Menyigi Tradisi Potang Balimau di Limapuluh Kota

Tradisi Potang Balimau dengan Maambau di Limapuluh Kota.
Tradisi Potang Balimau dengan Maambau di Limapuluh Kota. (istimewa)

LIMAPULUH KOTA , KLIKPOSITIF -- Bagi warga Kecamatan Pangkalan Koto Baru dan Kapur IX yang berada di gerbang timur Sumatera Barat, acara " Potang Balimau " dengan 'Maambau' alias sampan, tentu sudah tidak asing lagi. Tak peduli usia, tak lihat muka. Yang jelas, menjelang Ramadan datang, semua tumpah ruah menikmati tradisi ini.

”Bagi kami, Potang Balimau adalah budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Meski tidak tahu sejak kapan tradisi ini dimulai, yang jelas, tiap Ramadan masuk, potang balimau selalu kami adakan,” ujar Datuk Sibijayo, tokoh masyarakat Pangkalan Koto Baru saat ditemui KLIKPOSITIF , Senin 14 Mei 2018.

baca juga: Seumuleung, Tradisi Idul Adha di Aceh yang Berusia Lima Abad

"Memang sedikit sulit mengetahui kapan tradisi Potang Balimau diadakan," ucap Datuk Sibijayo.

Meskipun demikian, Potang Balimau ala warga Pangkalan tetap asyik untuk disigi. Bukan karena warga yang mengikuti tradisi ini bejibun banyaknya, bukan pula karena ‘ritual‘ mandi dengan limau (jeruk nipis), bunga kenanga, bunga rampai atau pandan wangi. Tapi, lebih dikarenakan Potang Balimau adalah sebuah kearifan lokal.

baca juga: Tinjau Alat Peringatan Dini Gempa, Ini Pesan Bupati Irfendi Arbi

Tidak salah kiranya bila semasa Gubernur Gamawan Fauzi pada tahun 2005 lalu mencanangkan Potang Balimau sebagai kalender wisata Sumbar. Walau pencanganan itu masih terkesan sebatas seremonial karena belum adanya tindak lanjut, namun yang membanggakan, tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki tradisi seperti ini.

Terlepas dari hal itu, acara Potang Balimau dengan Maambau di tepi sungai dalam Nagari Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota , diharapkan tetap kemilau. Maambau sendiri dibuat dengan sedikit mengedepankan primordialis (rasa kedaerahan). Misalnya saja, Maambau tahun lalu yang bentuknya mirip dengan Bus Sinar Riau, angkutan kebanggaan rang Pangkalan.

baca juga: "Camping Menggulai Kambing" Cara Pemuda Kayu Kolek Pulihkan Kembali Pariwisata

Bupati Limapuluh Kota , Irfendi Arbi menyebut, Potang Balimau ini menjadi sebuah tradisi yang tak akan lekang digerus usia. Selain itu, dengan rasa kedaerahan itulah, tradisi Potang Balimau hingga kini masih bisa dilestarikan. Meskipun demikian, Irfendi berharap agar Potang Balimau tidak lari dari semangat bulan suci Ramadan.

”Jangan sampai balimau jadi arena maksiat dan penyakit masyarakat. Jadikanlah tradisi ini sebagai sebuah pemupuk rasa kedaerahan kita,” tutupnya.

baca juga: Booming Sepeda Sanki di Payakumbuh, Minions Rider Restorasi Sepeda Jadul Jadi Trendi

[Arya Irfanus]

Penulis: Agusmanto