Dulunya Kumuh, Kini Jorong Tabek Bertransformasi Menjadi Kampung “Seribu Bunga” di Ranah Minang

Gapura KBA Astra International di pintu gerbang utama Jorong Tabek
Gapura KBA Astra International di pintu gerbang utama Jorong Tabek (Riki Suardi)

Jorong Tabek terus bersolek seiring semakin mekarnya ribuan kembang bunga yang mengitari pemukiman penduduk di daerah yang dulunya nampak kumuh tersebut. Bahkan saking mekarnya, masyarakat pun menamai Jorong Tabek sebagai kampung "seribu bunga"


Laporan Riki Suardi - Kabupaten Solok

Jorong Tabek merupakan salah satu Jorong di Nagari (Desa) Talang Babungo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok , Provinsi Sumatera Barat, yang dielu-elukan sebagai satu-satunya Kampung Berseri Astra (KBA) di Ranah Minang.

Jorong atau kampung ini, terletak di antara tiga destinasi alam di Kabupaten Solok , yaitu Gunung Talang yang menjulang setinggi 2.597 mdpl yang berada di bagian barat, dan Danau Diateh di bagian selatan, serta Danau Dibawah di bagian utara Jorong Tabek

Kebanyakan masyarakat atau wisatawan yang datang berkunjung ke lokasi wisata di Kabupaten Solok , Danau Diatas dan Danau Dibawah disebut sebagai Danau Kembar yang dipisahkan oleh daratan.

Secara geografis, Jorong Tabek yang juga dikenal sebagai sentral perkebunan tebu di Sumatera Barat itu, berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat Pemerintahan Kabupaten Solok di Arosuka, atau sekitar 12 Kilometer dari Pasar Alahan Panjang.

Sabtu, 29 Desember 2018,  KLIKPOSITIF .com berkunjung ke Jorong Tabek untuk melihat keunikan daerah yang disebut sebagai kampung "seribu bunga" di daerah berhawa sejuk tersebut. Akses jalan dari Pasar Alahan Panjang menuju kampung yang dulunya merupakan salah satu desa tertinggal di Kabupaten Solok itu berlika-liku. 

Bagi yang tidak terbiasa, berkunjung ke Jorong Tabek dengan mengendarai kendaraan harus ekstra hati-hati. Jika lengah, maka nyawa taruhannya, karena di sisi kiri dan kanan jalan terdapat jurang berkedalaman mencapai 20 meter, dan terdapat batu-batu besar menjulang dari dasar sungai yang ada di bawah jurang tersebut. 

Kemudian, tikungan jalan yang cukup tajam dari Pasar Alahan Panjang menuju Jorong Tabek juga turut menjadi ancaman, karena di sepanjang tikungan tersebut tidak terdapat covex mirror atau cermin cembung untuk keselamatan pengguna jalan ketika melewati tikungan tersebut. Meski begitu, tebing berbukit yang ditumbuhi rindangnya pohon pinus yang menjulang tinggi, membuat perjalanan menuju Jorong Tabek penuh warna.

Setelah melewati tebing berbukit, tibalah di Nagari Talang Babungo, tepatnya di Jorong Bulakan. Kemudian sekitar lima menit lamanya perjalanan, sampailah di pertigaan Masjib Baitu' Shafa. Lalu belok kiri sejauh 50 meter. Setelah itu, belok kiri lagi dan sampailah di Gapura KBA yang merupakan gerbang utama Jorong Tabek .

Empat Pilar KBA Ubah Mainsed Masyarakat

Kondisi di Jorong Tabek saat ini jauh berbeda dibandingkan tiga tahun silam, atau sebelum masuknya Astra International pada awal tahun 2016 lalu ke kampung yang dihuni oleh 430 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa lebih kurang 2.000 orang tersebut.

Jika sebelumnya di kampung ini banyak sampah berserakan, kini seiring adanya sentuhan dari Astra International melalui program KBA yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan otomotif tersebut, Jorong Tabek kini telah bertransformasi menjadi kampung yang bersih dan asri.

