Es Laut Tertua Perlahan Menghilang, Ilmuwan Sebut Itu Pertanda Buruk

Bongkahan es tertua yang terlepas di Kutub Utara.
Bongkahan es tertua yang terlepas di Kutub Utara. (net)

KLIKPOSITIF -- Sebagian besar es laut tertua di dunia dilaporkan telah menghilang dan hal itu harus diperhatikan oleh umat manusia. Temuan terbaru mengungkapkan bahwa hilangnya es laut tertua di dunia dapat berakibat buruk bagi lingkungan.

Es yang ada di laut Arktik belum pernah mencapai usia semuda ini sebelumnya. Hal itu dikarenakan es yang berumur tua ternyata telah meleleh dalam beberapa dekade terakhir. Temuan yang dirilis pada Selasa lalu dan mengungkapkan bahwa itu bisa menjadi pertanda buruk bagi kawasan Arktik.

baca juga: Meski Tiga Negara Besar Absen, Program Vaksin WHO Terus Jalan

Kenaikan temperatur suhu udara dan samudra, mengantar es laut tertua di dunia menuju spiral kematian. Wilayah yang dulunya ditempati oleh es tertua di dunia kini berkurang sebesar 95 persen dibandingkan dengan keadaan yang sama tiga dekade lalu.

Para ilmuwan yang tergabung dalam National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) melaporkan penemuan ini dalam pertemuan tahunan Arctic Report Card. Fenomena dari mencairnya es di Arktik merupakan tanda-tanda bahwa perubahan iklim sedang kita hadapi.

baca juga: Presiden AS Minta PBB Desak Cina Bertanggung Jawab Atas Pandemi Corona

Tahun lalu adalah rekor terpanas kedua untuk wilayah tersebut dan itu membuat cakupan es menyusut signifikan. Air yang berada di Atlantik sekarang sedang menuju Samudra Arktik sehingga membuat lapisan Permafrost mencair. Es tua cenderung tebal dan tahan lama, bertindak sebagai 'penahan' atau jangkar es selama musim panas berlangsung.

Namun, es padat tertua di dunia ternyata tidak sanggup menahan suhu ketika perubahan iklim terjadi. Suhu udara di Kutub Utara telah menghangat dua kali lebih besar daripada bagian dunia lain. Dikutip dari Gizmodo, gelombang panas ditambah dengan badai yang kuat telah memecah cengkeraman es tertua di dunia.

baca juga: Mengaku Reinkarnasi Yesus, Pemimpin Sekte Ini Ditangkap

Arctic Report Card mengungkap bahwa pada bulan Maret 1985, es berumur empat tahun ke atas meliputi area sebesar 1.578.284 kilometer persegi. Bulan Maret 2018, lapisan es berumur tua mencakup 209.214 kilometer persegi. Es Arktik tua sekarang menutupi kurang dari 1 persen wilayah Samudera Arktik.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Arktik dapat mengalami musim panas bebas es pada tahun 2030 jika emisi karbon terus meningkat. Itu merupakan pertanda buruk bagi beruang kutub karena gumpalan es yang ada di darat akan menghilang.

baca juga: Pentingnya 3 M, Tom Frieden: Tak Ada Akhir Seperti Cerita Dongeng Untuk Pandemi

Penurunan jumlah es juga membuat Arktik lebih mudah diakses. Itu bisa mengakibatkan konflik karena di wilayah tersebut kaya akan cadangan minyak, gas, dan mineral. Beberapa negara akan berbondong-bondong memperebutkan sumber daya tersebut sehingga rawan akan konflik.

Ilmuwan memprediksi bahwa hal itu akan menjadi masalah besar bagi AS dan juga negara di sekitar Arktik lainnya. Hilangnya es laut tertua di dunia akan menjadi kabar buruk bagi keberlangsungan iklim yang ramah di Bumi. (*)

sumber: HiTekno

Penulis: Agusmanto