Perjuangan Sanggar Randai Arai Pinang Pessel Melestarikan Kesenian di Tengah Era Mileneal

Festival Randai se Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar Sanggar Randai Arai Pinang
Festival Randai se Kabupaten Pesisir Selatan yang digelar Sanggar Randai Arai Pinang (Kiki Julnasri/KLIKPOSITIF)

PESSEL , KLIKPOSITIF -- Di tengah kurangnya minat generasi mileneal terhadap kesenian daerah, Pengurus Sanggar Randai Arai Pinang Lampanjang, Nagari Rawang Gunung Malelo Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat bertahan untuk tetap eksis mempopulerkan kesenian nagari, di daerah ini.

Sejak berdiri pada tahun 2011 lalu Sanggar Randai Arai Pinang Lampanjang memiliki banyak rintangan dan tantangan untuk tetap eksis. Kenapa tidak, dengan zaman yang serba canggih menjadi pintu masuk pengaruh dunia luar terhadap generasi muda.

baca juga: Siapkan Lulusan Handal, SMKN 1 Sutera dan Bank Nagari Cabang Painan Jalin Kerja Sama

Hadirnya sekelompok generasi Rawang Gunung Malelo untuk menggiatkan kesenian anak nagari, bermula dari keresahan sejumlah anak muda di nagari ini. Melihat generasi muda semakin terus terbius dengan banyak hadir group boy band dan girls band dari Korea.

Tidak bisa ditampik lagi, pengaruh dan kelincahan gaya menari dan bernyanyi dari Boy Band dan Girls band menjadi momok percontohan generasi untuk bisa menirunya. Sebut, saja seperti Boy Band SMAS, dan Girls Band Cherrybelle, menjadi kiblat generasi muda diera tahun 2010-2014 lalu.

baca juga: Pulang dari Semarang, Seorang Aparat Nagari di Pessel Positif COVID

Kebiasaan generasi mileneal meniru gaya hiburan kontemporer, menimbulkan kecemasan ditengah masyarakat. Dan kecemasan itu, ternyata juga dirasakan oleh sekelompok anak muda di Nagari Rawanggunung Malelo dan mereka membentuk Sanggar Seni yang mereka namakan Sanggar Randai Arai Pinang sebagai penangkis untuk bisa selalu menumbuhkan kesenian daerah di tengah generasi muda.

"Kami memulai kegiatan ini, hanya dengan modal Rp 8000, minta sumbangan kepada masyarakat, sampai memborong padi warga dan upahnya di jadikan kas sanggar," jelas Debi Virnando salah seorang pendiri Sanggar Randai Arai Pinang saat bebincang-bincang bersama KLIKPOSITIF , Sabtu, 25 Agustus 2018.

baca juga: Ini Cara KPU Pessel Pastikan Pasien COVID Tetap Bisa Memilih

Bahkan, seiring berjalan waktu tak sedikit nada miring dari masyarakat, dan itu pula menjadi cambuk penyemangat untuk bisa maju dan menghadirkan sebuah tontonan yang mendidik di tengah masyarakat.

"Awalnya kami meminta sumbangan ke rumah-rumah warga, banyak yang ragu walaupun setengah warga tetap memberikan sumbangan," terang Debi yang kini telah menjadi pembina sanggar tersebut.

baca juga: Silaturahmi Paslon RA-Rudi di Painan Dipadati Massa

"Festival hari ini dari 18 - 27 Agustus merupakan kelanjutan Festival Randai tahun-tahun sebelumnya. Selain Festival Randai , tahun lalu kami mengadakan Festival Rabab se Kabupaten Pesisir Selatan . Kegiatan dengan mencari momen hari besar seperti 17 Agustus, tahun baru dan ulang tahun sanggar," sebut Debi.

Sementara, ketua Sanggar Randai Arai Pinang, Ramadhan mengatakan, Sanggar Randai Arai Pinang juga membentuk sasaran-sasaran baru di kampung tetangga sebagai cabang. Selain kesenian anggota juga dibekali dengan ilmu agama.

"Sanggar juga membentuk remaja masjid, kami juga membuat aturan bagi anggota yang tidak hadir dalam kegiatan remaja masjid tidak dibolehkan ikut latihan," katanya.

Tidak hanya dari pengurus sanggar, Mawas (63) seorang tokoh masyarakat juga mengapresiasi kehadiran sanggar Randai Arai Pinang tidak hanya membius generasi muda untuk menghidupkan kesenian nagari. Hal itu, karena berbagai iven besar sudah sukses dilaksanakan dengan menghadirkan nama-nama besar, dan memperkenalkan Nagari Rawanggunung Malelo ketingkat Sumbar.

"Dulu kampung kami ini dipandang sebelah mata, kehadiran sanggar dan generasi muda, kini kampung ini disegani. Kami merasa bangga mereka telah jadi orang dan bisa memajukan kampung halaman," ungkap Mawas.

[Kiki Julnasri Priatama]

Penulis: Rezka Delpiera