Jalan Lintas Riau-Sumbar Longsor, Begini Kondisinya

Longsor di jalan lintas Riau - Sumbar
Longsor di jalan lintas Riau - Sumbar (BPBD)

KLIKPOSITIF -- Hujan deras pada Selasa menyebabkan longsor sehingga menutup Jalan Lintas Tengah Sumatera di Kabupaten Kampar, Riau , menuju Provinsi Sumatera Barat.

“Material yang longsor berupa tanah dan batu-batu besar sampai menutup setengah badan jalan,” kata Kepala Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar, Candra dilansir antara melalui riauexpose.com jaringan KLIKPOSITIF .com.

baca juga: Sekolah di Zona Kuning Diizinkan, KPAI Sebut Sangat Berbahaya

Ia mengatakan longsor diperkirakan terjadi sekitar pukul 13.30 WIB, tepatnya di KM 77 Desa Merangin Kecamatan Kuok, ketika Kampar dilanda hujan deras. Saksi mata disekitar tempat kejadian mengatakan, air hujan sempat mengalir deras hingga menggenangi jalan raya sebelum terjadi longsor .

“Debit air dorongan dari atas tebing sangat kuat,” ujarnya.

baca juga: Terus Berlanjut, Agam Tambah 2 Kasus COVID-19 Hari Ini

Ia mengatakan dampak dari longsor menyebabkan pengguna jalan ketakutan untuk melintas sehingga menimbulkan kemacetan. Baru setelah petugas BPBD Kampar, Dishub Kampar dibantu oleh Kepolisian Resor Kampar turun ke lokasi, kemacetan lalu lintas mulai bisa diurai.

“Dampaknya sempat setengah jam kendaraan menumpuk karena pengendara takut. Namun, sekarang kendaraan sudah bisa lewat bergantian dengan sistem buka-tutup,” kata Candra.

baca juga: Beda Dari Biasa, Ini Rekomendasi Lomba HUT RI 17 Agustus di Masa Pandemi

Ia mengatakan material batu dan tanah longsor sudah mulai digeser, dan petugas kini menunggu alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk pembersihan menyeluruh.

Ini bukan pertama kali terjadi longsor di KM 77 karena kondisi tebing berbatu cukup curam dan mudah terkikis air hujan.

baca juga: Ini Cara Cetak Kartu Ujian SKB Bagi CPNS

Candra mengatakan di sepanjang jalan Riau - Sumbar ada beberapa titik rawan longsor mulai dari KM 77 hingga KM 81.

“Ini bukan yang pertama dan bukan yang terakhir karena kemungkinan (longsor) lebih parah bisa terjadi. Dari KM 77 sampai KM 81 tebing batunya sudah retak-retak dan ini juga jadi aktivitas penambangan batu oleh masyarakat,” katanya. (*)

Penulis: Eko Fajri