Begini Cara Mendeteksi Hoax Versi Kominfo

Ilustrasi
Ilustrasi (Dok.Klikpositif)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Kementerian Komunikasi dan Informasi meminta seluruh orang bisa melawan dan tidak menyebarkan informasi yang salah alias Hoax di media berbasis jaringan atau daring.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Hukum Henri Subiakto mengatakan, informasi hoax tersebut bisa menyesatkan.

baca juga: Kominfo Siapkan Sistem Registrasi SIM Card Baru, Pakai Pindai Wajah dan Sidik Jari

"Jangan mudah percaya pada hoaks atau berita fitnah.  Itu sama seperti dengan surat kaleng, tapi digital. Tidak jelas siapa yang membuat," katanya.

Ia memaparka ciri-ciri hoaks antara lain, informasi yang membuat kecemasan, berisi ajakan bermusuhan atau membenci.

baca juga: Omnibus Law Disentil, Menkominfo: UU Perlu Dilihat Sisi Baiknya

Di sisi lain, mengenali informasi yang salah tersebut juga bisa dilakukan dengan cara memverifikasi kembali info itu di layanan pencarian seperti Google.

Jika ternyata informasi itu memiliki sumber yang jelas, maka bisa dikatakan info tersebut benar. Jika tidak, maka hal tersebut adalah hoax .

baca juga: Pemerintah: 2.020 Hoaks Beredar di Medsos Terkait Covid-19

"Cirinya adalah informasi  yang membuat kita cemas berlebihan. Hoaks juga bikin kita membenci yang berbeda. Apalagi jika ada kata-kata viralkan atau sebarkan kalau tidak masuk neraka. Itu pasti hoax ," tegas dia.

Saat ini menurut dia, yang perlu dilakukan adalah selalu mengingatkan agar tidak bicara mengenai keburukan atau bahkan menyebarkan hoaks dan konten negatif lainnya termasuk radikalisme.

baca juga: Menkominfo: "Pemerintah Sudah Bilang Itu Hoaks, ya Hoaks", Ini Respon Warganet

"Hampir 70 persen di WA kita yang bicara mengenai keburukan kelompok lain dan sekaranng begitu banyak. Jika di media sosial ada yang menjelekkan orang lain. Kita ingatkan mereka," ucap Henri.

Sejauh ini, sebut Henri, Kementerian Kominfo ikut bertanggung jawab karena konten radikalisme banyak yang tersebar melalui internet.

"Ada di Facebook, instagram atau media sosial lainnya. Perlu diketahui teknologi informasi itu sumber pengetahuan dan pengajaran, jika ada yang ada yang memanfaatkan untuk kebutuhan negatif ya perlu diingatkan," tandasnya kemudian.(*)

Sumber: Kominfo

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa