Penutupan Tambang Galian C Bukan Penghambat Pembangunan Jalan Nasional di Pessel

Pengerjaan jalan nasional di Pesisir Selatan
Pengerjaan jalan nasional di Pesisir Selatan (KLIKPOSITIF/Kiki Julnasri Priatama)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Pembangunan jalan nasional penghubung Provinsi Sumatera Barat dengan Bengkulu di Kabupaten Pesisir Selatan diketahui sempat terhenti dalam kurun waktu sekitar dua bulan lebih.

Pihak kontraktor proyek mengklaim, pengentian pekerjaan karena keterbatasan material bahan berupa batu.

baca juga: Gempa di Pessel, Dirasakan di Sejumlah Daerah di Sumbar

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Sumbar Maswar Dedi. Ia mengatakan, lima tambang itu merupakan pemasok material bahan pembangunan jalan.

Baca Juga:  Ini Penyebab Terhentinya Pelebaran Jalan Nasional di Pessel

baca juga: Rabu Pagi, Warga Pessel Dikejutkan Gempa

"Mereka rata-rata mengambil material dari tambang tersebut. Jika tambang tidak jalan mau ngambil material dari mana?," katanya.

Penghentian itu lantas membuat anggota Komisi IV DPRD Sumbar Saidal Masfiyuddin meradang. Pasalnya ia menilai penghentian pengerjaan tidak semata-mata karena operasional lima tambang Galian C yang terhenti.

baca juga: Sempat Tersendat, Saat Ini Pesanan Estalase di Pessel Mulai Laris Manis

"Ini perlu diluruskan, kontraktor sudah lebih dua bulan tidak bekerja sementara tambang baru seminggu ini ditutup," sebut dia.

Baca Juga:  Pengerjaan Jalan Nasional di Pessel Terhenti, DPRD Sumbar Meradang

baca juga: Diluncurkan Kemendes, Pessel Kini Miliki Tiga Kampus Nagari

Menurut dia, alasan itu tidak bisa dijadikan sebagai penghambat pengerjaan pelebaran jalan. Bahkan kata dia, material untuk menyelesaikan jalan sepanjang 400 meter di Kenagarian Taratak, Kecamatan Sutera itu cukup malahan berlebih.

"Untuk manyelesaikan yang 400 meter tersebut material yang ada cukup bahkan berlebih," ungkap Ketua Pansus Review RTRW Sumbar tahun 2012-2032 itu.

Hal senada juga diakui oleh Bupati Pesisir Selatan , Hendrajoni. Ia melontarkan pendapat yang sama dengan Saidal, bahkan ia menilai bahwa informasi soal penutupan tambang itu justru mengada-ada dan terkesan menyudutkan Pemkab Pessel .

"Dalam waktu dekat kami akan memanggil pejabat yang dimaksud untuk mendengar klarifikasi secara langsung. Karena itu telah menyudutkan pemerintah kabupaten tidak relevan," terangnya.

Di tengah polemik soal penyebab penghentian proyek tersebut, Warga Nagari Taratak kemudian menanggapi hal itu dengan menanami sebuah pohon pisang di sebuah lubang jalan pada Sabtu, 14 Juli 2018 lalu.

Baca Juga:  Hari Ini, Pengerjaan Jalan Nasional di Pessel Dilanjutkan

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes warga akan penghentian proyek yang dinilai merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat akibat debu sisa pengerjaan jalan.

"Sejak dibebaskan dan dilakukan penggalian. Sampai berbulan-bulan belum juga diaspal. Jadi terpaksa ini yang kami lakukan supaya apa yang kami rasakan dilihat pemerintah," sebut Erik seorang warga pada KLIKPOSITIF .

Aksi penanaman pohon di lubang jalan itu kemudian ditanggapi oleh pihak kontraktor Yasa-Conbloc. Pada hari ini, Senin 16 Juli 2018 siang, pekerja dan alat berat tampak sudah memulai pengaspalan dan menambal lubang di permukaan jalan.

[Kiki Julnasri Priatama]

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa