Longsor Bawah Laut Bisa Picu Tsunami di Sumbar

Peta potensi longsor bawah laut
Peta potensi longsor bawah laut (Ade Edward)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Longsor bawah laut yang memicu terjadinya tsunami di kawasan Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu ternyata juga berpotensi terjadi di Sumbar.

Jika di Sulawesi Tengah tsunami terjadi setelah 4 menit terjadinya gempa , atau kurang dari lima menit, maka di Sumbar juga akan mengalami hal serupa.

baca juga: Gempa di Pessel, Dirasakan di Sejumlah Daerah di Sumbar

“Jika dihitung berdasarkan kecepatan gelombang tsunaminya, untuk di kawasan pesisir Timur Siberut Mentawai tsunaminya bisa terjadi 3-5 menit setelah gempa , sementara di Kota Padang waktunya bisa terjadi 10-15 menit setelah gempa ,” ujar Ahli Geologi dari Sumbar, Ade Edward, Senin 29 Oktober 2018.

Untuk diketahui, kecepatan tsunami bisa mencapai 800 kilometer perjam di tengah laut. Semakin ke darat, kecepatannya semakin berkurang, namun gelombangnya semakin tinggi.

baca juga: Rabu Pagi, Warga Pessel Dikejutkan Gempa

Ade Edward mengatakan, potensi longsor bawah laut ini sebenarnya telah dipublikasikan oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 2008 lalu setelah melakukan riset kelautan PreTI-Gap 2008. Dari hasil riset itu diketahui, Kepulauan Mentawai juga memiliki potensi longsor tebing dasar laut (submersible landslide).

“Setiap sisi Timur di Pulau Mentawai , ada tebing bawah laut setinggi 1.000 meter. Tapi ukuran terbesar ada di Siberut. Kalau tebing terjalnya lebih panjang, maka potensi tsunaminya lebih besar pula,” jelas Ade.

baca juga: Tinjau Alat Peringatan Dini Gempa, Ini Pesan Bupati Irfendi Arbi

Menurut Ade Edward, longsor bawah laut ini tidak harus dipicu oleh gempa megathrust. Menurutnya, gempa Magnitudo 7 yang terjadi di sekitar tebing itu cukup memicu terjadinya longsor bawah laut dan mengakibatkan terjadinya tsunami yang dahsyat.

“Sampai saat ini kawasan Siberut belum ada gempa bermagnitudo 6 ke atas. Padahal daerah ini merupakan kawasan gempa . Ini yang sangat dikhawatirkan,” ulas Ade.

baca juga: Guncangan Gempa Magnitudo 4,7 Tak Dirasakan Warga Mentawai

Meski Siberut sangat rawan gempa , namun hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa itu terjadi.

Dengan ancaman longsor bawah laut ini, Ade Edward berharap kepada pemerintah dan pihak terkait untuk mendesain ulang sistem peringatan dini tsunami , yang disesuaikan dengan ancaman tsunami -nya.

“Dari 2008 sampai kini belum ada tindakan menyesuaikan peralatan monitor sistim peringatan dini. Yang ada justru peralatan yang sudah terpasang tidak terawat, sehingga tidak berfungsi,” katanya.

Ade Edward juga berharap kepada masyarakat untuk lebih cepat merespon gempa dan mampu mengambil keputusan mandiri secara benar, serta melakukan evakuasi mandiri ke tempat tinggi terdekat, mengingat ancaman tsunami sangat dekat dan mematikan. (*)

Penulis: Iwan R