Pakar: Waspada Trauma Psikologis Pada Pengungsi Pasca Gempa dan Tsunami

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Gempa dan tsunami yang melanda kota Palu, Sulawesi Tengah, bisa menyebabkan masalah kesehatan mental bagi para korban dan pengungsi . Pakar mengatakan, korban tsunami dan gempa Palu dan Donggala berisiko mengalami trauma psikologis.

Veronica Adesla, psikolog klinis dari Personal Growth, mengatakan diagnosis seseorang mengalami trauma psikologis hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater. Namun demikian, ada beberapa gejala trauma psikologis yang bisa terlihat, sehingga korban bisa mendapat rujukan untuk perawatan.

baca juga: Asrama Haji Sudiang Makasar Dijadikan Tempat Penampungan Para Pengungsi Gempa Sulbar

"Gejala trauma psikologis biasanya muncul selama lebih dari satu bulan semenjak terjadinya bencana alam terjadi," ujar Veronica, saat dihubungi Suara.com jaringan KLIKPOSITIF .com, baru-baru ini.

Dijelaskan Veronica, gejala trauma psikologis yang paling mudah terlihat adalah perubahan suasana dan mood korban. Korban bisa saja teringat kembali kejadian saat terjadinya gempa dan tsunami secara terus menerus dan terjadi di keseharian tanpa pemicu.

baca juga: Sampah di Padang Berkurang Selama Pandemi, DLH: Lebih 50 Persen

"Misalnya, tiba-tiba saja teringat kejadian gempa dan merasakan sedih, putus asa, ketakutan, dan tubuh bergetar," urai Veronica.

Pada anak kecil, gejala trauma psikologis ini dapat muncul ketika sedang bermain. Salah satu contohnya adalah memunculkan tema cerita atau simbol-simbol terkait gempa dan tsunami yang mereka alami.

baca juga: Kedepan Tak Ada Lagi Polisi Tilang Langsung di Jalan, Ini Langkah Komjen Listyo Sigit

Korban gempa dan tsunami juga rentan mengalami mimpi buruk terkait bencana alam yang mereka alami. Hal ini akan mmembuat perasaan mereka tidak nyaman, sedih, frustasi, bahkan takut dan terancam.

Sekali lagi, dampak trauma psikologis ini akan lebih berat dirasakan pada anak-anak. Mereka bisa saja menangis atau mengompol akibat mimpi buruk dan rasa takut yang dialami.

baca juga: Sah, Komisi III DPR Setuju Angkat Listyo Sigit Jadi Kapolri Baru

Dalam jangka panjang, trauma psikologis yang tidak ditangani dapat menimbulkan masalah serius. Korban gempa dan tsunami akan lebih sering berada dalam kondisi emosi negatif, mudah marah, cemas, dan panik yang berlebihan.

"Mereka juga akan kehilangan semangat, sulit konsentrasi, hingga tidak mau bekerja, merawat diri, dan bersosialisasi," tutupnya. (*)

Penulis: Eko Fajri