Bahkan keasrian kampung itu, terasa makin lengkap dengan tumbuh suburnya aneka jenis bunga yang memekar di sisi kiri dan kanan jalan beton selebar lebih kurang empat meter tersebut, termasuk di perkarangan rumah-rumah warga Jorong Tabek .

Beberapa jenis bunga yang ditanami warga secara bergotong-royong itu di antaranya, bunga Lavender dan berbagai jenis bunga Piladang, bungo Lidah Mertua, bunga Bougenvil, bunga Panah Asmara, bunga Dahlia, dan bunga Calendula Officinalis. Berbagai jenis bunga itu juga mengitari sepanjang jalan Jorong Tabek yang menurun dan menanjak. 

baca juga: Uji Klinis Vaksin Covid-19 Indonesia Gunakan Metode Farmakologi, Apa Itu?

Gapura di salah satu zona KBA Jorong Tabek dan halte dengan ciri khas Ranah Minang, tampak berdiri megah. Foto: Riki Suardi

baca juga: Dinkes Pariaman Ingatkan Bahaya Penyakit Kusta, Ajak Masyarakat Lakukan Hal Ini

Kemudian di samping itu, di sepanjang jalan di Jorong Tabek juga terdapat 12 gapura dan 33 halte dengan arsitektur khas Ranah Minang berupa atap bagonjong. Beberapa di antaranya, juga ada halte yang beratap payung. Sebagian material halte maupun gapura berasal dari bambu, batang aren yang sudah tua dan ijuk. Sedangkan untuk atap halte berbentuk payung, terbuat dari jaring parabola bekas yang dilapisi ijuk.

"Gapura dan halte itu kami bangun dengan cara bergotong-royong. Gapura merupakan pembatas dari 11 zona KBA Jorong Tabek . Disetiap zona terdapat tiga halte yang bisa dimanfaatkan untuk bersantai bagi masyarakat sambil bertukar pikiran, maupun tamu yang datang berkunjung ke Jorong Tabek ," kata Koordinator Lingkungan KBA Jorong Tabek , Jasrial saat ditemui KLIKPOSITIF .com, di Jorong Tabek , Sabtu sore.

Sebelum KBA berdiri, lanjutnya, memang banyak sampah berserakan di badan jalan, maupun di perkarangan rumah warga. Kemudian di sisi kiri dan kanan jalan ini, juga ditumbuhi semak belukar dan rumput liar. Tapi sejak adanya program KBA dari perusahaan otomotif yang berdiri pada 1957 silam itu, Jorong Tabek kini sudah bersih dan nampak indah di pandang mata. 

Masyarakat yang dulunya terbiasa membuang sampah di sembarangan tempat, kini malah mengumpulkan sampah yang berserakkan itu untuk dimanfaatkan. Bahkan hingga kini, membersihkan lingkungan dari sampah sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jorong Tabek sehari-hari.

Begitu juga dengan semak belukar dan rumput liar yang dulunya dibiarkan begitu saja tumbuh di sisi jalan, termasuk di perkarangan rumah warga, kini lenyap sudah seiring ditanamnya berbagai jenis bunga oleh masyarakat dengan rapi. Bahkan, hampir tak sejengkal pun tanah yang dibiarkan kosong oleh tanaman bunga.

"Bunga kami tanam supaya semak tidak cepat tumbuh, sehingga kami tak perlu lagi sering-sering bergotong-royong untuk membersihkan semak yang menjalar di sisi jalan. Namun  tujuan utama bagi kami, bagaimana citra kampung yang berpuluhan tahun ditumbuhi semak dan sampah yang berserakan, menjadi kampung ramah lingkungan dan sehat untuk masyarakat," ujar Jasrial.

baca juga: Menperin Khawatir Virus Baru Akan Muncul dan Lebih Mematikan dari COVID-19

Berbagai jenis bunga yang memekar menghiasis sisi dan kiri kanan jalan Jorong Tabek . Foto: Riki Suardi


Di samping kampung menjadi ramah lingkungan dan sehat untuk masyarakat, Jasrial juga menyebut bahwa sampah yang dipungut juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan bakar untuk industri pembuatan gula tebu, termasuk pembuatan gula aren, karena di daerah ini juga terdapat banyak pohon aren.

"Sebenarnya tidak semua sampah yang dipungut bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar pabrik pembuatan gula tebu dan aren, karena sampah yang dijadikan bahan bakar adalah kayu yang tidak bisa diolah dan dedaunan yang berjatuhan dari pohon," ujarnya.

Sementara itu, Ketua KBA Jorong Tabek , Kasri Sastra, mengatakan bahwa pemanfaatan sampah dan ditanamnya berbagai jenis bunga di sisi kiri dan kanan jalan oleh masyarakat, merupakan salah satu dari empat pilar program KBA yang didukung penuh oleh CSR Astra International , yaitu pilar Lingkungan

Sedangkan tiga pilar lainnya, sebut alumni Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang itu, adalah Kesehatan , Pendidikan dan Kewirausahaan . "Keempat pilar ini menyatu dalam konsep pemberdayaan dan pengembangan sumber daya masyarakat, termasuk potensi yang ada di Jorong Tabek ,” kata pria yang akrab disapa Kasri tersebut.

Seperti pilar Lingkungan yang menyatu dengan pilar Kewirausahaan misalnya. Pria kelahiran 15 November 1978 itu menyebut pilar Lingkungan seperti menamam bunga dan membersihkan sampah, juga dapat mendukung kegiatan kewirausahaan masyarakat petani tebu dan aren.

baca juga: Ada Dana POP, Kemendikbud Diminta Subsidi Pendidikan Jarak Jauh

Bahkan selain sampah yang dipungut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pabrik gula tebu dan aren, sampah tersebut juga diolah menjadi pupuk organik untuk tanaman bunga, serta tanaman tebu dan aren milik masyarakat Jorong Tabek .

Jalan di Jorong Tabek tampak bersih dan asri. Sepanjang jalan juga terdapat sejumlah tong sampah. Foto: Riki Suardi

Kemudian sebagiannya lagi didaur ulang menjadi kerajinan bernilai usaha. Seperti sampah kertas dan plastik contohnya, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk membuat souvenir berupa mainan kunci, bros dan gelang yang tentunya bisa dijual oleh masyarakat. Kemudian sampah lainnya yang tidak bisa dimanfaatkan, 
dimasukkan ke tong sampah yang telah disediakan di sejumlah tempat di sepanjang jalan.

"Pemanfaatan sampah untuk kerajinan itu dilakukan setelah masyarakat mendapat palatihan dari Universitas Andalas yang difasilitasi oleh Astra International pada Oktober kemarin. Saat ini, pemanfaatan sampah untuk souvenir tersebut masih terus disempuranakan sampai hasilnya benar-benar bernilai ekonomis," ujarnya.

Selain pemanfaatan sampah untuk kerajinan bernilai ekonomis, Kasri juga menyebut bahwa Astra International juga akan memberikan bantuan mesin pembuatan gula semut dari air tebu. Bantuan tersebut diberikan, karena sebelumnya perusahaan yang berpusat di Jakarta itu juga telah memfasilitasi masyarakat untuk pelatihan pembuatan gula semut.

"Kalau mesin pembuatan gula semut sudah sampai ke Jorong Tabek ini, tentu semangat petani tebu akan semakin bergairah, karena dapat menambah sumber pendapatan baru masyarakat. Apalagi, harga jual gula semut jauh lebih mahal dari gula tebu. Kalau gula tebu hanya Rp10 ribu/kg, gula semut tebu bisa dijual seharga Rp30 ribu/kg," beber Kasri.

Perkebunan tebu seluas lebih kurang 1.000 Ha yang dilengkapi dengan pabrik pembuatan gula tebu di Jorong Tabek ini, lanjutnya, juga disinergikan dengan usaha peternakan sapi milik masyarakat. Di mana, ampas tebu dari pabrik pembuatan gula tebu, juga dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi.

"Jadi, banyak manfaat dari pilar Kewirausahaan dan pilar Lingkungan yang telah disinergikan dengan usaha masyarakat di Jorong Tabek ini," tuturnya.

Di industri gula tebu ini, Kasri juga mengatakan bahwa Astra International melalui KBA, juga ikut berperan dalam menekan biaya produksi tebu gula, yaitu memberikan bantuan dana sebesar Rp15 juta untuk biaya pengecatan dinding pabrik gula tebu dan pembuatan dua tungku baru yang ramah lingkungan . Bahkan, tungku baru itu juga dilengkapi dengan blower asap.  

“Jadi, asap dari tungku tidak lagi mengepul di dalam pabrik, karena asap sudah ditarik oleh blower dan keluar melalui cerobong asap. Dan masyarakat yang tengah memproduksi gula tebu juga tidak kepanasan di dalam pabrik. Dengan adanya tungku baru ini, biaya produksi gula tebu juga berhasil ditekan hingga mencapai 50 persen, karena  dua tungku baru ini bisa memanaskan tujuh kancah (kuali besar) untuk memanaskan air tebu. Kalau sebelumnya, satu kancah satu tungku,” ujarnya.

Terkait pilar Pendidikan , Kasri menuturkan bahwa pilar itu juga berintegrasi dengan pilar Lingkungan dan juga Kesehatan di samping KBA Tabek bekerjsama dengan Posyandu Kecubung. Untuk pendidikan , anak-anak usia dini, telah dididik untuk terbiasa membersihkan lingkungannya dengan memungut sampah dan meletakkannya di tempat sampah yang telah disediakan, sehingga Jorong Tabek menjadi daerah ramah lingkungan dan sehat untuk masyarakat.

Seperti siswa Madrasyah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muallimin, Jorong Tabek , Nagari Talang Babungo, contohnya. Setiap pagi, siswa tersebut diajak untuk memungut sampah yang berserakkan di jalanan untuk dimasukkan ke tong sampah bantuan dari Astra International . Kemudian untuk sampah plastik dan kertas, juga dimanfaatkan untuk kerajinan.

Ketua KBA Jorong Tabek , Kasri Sastra memperlihatkan hasil kerajinan siswa MIS Muallimin berupa kursi yang terbuat dari sampah botol air mineral bekas dan sampah plastik serta kertas. Foto: Riki Suardi 

Salah satu kerajinan siswa MIS, adalah membuat kursi dari botol air mineral yang dilekatkan dengan lem plastik. Di dalam botol bekas itu, terdapat sampah kertas dan plastik yang dipungut siswa. Cara pembuatan kursi dari sampah kertas dan plastik itu didapat melalui study banding program ecobrick ke Yogyakarta yang juga difasilitasi oleh Astra International pada 2016 lalu.

"Saya kebetulan guru olahraga dan bahasa Arab di MIS. Jadi, saya ajarkan anak-anak sejak dini untuk peduli dengan lingkungan , supaya kalau sudah besar mereka terbiasa hidup bersih dan sehat. Kemudian terkait study banding program ecobrick, itu diikuti oleh salah seorang siswa, seorang guru di MIS bernama Agrestoni," bebernya.

Program ecobrick berupa pembuatan kursi dari sampah itu, kata Kasri melanjutkan, dinilai sangat bermanfaat untuk MIS dan akan terus dikembangkan. Bahkan, pengurus MIS Muallimin itu berencana untuk mengganti seluruh kursi belajar siawa dengan kursi yang terbuat dari sampah plastik dan kertas tersebut. 

Namun bentuk kursinya, tentu akan disesuaikan dengan kebutuhkan siswa untuk belajar. "Kalau kursi yang sekarang ini hanya untuk sample, dan akan terus disempurnakan," terang Duta Nasional KBA itu sembari memperlihatkan kursi sampah hasil karya siswa MIS Muallimin, Tabek-Talang Babungo.

