Tsunami di luar Perkiraan, Presiden Minta BMKG Beli Alat Sistem Peringatan Dini

Dampak tsunami yang melanda Selat Sunda
Dampak tsunami yang melanda Selat Sunda (BNPB)

NASIONAL, KLIKPOSITIF -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, pola bencana tsunami di Selat Sunda terjadi di luar perkiraan BMKG (Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika) sehingga masyarakat tidak memiliki kesiapan untuk menyelamatkan diri.

Ia menyebutkan, biasanya peringatan akan potensi terjadinya tsunami dapat dikeluarkan dengan terlebih dahulu menganalisis secara cepat data gempa yang sebelumnya terjadi.

baca juga: Berkat Medsos, Ayah dan Anak yang Terpisah Belasan Tahun Karena Tsunami Aceh Akhirnya Bertemu

Namun, tidak demikian halnya kali ini yang tanpa didahului oleh peristiwa gempa.

"Ke depan saya sudah perintahkan juga ke BMKG untuk membeli alat-alat early warning system yang bisa memberikan peringatan-peringatan secara dini kepada kita semua sehingga masyarakat bisa waspada," katanya.

baca juga: Andi Taufan Garuda Putra Mundur dari Staf Khusus Milenial Presiden

Mengenai banyaknya jumlah korban yang ditimbulkan dari bencana tsunami di Selat Sunda , Sabtu (22/12) malam, Jokowi mengaku telah menginstruksikan jajaran terkait untuk memasukkan pendidikan kebencanaan dalam kurikulum pendidikan.

Upaya ini dilakukan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan sejak dini terkait kebencanaan sehingga dapat meminimalisir jumlah korban.

baca juga: Gunakan Data Seismik, Ilmuwan Temukan Potensi Tsunami di Dekat Calon Ibu Kota Baru Indonesia

"Sudah saya perintahkan (memasukkan pendidikan kebencanaan ke kurikulum)," ujar dia.

Sementara itu Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementerian ESDM, dalam siaran persnya menyebutkan, tsunami yang terjadi pada Sabtu (22/12) malam kemungkinan besar dipicu oleh longsoran atau jatuhnya sebagian tubuh dan material Gunung Anak Krakatau (flank collapse) khususnya di sektor selatan dan barat daya.

baca juga: Presiden Jokowi Tetapkan Social Distancing Terkait Virus Corona, Apa Itu?

“Masih diperlukan data tambahan dan analisis lebih lanjut untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang berperan,” tulis siaran pers itu.

Menurut PVMBG, tsunami yang terjadi adalah kasus yang spesial dan jarang terjadi di dunia, serta masih sangat sulit untuk memperkirakan kejadian partial collapse pada suatu gunungapi.

Untuk itu, pemantauan tsunami di tengah Selat Sunda baik dengan pemasangan peralatan pemantau (stasiun pasang surut di Pulau sekitar Gunung Anak Krakatau dan/atau BUOY) maupun pemantauan visual dengan penginderaan jauh, sangat diperlukan.

Hingga saat ini, lanjut PVMBG, erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung menerus. Untuk itu PVMBG mengimbau masyarakat di pesisir barat Banten dan pesisir selatan Lampung agar tetap waspada.

Untuk sementara waktu tidak beraktivitas di wilayah yang terlanda tsunami hingga kondisi memungkinkan.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa