Beginilah Kondisi Terbaru Palu-Donggala Usai Terkena Bencana Serta Kebutuhan Mendesak yang Dibutuhkan

Begini kondisi situasi evakuasi korban bencana Gempa dan tsunami Palu-Donggala
Begini kondisi situasi evakuasi korban bencana Gempa dan tsunami Palu-Donggala (ACT)

KLIKPOSITIIF - Pada Senin (8/10) lalu, Aksi Cepat Tanggap ( ACT ) menyampaikan Situation Report terkait kondisi Tsunami Donggala- Palu . Laporan itu menyampaikan situasi terkini tentang kondisi di Palu -Donggala pasca Gempa dan Tsunami yang menerjang daerah tersebut.

Disampaikan bahwasannya, penyebab gempa tersebut diakibatkan oleh gempa ketiga setelah sebelumnya tejadi dua gempa awal dengan kekuatan yang cukup kuat sehingga memicu terjadinya tsunami saat gempa ketiga dengan kekuatan 7,4 Skala Richter (SR) yang terjadi pada pukul 17.02 WIB dan berpotensi tsunami. Gempa itu memiliki kedalaman 10 kilometer, berlokasi di 0.18 LS dan 119.85 BT (27 Km Timur Laut Donggala-Sulawesi Tengah). Informasi dari Humas BMKG, peringatan dini dinyatakan berakhir pada pukul 17.36 WIB atau sekitar setengah jam setelah terjadi gempa. Gempa ketiga mengakibatkan terjadinya tsunami di pesisir Kota Palu . Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono membenarkan adanya Tsunami di kawasan Palu , Donggala dan Mamuju usai gempa 7,4 SR mengguncang wilayah Donggala, Sulawesi Tengah. Gelombang tsunami berkisar 1 meter hingga 7 meter.

baca juga: Bantu Gerakan Ekonomi di Tengah Pandemi, ACT Padang Luncurkan Program Gerakan Bangkit Bangsaku

Gempa tersebut tidak menjadi gempa terakhir setelah terjadinya tsunami. Memang BMKG telah mengakhiri peringatan tsunami sejak 28 September 2018 pukul 17.36 WIB, tapi ternyata masih ada tercatat ratusan gempa susulan yang terjadi pasca tsunami tersebut. Gempa susulan masih terjadi hingga 7 Oktober 2018 pukul 22:00 WIB tercatat sebanyak 478 kali gempa susulan dengan 11 titik gempa di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Gubernur Sulawesi Tengah telah menerapkan masa tanggap darurat bencana gempabumi dan tsunami di Provinsi Sulawesi Tengah selama 14 hari (berlaku sejak 28/9/2018 hingga 11/10/2018), dikarenakan kondisi daerah yang terdampak bencana masih sangat mencekam. Terjadinya gempa tersebut mengakibatkan banyak jalanan serta bangunan yang hancur dan rusak parah. Selain itu, tsunami juga menghantam apa saja yang dilewatinya, yang juga membawa lumpur. Bahkan ada satu desa di daerah bencana yang terendam oleh lumpur. Dari data yang tercatat, wilayah yang terdampak bencana tersebut yakni Kota Palu , Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong. Sementara itu, ada 839 desa yang terdampak bencana tersebut di Sulawesi tengah dan 95 desa terdampak di Sulawesi Barat.

baca juga: ACT Lakukan Pembaharuan Logo, Miliki Makna dengan Tekad Membara, Apa Itu?

Selain itu, dari data yang berhasil dirangkum, tercatat 6.944 korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan dari berbagai lokasi bencana dengan kondisi yang berbeda-beda. Sementara ada 2.549 orang dengan kondisi luka berat. Data tersebut mencatat ada 683 orang hilang dan 74.444 pengungsi yang tersebar di 138 titik pengungsian.

Dampak tersebut tidak hanya berimbas pada WNI, tapi Warga Negara Asing(WNA) yang tengah berada di lokasi terjadinya bencana. Tercatat ada 61 warga asing dari berbagai negara luar Indonesia yang bahkan turut menjadi korban dengan rincian data sebagai berikut:
1. 1 orang WNA asal Singapura, sudah dievakuasi ke Jakarta.
2. 1 orang WNA asal Belgia, sudah dievakuasi ke Jakarta.
3. 1 orang WNA asal Korea Selatan, diduga meninggal dunia (diduga posisi di
Hotel Roa Roa di Palu yang runtuh karena gempa).
4. 3 orang WNA asal Perancis, kondisi belum diketahui.
5. 1 orang WNA asal Malaysia, kondisi belum diketahui.
6. 1 orang WNA asal Jerman di John Dive Resort Donggala, diperoleh informasi
kondisi aman.
7. 10 orang WNA asal Vietnam saat ini berada di posko Bandara Mutiara Palu ,
kondisi aman.
8. 32 orang WNA asal Thai di Palu , kondisi aman.
9. 21 orang WNA asal Tiongkok di Hotel Best Western Palu , kondisi aman.

baca juga: Lagi, ACT Sumbar Luncurkan Program Wakaf Modal Usaha Mikro untuk Masyarakat Ekonomi Lemah

Kerusakan: masih terus dilakukan pendataan. Informasi sementara yaitu
- Berbagai bangunan, mulai rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya ambruk sebagian atau seluruhnya. Diperkirakan puluhan hingga ratusan orang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.
- Pusat perbelanjaan atau mal terbesar di Kota Palu , Mal Tatura di Jalan Emy Saelan ambruk.
- Hotel Roa-Roa berlantai delapan yang berada di Jalan Pattimura rata dengan tanah. Di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang terisi oleh tamu hotel yang menginap.
- Arena Festival Pesona Palu Nomoni, puluhan hingga seratusan orang pengisi acara, sebagian merupakan para penari, belum diketahui nasibnya.
- Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat, di Jalan Kangkung, Kamonji, Kota Palu , roboh.
- Jembatan Ponulele yang menghubungkan antara Donggala Barat dan Donggala Timur roboh, jembatan yang menjadi ikon wisata Kota Palu roboh setelah diterjang gelombang Tsunami
- Jalur trans Palu -Poso-Makassar tertutup longsor

Untuk kondisi kelistrikan tersebut sudah cukup membaik meskipun masih dalam keadaan cukup parah. Karena 7 gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala, namun saat ini 6 gardu induk sudah mulai beroperasi kembali dan 70 persen beban listrik sudah menyala. Untuk fasilitas dan titik yang sudah mendapatkan aliran listrik seperti 9 Kantor Pelayanan Publik, 6 Rumah Sakit, 7 Bank, 7 SPBU dan 11 titik pusat ekonomi. Di sisi lain, untuk jaringan komunikasi, sebagian kecil BTS sudah mulai mendapatkan aliran listrik (5 BTS) dari 276 base station yang ada di wilayah Palu , Donggala dan sekitarnya. (data 4 Oktober 2018) dan jaringan data sebagian besar operator sudah kembali normal.

baca juga: Banjir Bandang di Sukabumi, Tim Tanggap Darurat ACT Siaga di Lokasi Bencana

Sementara untuk jalur transportasi udara, Bandara Mamuju memang mengalami kerusakan di bangunan tower, namun masih dapat berfungsi, Bandara Toli-Toli dan Bandara Poso dalam kondisi normal. Bandara Luwuk Bangai mengalami pergeseran tiang tower namun masih berfungsi dan Bandara Palu (Mutiara SIS Al-Jufrie) sudah mulai beroperasi sejak 3 OKtober 2018 namun dalam kondisi Tower lantai 4 runtuh, peralatan komunikasi rusak, pemancar radio rusak, jaringan Usat down, radar & VOR belum berfungsi, 500 meter dari 2.500 meter landas pacu atau runway retak akibat gempa. Landas pacu yang tersisa sepanjang 2.000 meter tersebut tidak dapat didarati pesawat jet berukuran besar, seperti Boeing 747 dan sejenisnya.

Untuk jalur laut, Pelabuhan Pantoloan (Kota Palu ) sudah mulai dapat digunakan. Quay crane (kran peti kemas) yang rusak sudah diperbaiki dan sudah mulai beroperasi untuk bongkar muat peti kemas. Sedangkan, Pelabuhan Ampana, Pelabuhan Luwuk, Pelabuhan Belang-belang dan Pelabuhan Majene kondisi baik dan tidak ada kerusakan akibat gempa.

Karena masih dalam masa tanggap darurat, untuk menyikapi bencana terserbut, berikut ini daftar kebutuhan mendesak untuk korban bencana Palu -Donggala:
1. Genset                                          9. Makanan bayi dan anak-anak
2. Alat Penerangan                          10. Dapur Umum
3. Tenda Pengungsian                     11. Air Bersih beserta tangki air
4. Tenda, terpal, selimut, velved      12. Hunian sementara
5. Kantor mayat                               13. Obat-obatan
6. Kain kafan                                   14. Tenaga Medis
7. Air minum                                    15. Rumah sakit lapangan
8. Bahan Makanan          

Penulis: Khadijah