MIS Muallimin, terang Kasri, bukan sekolah biasa. Meski lokasinya jauh berada di perkampungan, tapi prestasi sekolahnya tidak kalah jauh dari sekolah yang ada di perkotaan. Bahkan melalui sentuhan dari KBA, sekolah agama setingkat SD ini cukup diperhitungkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Solok .

Bahkan di tahun 2018 ini, sekolah yang sudah berusia 18 tahun tersebut terpilih mewakili Kabupaten Solok untuk mendapatkan penghargaan sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Sumatera Barat, setelah pada tahun 2017 lalu, terpilih sebagai sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Solok

Siswi MIS Muallim Jorong Tabek , memanfaatkan waktu libur untuk membersihkan perkarangan sekolah. Foto: Riki Suardi

Padahal jika ditarik satu dekade ke belakang, sekolah yang didirikan oleh almarhummah Ainismar (kakak kandung Kasri Sastra) itu bagaikan “kandang sapi”. Namun berkat semangat dan pesan dari almarhummah, dirinya bersama majelis guru yang didukung Astra International , terus memberikan yang terbaik dewmi kemajuan MIS Muallimin.

"Selain Adiwiyata, prestasi lain yang diraih MIS adalah juara I Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat Kabupaten Solok tahun 2017, sehingga pada tahun 2018 ini juga terpilih mewakili Kabupaten Solok pada lomba UKS tingkat Provinsi Sumatera Barat," ungkap Kasri.

Pembinaan yang diberikan Astra International kepada MIS Muallimin melalui KBA, tidak hanya sebatas pilar Lingkungan seperti Adiwiyata, tapi juga pada pilar Pendidikan . Bahkan, perusahaan otomotif yang didirikan oleh William Soerjadjaja itu, juga memberikan beasiswa pendidikan berupa uang tunai kepada pelajar yang tinggal di Jorong Tabek .

"Bantuan beasiswa itu diberikan per semester. Untuk kuotanya 35 orang. Selain siswa MIS Muallimin, beberapa siswa berprestasi lainnya juga mendapatkan beasiswa dari Astra. Besarannya bervariasi. Untuk setingkat SD sebesar Rp450 ribu per semester, SMP Rp600 ribu dan SMA Rp750 ribu," bebernya.

Wisata Desa di Kampung "Seribu Bunga"

Selain mengintegrasikan empat pilar KBA, Jorong Tabek binaan Astra International itu kian maju dan berkembang di tengah derasnya laju industri pariwisata di Provinsi Sumatera Barat yang makin metropolis. Kendati begitu, destinasi kampung "seribu bunga" di Jorong Tabek juga tak kalah jauh di bandingkan industri pariwisata lainnya.

Dengan mempertahankan kearifan lokal di tengah berkembangnya budaya barat di Indonesia, KBA Jorong Tabek menawarkan sebuah ketenangan yang asri, adem dan jauh dari hingar bingar perkotaan kepada para wisatawan yang berkunjung ke Tabek, berupa penginapan dengan tarif yang cukup murah.

“Saat ini, sudah ada 40 kamar homestay yang disedikan masyarakat untuk para wisatawan. Kamar homestay itu merupakan rumah warga di Jorong Tabek ini. Untuk sewanya, hanya Rp80 ribu per hari,” kata Kasri.

Selain menyediakan kamar homestay, KBA juga menawarkan paket wisata desa bagi para wisatawan. Bahkan melalui paket wisata itu, para wisatawan juga bisa menikmati dan mengetahui lebih dalam tentang kearifan lokal yang merupakan aset budaya bangsa yang terus dipertahankan masyarakat Jorong Tabek .

Di antaranya, pidato minang dalam acara makan bajamba (makan bersama dalam adat Minangkabau,red), pertunjukkan antraksi silat tradisi asli dari Nagari Talang Babungo, yaitu Silek Tuo Langkah Ampek (Silat Tua Langkah Empat,red) dan Silek Kurambik. Kedua silat ini merupakan silat laga berpasangan dengan menggunakan pisau.

"Silek Tuo Langkah Ampek dan Silek Kurambik ini biasanya dipertunjukkan jika ada tamu kehormatan yang datang ke daerah ini. Tapi di luar itu, juga dipertunjukkan bagi wisatawan yang ingin melihat gerak dan langkah dari silat tradisi tersebut. Bahkan, para wisatawan juga bisa belajar gerak dan langkah dari silat tersebut," ujar Kasri.

Selain silat dan pidato minang, kearifan lokal lainnya yang bisa dipelajari masyarakat adalah cara menebang tebu hingga bagaimana cara membuat gula tebu. Kemudian, tawaran paket wisata lainnya adalah rental sepeda angin bagi wisatawan yang ingin berkeliling kampung untuk melihat keasrian alam Jorong Tabek sebagai kampung “seribu bunga”.

Sejauh ini, kata Kasri, sudah banyak wisatawan lokal dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera yang datang berkunjung ke Tabek. Kebanyakan dari wisatawan yang datang, merupakan peserta study banding ke Kabupaten Solok yang sengaja singgah ke Tabek untuk bermalam melihat keindahan kampung "seribu bunga". Sedangkan untuk wisatawan mancanegara, baru dari Jepang yang datang berkunjung.

“Bagi wisatawan yang ingin menikmati dan belajar masing-masing kearifan lokal pada paket wisata desa tersebut, cukup membayar Rp10 ribu per orang untuk satu paket. Namun karena pengelolaan paket wisata desa belum dimaksimalkan, makanya belum kami pungut. Tapi, kami tetap melayani siapapun yang datang berkunjung ke sini,” ujarnya.

“Untuk saat ini, kami belum bisa mendata berapa jumlah pengunjung atau wisatawan yang datang, karena belum maksimal pengelolaannya. Tapi Pada 2019 mendatang, pengelolaannya akan dimaksimalkan. Karena wisata desa di kampung “seribu bunga” ini akan di-lounching pada Februari tahun depan. KBA Jorong Tabek pun bekerjasama dengan Dinas Pariwsata Kabupaten Solok dalam pengelolaannya," ungkap Kasri.

Prinsip 5 M Bawa Jorong Tabek Juara II KBA Innovation

Kiprah KBA Jorong Tabek di tengah-tengah masyarakat sangat dirasakan manfaatnya. Bahkan berkat mengintegrasikan empat pilar tersebut, KBA Jorong Tabek pun terpilih sebagai juara II KBA Innovation 2018 sebagai kategori Kampung Berseri Astra .

"Kami begitu senang. Tak disangka, KBA Tabek bisa menjadi juara II dari seluruh KBA di Indonesia. Kami pun mendapat hadiah uang tunai Rp25 juta dari Astra International . Uang puluhan juta rupiah itu kami manfaatkan untuk pembangunan pondok baca dan museum yang saat ini masih dalam proses pembangunan," kata Kasri.

Keberadaan Astra International melalui KBA di Jorong Tabek memang berdampak banyak untuk kemajuan masyarakat dan Jorong Tabek secara umum. Bahkan melalui empat pilar tersebut, masyarakat pun semakin kompak dan harmonis untuk bersama-sama membangun Jorong Tabek . Tidak hanya itu, bahkan masyarakat dengan suka rela, mau menyumbangkan uangnya untuk membeli segala kebutuhan demi mempercantik Jorong Tabek agar semakin indah dipandanga mata.

Ketua KBA Jorong Tabek tengah memegang plakat Juara II KBA Innovation 2018. Foto: Riki Suardi

Kendati begitu, kemajuan Jorong Tabek yang dirasakan sekarang ini oleh masyarakat melalui campur tangan Astra International yang telah bersinergi bersama masyarakat, sempat mengalami hambatan. Bahkan enam bulan pertama, Kasri bersama para koordinator di masing-masing pilar pilar KBA Jorong Tabek , kesulitan untuk mengajak masyarakat membersihkan lingkungan .

Selain tidak adanya kepedulian, sebagian masyarakat juga ada yang mencemooh dan sebagiannya lagi, ada yang khawatir kalau kearifan lokal yang selama ini dipertahankan masyarakat, tergerus oleh budaya luar melalui para wisatawan yang datang berkunjung ke Jorong Tabek untuk menikmati wisata desa.

Meski begitu, apapun pandangan masyarakat, mantan TKI yang pernah mengadu nasib ke Malaysia dan Singapura selama lebih kurang 3,5 tahun itu tak patah arah. Melalui pendekatan prinsip 5 M, yaitu mulai dari yang tua-tua, mulai dari yang emak-emak, mulai dari yang kecil, mulai hari ini, dan mulai dari hati, hambatan itu sekita mengubah mainsed masyarakat.

“Masyarakat yang dulunya tak peduli, dan ada yang mencemooh serta khawatir akan hilangnya kearifan lokal, kini berbaur bersama-sama dengan penggiat KBA untuk membangun Jorong Tabek menjadi desa yang layak untuk dikunjungi wisatawan. Saat ini, ada sebanyak 413 orang yang menjadi penggiat KBA. Jumlah tersebut, didominasi oleh kaum muda dan emak-emak. Penggiat maupun pengurus, juga ,” bebernya.

Suami dari Pelni Eliza itu menyebut bahwa prinsip 5 M merupakan senjata paling ampuh untuk menyatukan masyarakat Jorong Tabek melalui empat pilar KBA, karena menurutnya prinsip 5 M itu juga dapat menyentuh hati masyarakat. Seperti prinsip mulai dari yang tua-tua misalnya. Menurut putra asli Jorong Tabek itu, yang tua-tua tentu ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucunya.

Kemudian prinsip mulai dari yang emak-emak, karena kaum emak-emak bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan. Di samping itu, emak-emak juga dapat mempengaruhi bapak-bapak. Seperti gotong-royong misalnya. Emak-emak ikut bergotong-royong, tentu yang bapak-bapak juga akan ikut-ikutan untuk bergotong-royong.

“Kan tidak mungkin yang bapak-bapak membiarkan yang emak-emak bergotong-royong,” katanya. Sedangkan prinsip mulai dari yang kecil, sambung Kasri, karena sesuatu yang besar dibangun dari yang kerikil. Sementara prinsip mulai hari ini, karena kesempatan tidak datang dua kali. Terakhir, prinsip mulai dari hati, karena hati bersifat suci.

Menjadi pengurus KBA, Kasri mengaku bahwa dia pun tak menerima honor sepersen pun dari Astra International , meskipun total dana CSR dari Astra International yang masuk ke Jorong Tabek , sudah mencdapai Rp200 juta lebih. Apa yang dia perbuat bersama para koordinator pilar dan penggiat KBA di Jorong Tabek , kata Kasri, hanya bertujuan untuk memajukan kualitas masyarakat Tabek, termasuk mengenalkan Jorong Tabek ke seantero Indonesia melalui program KBA.

“Dulunya mana ada orang yang tau dengan Jorong Tabek , kecuali masyarakat Solok. Kalau sekarang, masyarakat dari berbagai daerah berdatangan ke sini untuk berwisata sambil menikmati keindahan topografi Jorong Tabek yang bergelombang, termasuk untuk belajar kearifan lokal di Jorong Tabek ,” ungkap Kasri.

Sementara itu, Ketua Pemuda Jorong Tabek , Erik Mukhtar Erizon, mengaku bangga kampungnya yang dulunya nampak kumuh, kini sudah indah di pandang mata dan sering dikunjungi orang dari luar, sejak Astra International , membina kampung ini melalui KBA. Oleh sebab itu, sebagai warga Jorong Tabek yang mewakili generasi muda, dirinya berterimakasih kepada Astra International yang telah membangun kampung Tabek.

“Mudah-mudahan, Astra International terus menjadi perusahaan otomotif terbesar dan terkemuka di Tanah Air yang terus berpartisipasi untuk memajukan masyarakat Jorong Tabek melalui program-program CSR perusahaan,” ujarnya.

