JISS Sayembara Penulisan Esai JK untuk Nobel Perdamaian

()

KLIKPOSITIF -- Sebagai negara majemuk, Indonesia memiliki sejarah konflik sosial yang banyak menimbulkan kerugian. Kita mengingat betapa konflik sosial tidak pernah berujung kesejahteraan. Meninggalkan zona nyamannya, Jusuf Kalla menginisiasi dialog perdamaian dan berani ‘pasang badan’ untuk terwujudnya perdamaian di tiga konflik itu. Meski menjadi sejarah penting bangsa Indonesia, pengalaman penanganan konflik tersebut belum banyak dikaji dan dikontekstualisasikan secara mendalam.

Karena itu, Jenggala Institute for Strategic Studies (JISS) dengan didukung oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia (PPI Dunia) menyelenggarakan sayembara penulisan esai untuk mengulas kembali pengalaman penanganan konflik dan pewujudan perdamaian (peacemaking) di Indonesia.

baca juga: Ini Nomor Urut Paslon pada Pilkada Kota Solok 2020

CEO Jenggala Institute for Strategic Studies, Muhamad Rosyid Jazuli, menyatakan, pada dasarnya kita sebagai bangsa selalu menginginkan kehidupan yang damai di mana tidak seorang pun harus diperumit dengan konflik. Kita semua telah melihat orang-orang yang telah berani mengorbankan hidup mereka untuk kedamaian. Salah satunya adalah Jusuf Kalla (JK), Wakil Presiden Indonesia saat ini.


"Pemimpin global yang hebat seperti Mahatma Gandhi, Malala Yousefzai, Martti Ahtisaari dan sebagainya, telah susah payah untuk perdamian dengan mengorbankan hidup nyaman dan masa depan mereka. Banyak dari mereka diberikan Hadiah Nobel Perdamaian, meskipun beberapa belum," katanya.

baca juga: Siap-siap, Apa yang Harus Dilakukan Jika Indonesia Resesi? Ini Jawabnya

Ia menambahkan, sebagai negawaran berlatar pengusaha, JK memiliki ribuan alasan untuk hidup bahagia dengan kekayaan mereka yang melimpah. Namun, keberanian dan keteguhannya membawa dia untuk masuk ke dalam konflik berkepanjangan hanya untuk mencapai satu tujuan: perdamaian.

"Beberapa konflik sosial paling buruk di Indonesia, yaitu konflik Ambon dan Poso, serta di Aceh berhasil didamaikan berkat kerja JK," jelasnya.

baca juga: Hari Tani Nasional: Ini Sejarah Pertanian di Indonesia

Dengan jumlah korban jiwa yang besar, konflik-konflik tersebut telah banyak mengorbankan sumber daya pemerintah dan juga masyarakat. Orang-orang meragukan bahwa JK dapat mengakhiri konflik.

"Tetapi keraguan itu tidak pernah pernah membuat JK urung diri. JK dan timnya datang dengan banyak ide, diskusi dan kompromi yang akhirnya menghasilkan perjanjian damai. JK sepertinya tidak pernah menghentikan usahanya untuk memperbaiki masyarakat kita," tegasnya.

baca juga: Karena Alasan Ini, Pasangan ESA di Pilkada Pasbar Tunjuk Mantan Wali Nagari Sebagai Ketua Tim Pemenangan

JK kemudian memimpin sebuah organisasi yang berfokus pada perdamaian di kawasan Asia Pasifik yang disebut CAPDI (Centrist Asia Pacific Democrats International). Ini mengumpulkan beberapa pemimpin dunia yang hebat untuk mengambil bagian dalam proses perdamaian di kawasan ini. Tidak berkuasa selama periode 2009 - 2014, JK memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang mulia dengan mengambil tanggung jawab menjadi ketua Palang Merah Indonesia (2009-sekarang).

Baru-baru ini, Universitas Hiroshima menganugerahkan gelar akademis tertinggi yakni Doctor Honoris Causa kepada JK atas kontribusinya dan dedikasinya untuk menjaga perdamaian dan pembangunan di Indonesia. Universitas tersebut percaya bahwa pengalaman perdamaian JK adalah kontribusi besar untuk menjaga hubungan baik antarnegara, khususnya antara Jepang dan Indonesia.

Kepemimpinan dan kenegarawanan JK selalu hadir dengan ide-ide perdamaian yang terbukti bermanfaat bagi kemanusiaan kita.

"Hanya perdamaian yang bisa mewujudkan peradaban manusia," begitu keyakinan JK.

Sebab itu, JISS dan PPI Dunia merasa bahwa pengalaman penting Indonesia dalam menangani konflik bisa menjadi inspirasi dan masukan bagi upaya penciptaan perdamaian di negara lain. Pemikiran, kepemimpinan dan kebijakan JK dalam penanganan konflik-konflik sosial seperti Poso, Ambon dan Aceh sudah sepatutnya mendapat ulasan berupa apresiasi, kritikan, masukan, refleksi, dan sebagainya untuk dapat menjadi inspirasi upaya pewujudan perdamaian di masa depan baik di Indonesia maupun dunia.

Nantinya, tim juri sayembara ini akan memberikan penghargaan karya terbaik I, II dan III hadiah masing-masing dalam jumlah Rp 10.000.000, Rp 7.500.000 dan Rp 5.000.000.

Selain itu, 25 penulis esai terbaik akan diundang untuk hadir resepsi makan malam dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla . Dan, 25 karya terbaik skan diterbitkan di situs web JISS dan akan dipublikasikan dalam buku yang akan disunting oleh tim penulis khusus.

Batas pengumpulan esai adalah 30 Agustus 2018. Info lebih lanjut mengenai sayembara ini, silahkan kunjungi jiss.jenggalacenter.org. (*)

Penulis: Eko Fajri