Jarang Terjadi, Begini Analisa 4 Pakar Inggris Soal Tsunami Selat Sunda

Erupsi Gunung Anak Krakatau jadi penyebab Tsunami Selat Sunda
Erupsi Gunung Anak Krakatau jadi penyebab Tsunami Selat Sunda (Net)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Empat peneliti tsunami asal Inggris menganalisa bencana memorakporandakan Banten  dan Lampung pada Sabtu 22 Desember 2018 akhir pekan lalu.

Richard Teeuw, peneliti tsunami dari University of Portsmouth Inggris, mengatakan kalau aktivitas vulkanik GAK berlanjut, kemungkinan adanya tsunami lain tidak dapat diabaikan.

baca juga: Buka Jalur Evakuasi Baru, Warga Padang Usulkan Nama Jalan Prabowo

"Kemungkinan, tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap ada ketika gunung berapi Anak Krakatau sedang melalui fase aktif saat ini. Karena itu, mungkin akan memicu tanah longsor lebih lanjut," kata Teeuw, dikutip dari Channel News Asia.

Jacques-Marie Bardintzeff, peneliti tsunami lainnya dari University of Paris-South juga memperingatkan masyarakat untuk waspada karena gunung berapi sedang tidak stabil.

baca juga: Turki Diguncang Gempa, Tsunami Kecil Sempat Muncul

Menurut dia, survei sonar sekarang diperlukan untuk memetakan dasar laut di sekitar gunung berapi.

"Tapi, sayangnya survei kapal selam biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diorganisasi dan dilaksanakan," ujar Bardintzeff.

baca juga: Gempa 7,0 SR Landa Laut Aegea dekat Yunani dan Turki, Begini Kondisinya

" Tsunami dahsyat yang disebabkan oleh letusan gunung berapi jarang terjadi. Salah satu yang paling terkenal (dan mematikan) disebabkan oleh letusan Krakatau pada 1883," kata dia.

Ia menambahkan, Gunung Anak Krakatau telah aktif sejak Juni 2018.

baca juga: Gempa Magnitudo 7,5 di Alaska, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami di Indonesia

David Rothery dari Open University di Inggris menjelaskan, tsunami yang melanda pesisir selatan Sumatera dan Jawa barat tampaknya disebabkan oleh keruntuhan bawah air dari GAK.

Anak Krakatau adalah pulau baru yang muncul sekitar 1928 di kawah yang ditinggalkan oleh Gunung Krakatau. Gunung Krakatau meletus pada 1883 yang letusan besarnya menewaskan sedikitnya 36 ribu orang.

Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda antara Pulau Jawa dan Sumatra, dekat dengan zona padat penduduk.

"Ombak semacam itu sarat dengan puing, dapat mematikan bagi masyarakat pesisir, terutama jika tidak ada peringatan," tutur Teeuw.

Simon Boxall dari Southampton University menambahkan, wilayah itu juga berada dalam gelombang musim semi.

Menurut dia, akan terlihat gelombang menghantam beberapa wilayah pantai pada titik tertinggi dan memperburuk kerusakan yang terjadi.(*)

Sumber: Suara.com

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa