Fakta di Balik Kekalahan Emzalmi-Desri di Pilkada Padang

Emzalmi dan Desri Ayunda
Emzalmi dan Desri Ayunda (KLIKPOSITIF/Cecep Jambak)

PADANG , KLIKPOSITIF -- Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Padang periode 2018-2023 telah usai. Pasangan Mahyeldi Ansharullah dan Hendri Septa keluar sebagai pemenang dalam pemilihan kali ini.

Pilkada Padang tahun ini diikuti oleh dua pasang calon, di urutan pertama terdapat Emzalmi dan Desri Ayunda sedangkan Mahyeldi-Hendri di nomor urut dua.

baca juga: Mulai Besok, Pemko Padang Sudah Tindak Pelanggar Perda AKB

Pesta demokrasi di ibukota Provinsi Sumbar ini diikuti oleh dua orang incumben. Diketahui Mahyeldi merupakan Walikota Padang periode 2013-2018 dengan masa jabatan berlaku hingga Mei 2019 nanti, ia menggantikan Fauzi Bahar yang saat itu telah memimpin Padang selama dua periode.

Sebelum maju sebagai Walikota di tahun 2013 itu, Mahyeldi adalah petahana Wakil Walikota yang mendampingi Fauzi Bahar dari tahun 2008 hingga 2013, sehingga ketika maju jadi Walikota Padang , Mahyeldi cukup beruntung karena telah mendapatkan modal kepercayaan dari masyarakat.

baca juga: Meningkat, DPS Pilkada di Kota Padang 615.307 Jiwa

Sedangkan Emzalmi merupakan Wakil Walikota Padang yang pernah mendampingi Mahyeldi pada periode Pilkada Padang tahun 2013, dan diusung oleh dua pratia yakni PKS dan PPP. Namun nasibnya tidak seberuntung Mahyeldi di Pilkada 2013 lalu.

Berdasarkan hasil rekapitulasi dari KPU Kota Padang , pasangan Mahyeldi-Hendri menang dengan memperoleh sebanyak 212.526 atau 62.92 persen dari Daftar Pemilih Tetap (DPT).

baca juga: Hadapi Lonjakan Kasus COVID-19, SPH Tambah Tempat Tidur

Sementara itu pasangan Emzalmi-Desri harus puas dengan 125.238 suara. Jika dibandingkan, perolehan suara pasangan yang didukung oleh Golkar, NasDem, PDIP, Gerindra, Demokrat, Hanura, PKB, PPP, PBB, dan Perindo itu jelas tidak seimbang, apalagi keduanya (Mahyeldi dan Emzalmi) merupakan petahana.

Hal yang paling menarik lagi adalah, pasangan Emzalmi di Pilkada tahun ini yakni Desri Ayunda merupakan runner up dari Pilkada 2013 lalu.

baca juga: Banyak Merawat Pasien Covid-19, Begini Kondisi di SPH

Kala itu Mahyeldi yang berpasangan dengan Emzalmi meraih 148.864 suara, sedangkan Desri Ayunda yang berdampingan dengan James Helyward meraih 147.166 suara. Hasil yang sangat tipis.

Emzalmi dan Desri Ayunda adalah dua tokoh yang boleh dibilang punya pengalaman yang cukup di Pilkada Kota Padang , namun kenapa kemudian Mahyeldi-Hendri menang?

Menurut pengamat politik dari Universitas Andalas, Najmuddin M Rasul, kemenangan Mahyeldi disebabkan karena pemilih di Kota Padang saat ini cenderung rasional.

"Pemilih Kota Padang rasional, orang yang berpendidikan dan pemilih muda. Memilih calon yang memiliki visi dan misi dan logis. Misalkan dalam bidang pendidikan, kebersihan pasar, agenda pembinaan umat ke depan jelas, dan lainnya," katanya.

Dengan pemilih rasional ini, kata dia, pemilih tidak hanya melihat ketokohan saja, namun faktor X yakni figur yang ada di belakang dari pasangan tersebut.

"Faktor X justru ada di kubu Emzalmi. Ada figur lain yang tidak disukai oleh pemilih Kota Padang . Makanya saya bilang tadi pemilih Kota Padang sangat rasional, karena tidak hanya melihat kandidat namun juga siapa orang di belakangnya," ungkapnya.

Terlepas dari itu, faktor lain adalah tingkat kerja dari tim sukses masing-masing pasangan yang memang tampak lebih diungguli oleh pasangan nomor dua.

"Tentu juga karena mesin politik atau tim ses mereka berjalan baik dan berfungsi," tambahnya

Sebaliknya, faktor kekalahan dari pasangan Emzalmi-Desri menurutnya justru yang terkesan tidak solid, meskipun pasangan itu diusung dari banyak partai.

"Saya lihat ada kesan karena tidak yakin dan percaya dengan kandidatnya. Sebetulnya ini yang harus sejak dini harus dianalisis tim, bagaimana di awal awal kampanye meyakinkan para pendukung dan konstituennya. Bukan menganggap dengan banyak parpol pendukung akan bisa menang," jelas Najmuddin.

Faktor lain, tambahnya adalah terkait ketokohan Mahyeldi yang memang lebih unggul dibandingkan Emzalmi.

"Masa tradisional sebagai seorang ustadz tentu berpengaruh. Intinya Mahyeldi sudah punya pemilih tersendiri," tambahnya.

Dengan terpilihnya kembali Mahyeldi sehingga kembali bertugas di periode dua, dia berharap visi dan misi yang dijual dalam kampanye tentu bukan hanya menjadi pepesan kosong semata.

"Apakah sama dengan kepala daerah lainnya yang memimpin dua periode. Ini yang dikhawatirkan. Selama ini, kebanyakan pejabat yang kembali memimpin cenderung tidak seaktif masa pertama. Saya berharap, visi dan misi yang dijual di periode dua memang harus dijalani," harapnya.

[Cecep Jambak]

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa