Selain Tambang, WNA di Limapuluh Kota Juga Menggeluti Pekerjaan Ini

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

LIMAPULUH KOTA , KLIKPOSITIF Bekerja dibagian pertambangan bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti Warga Negara Asing ( WNA ) yang beberapa waktu belakangan diketahui cukup banyak mendatangi Kabupaten Limapuluh Kota .

Berdasarkan penelusuran  KLIKPOSITIF .COM di beberapa kecamatan lain di daerah tersebut, juga terdapat warga asing yang bekerja di pabrik pengolahan gambir dan pabrik pengering pinang.

baca juga: Tinjau Alat Peringatan Dini Gempa, Ini Pesan Bupati Irfendi Arbi

Untuk pabrik pengolahan gambir sendiri terdapat di Nagari Pangkalan Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Di lokasi tersebut diketahui terdapat belasan warga asing. Berbeda dengan lokasi tambang, di pabrik pengolahan gambir ini WNA -nya berasal dari Negeri India.

Wali Nagari Pangkalan Rifdal Laksamano yang dihubungi KLIKPOSITIF , Selasa 27 November 2018 menyebut, kedatangan warga asing di sana silih berganti dan tidak pernah melapor ke pihak nagari. Berdasarkan keterangan warga yang bekerja di sana kepada pihak nagari, ada belasan warga India di pabrik gambir tersebut.

baca juga: "Camping Menggulai Kambing" Cara Pemuda Kayu Kolek Pulihkan Kembali Pariwisata

“Berdasarkan informasi warga ada belasan orang asing di sana tapi yang memiliki surat lengkap hanya sembilan orang,” katanya.

Dijelaskannya, sembilan warga asing tersebut sudah habis masa surat tinggal atau domisili untuk menetap di Nagari Pangkalan. Pasalnya, orang-orang tersebut terakhir kali mengurus surat untuk menetap ke pihak nagari sekitar tujuh bulan lalu.

baca juga: Booming Sepeda Sanki di Payakumbuh, Minions Rider Restorasi Sepeda Jadul Jadi Trendi

“Surat domisili itu berlakunya hanya untuk enam bulan. Sekarang masa surat itu sudah habis tetapi tidak ada warga asing itu melaporkan kembali ke pihak nagari,” lanjut Rifdal.

Sementara itu, untuk pabrik pengering pinang diketahui terdapat di Nagari Batu Payuang, Kecamatan Lareh Sago Halaban. Di sini warga asingnya diketahui berasal dari Cina. Sayangnya, jumlah warga Cina di sana belum bisa diketahui dengan pasti karena informasi dari pihak kenagarian dengan kecamatan tidak sinkron.

baca juga: Alasan Keselamatan, Belajar Tatap Muka di Lima Puluh Kota Diundur

Berdasarkan keterangan dari pihak kenagarian Batu Payuang jumlah warga asing di sana berjumlah   lima orang. Sedangkan informasi dari Kecamatan Lareh Sago Halaban, warga asing di sana hanya berjumlah satu orang.

Pj Walinagari Batu Payuang Hardian mengatakan, sampai sekarang ini warga asing di sana sudah pergi dan tidak lagi bertempat tinggal di daerah tersebut.  “Kini pabrik pengeringan pinang tidak berfungsi. Orang asing tidak ada lagi. Sudah lama mereka pergi,” ucap Hardian.

Dijelaskannya, awalnya ada lima warga asing yang berkewarganegaraan Cina mendatangi Nagari Batu Payuang dan bekerja di pabrik pengeringan pinang. Berselang beberapa hari, dua dari lima warga asing tersebut pergi meninggalkan Batu Payuang.

“Karena adanya keluhan dari masyarakat terhadap pengoperasian pabrik pengeringat pinang, akhirnya pabrik tersebut dihentikan. Pabrik pengeringan pinang tersebut pengoperasiannya masih manual. Sehingga asap dari pabrik dikeluhkan warga. Karena itu pengoperasian pabrik dihentikan. Pabrik tidak beroperasi, tiga warga Cina yang tersisa, akhirnya pergi dan tidak kembali,” ucapnya.

Di sisi lain, Camat Lareh Sago Halaban, Elfi Zein mengatakan kalau di daerahnya memang terdapat satu orang asing yang sering bolak-blik ke pabrik pengeringan pinang.  Menurut camat , kedatangan warga asing itu hanya sekedar melihat pinang yang akan diekspor. Mereka juga tidak bisa berbahasa Indonesia.

“Dulu, tim Imigrasi sudah ke lokasi tetapi tidak ketemu (dengan yang bersangkutan). Hal itu karena waktu kedatangan warga asing ini juga tidak menentu,” jelasnya.

[Taufik Hidayat Kampai]

 
 
 

Penulis: Rezka Delpiera