Choirul Mustafa: Masyarakat Merupakan Komponen dalam Bela Negara

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF - Perwakilan Kemenhan RI, Kolonel inf Choirul Mustafa menyebutkan masyarakat merupakan bagian pasukan cadangan yang akan membantu militer untuk menjaga pertahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ), tanpa harus mengikuti wajib militer.

Menurutnya, ancaman saat ini bukan saja dalam bentuk perang secara fisik, namun lebih kepada perang ilmu pengetahuan teknologi dan budaya. Untuk itu masyarakat harus berperan jika ada bentuk-bentuk yang bisa memecah belah yang ujungnya mengacam keamanan negara.

baca juga: Sekolah di Zona Kuning Diizinkan, KPAI Sebut Sangat Berbahaya

"Pasukan cadangan tersebut bukan wajib militer yang diberlakukan negara dalam kondisi damai, namun menampung kesadaran masyarakat yang selama ini aktif dalam bela negara ," katanya, Rabu malam (19/12) saat kegiatan Malam Resepsi Bela Negara di Auditorium Gubernuran Sumbar .

Choirul Mustafa menjelaskan kebutuhan pasukan cadangan tersebut, karena jumlah personel Tentara Negara Indonesia (TNI) masih kurang atau jumlah masyarakat lebih besar dibandingkan TNI. Sementara itu intervensi dari negara luar sangat mengganggu.

baca juga: Terus Berlanjut, Agam Tambah 2 Kasus COVID-19 Hari Ini

"Sampai saat ini Indonesia masih belum memiliki kekuatan besar dalam pertahanan dan keamanan negara. Maka masyarakat termasuk dalam komponen bela negara ," jelasnya.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menyampaikan bela negara berkaitan dengan semangat menyiap generasi muda yang memiliki daya saing secara global. Mau tidak mau kita akan memasuki era revolusi industri keempat (four point ziro/4.0). Dimana segala sesuatu telah memanfaatkan kemajuan super teknologi informasi, karena itu kita butuh generasi yang cerdas dan berkarakter kebangsaan yang tinggi.

baca juga: Beda Dari Biasa, Ini Rekomendasi Lomba HUT RI 17 Agustus di Masa Pandemi

Untuk menyiapkan generasi tersebut, maka narkoba dan LGBT mesti dibasmi di bumi Sumbar . Jika tidak semua apa yang dilakukan akan sia-sia generasi emas yang diharapkan tahun 2045, dimana Indonesia masuk Lima negara terbesar di dunia.

"Oleh karena persoalan narkorba dan LGBT yang menghancurkan masa depan bangsa mesti secara bersama-sama diawasi dan berantas untuk kebaikan masa depan generasi muda sebagai penerus perjuangan bangsa," ujarnya. (Joni Abdul Kasir)

baca juga: Ini Cara Cetak Kartu Ujian SKB Bagi CPNS

Penulis: Eko Fajri