan kewenangan imigrasi dalam melakukan pengecekan terhadap orang asing dan juga memberikan visa.

baca juga: Indonesia Ingin Bangun Training Camp Untuk Atlet Difabel

"Tentunya data yang kami dapat ini diperlukan oleh pihak imigrasi . Kami pun membutuhkan data dari pihak imigrasi jadi kerjasama antar lembaga ini sangat penting dalam rangka menanggulangi tindak pidana skimming ," kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta di Polda Metro Jaya.

Kerjasama ini sangat diperlukan untuk memberikan informasi soal keberadaan WNA di Tanah Air. Melalui Ditjen Imigrasi , polisi bisa mendapatkan akses data-data keimigrasian dari negara-negara lain.

baca juga: Terkait Hal Ini, Universitas Al-Azhar Kairo Setujui Permohonan Indonesia

"Bahkan menurut kami tidak hanya imigrasi di Indonesia , kami juga mendapat informasi bahwa imigrasi mempunyai kesatuan di Asia dan di dunia. Sehingga data-data ini bisa diberikan dan terjadi pertukaran informasi untuk menanggulangi ini," katanya.

Selain kerja sama antar lembaga, Dit Interlkam Polda Metro Jaya juga membentuk tim pemantau orang asing (Timpora) untuk mengantisipasi aksi-aksi kejahatan yang dilakukan orang asing di Indonesia . Polisi juga meningkatkan keamanan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

baca juga: Indonesia Akhiri Kerja Sama REDD+ dengan Norwegia, Ini Alasannya

Sebelumnya, polisi telah meringkus enam tersangka dalam kasus pembobolan uang nasabah di 64 bank dengan modus skimming . Enam tersangka di antaranya tiga WN Rumania berinisial IRI (26), LNM (26), ASC (34), satu warga Hungaria berinisial ASC (34), satu warga Bulgaria berinisial BKV (46) dan WNI berinisial MK (29).

Sindikat ini telah melakukan aksi kejahatan perbankan sejak 2017 lalu di berbagai daerah di antaranya Yogyakarta, Bali, Bandung, Lombok, dan Jakarta. Selain di Indonesia , para tersangka juga menyasar data nasabah di luar negeri seperti Australia, Amerika Serikat, German, Chile, dan Italia.

baca juga: Siap-siap, Indonesia Akan Transisi Pandemi ke Endemi dan Akan Mulai Belajar Hidup Bersama dengan COVID

Setelah mencuri data nasabah, para tersangka kemudian melakukan duplikasi melalui kartu ATM kosong. Setelah itu, sindikat ini mendatangi gerai ATM untuk mengeruk uang di dalam rekening para korban. (*)

sumber:  suara.com

Penulis: Agusmanto