Kesedihan Membawa Masa Depan

Keberadaan KBA di Jorong Tabek yang dimulai pada awal 2016 lalu, bisa dikatakan sebagai kesaedian yang membawa masa depan untuk Jorong Tabek . Di tengah masyarakat didera duka akibat peristiwa kebakaran yang menghanguskan 27 unit rumah di Jorong Talang Timur yang bersebelahan di Jorong Tabek , Astra International kemudian datang menyanmbangi lokasi kebakaran tersebut.

Wali Nagari Talang Babungo, Zulfatriadi mengatakan pasca-kebakaran menghanguskan puluhan rumah warga di Talang Timur, perwakilan Astra International di Sumatera Barat datang ke lokasi kebakaran untuk mengantarkan bantuan kepada korban kebakaran. Di saat itu juga, ia pun sebagai Wali Nagari, meminta agar Astra International memperhatikan Nagari Talang Babungo melalui program CSR perusahaan.

Gayung pun bersambut. Pihak Astra kemudian mengatakan bahwa Astra International punya program CSR yang bisa membantu masyarakat dalam memajukan daerah melalui KBA. Namun syarat untuk daerah tersebut, gaya hidup masyarakatnya tidak kebarat-baratan, dan rasa kebersamaannya masih kuat.

Setelah mendengar syarat yang disampaikan, ia pun kemudian memaparkan bagaimana kearifan lokal masyarakat Talang Babungo kepada pihak Astra yang datang berkunjung ke lokasi kebakaran tersebut. Mendengar paparan tersebut, pihak Astra pun tertarik.

Dua pekan kemudian, tim Astra International dari Jakarta pun datang untuk mensurvei Nagari Talang Babungo dengan menelusuri kondisi di tujuh jorong yang ada di Nagari Talang Babungo. Setelah mensurvei semua jorong, tim survei itu kemudian mengatakan bahwa pihaknya tertarik dengan Jorong Tabek .

Alasannya, selain kawasannya masih tampak asri, topografi Jorong Tabek yang berada di kaki bukit juga menjadi alasan bahwa Tabek cocok untuk dijadikan KBA binaan Astra International , apalagi mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani tebu dan aren, meskipun petani sawah di Jorong Tabek masih sedikit.

Setelah disurvei, kemudian kabar baik dari pihak Astra pun datang. Jorong Tabek pada awal 2016 lalu resmi menjadi KBA binaan Astra International , dengan Ketua KBA Tabek, Kasri Sastra, pemuda ramah yang memiliki jiwa leadership serta memiliki integritas dan juga mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.

“Setelah KBA dibentuk, di tahun pertama yang menjadi program unggulan bagi KBA, adalah membersihkan semak belukar dan sampah yang berserakan di badan jalan, maupun di halaman rumah warga. Setelah semuanya bersih, kemudian sisi kiri dan kanan jalan ditanami berbagai jenis bunga,” katanya.

Berbagai jenis bunga yang kini tumbuh subur itu, kata Zulfatriadi melanjutkan, perlahan-lahan Jorong Tabek pun mulai dikenalkan kepada masyarakat luas sebagai kampung “seribu bunga” di Sumatera Barat.

“Selain banyaknya terdapat jenis bunga yang ditanami masyarakat, alasan lainnya kenapa Jorong Tabek juga dinamai sebagai kampung “Seribu Bunga”, karena keberlangsungan masyarakat Jorong Tabek tidak terlepas dari bunga padi, bunga aren dan bunga tebu yang selama ini, menjadi penopang perekonomian masyarakat Tabek,” katanya.

Terpisah, Koordinator Jorong Tabek , Nur Imansyah Tara yang dihubungi via handphone, membenarkan kearifan lokal yang masih kental, menjadi salah satu alasan kenapa Astra International memilih Jorong Tabek untuk dijadikan sebagai KBA binaan Astra International .

Kemudian alasan lainnya, rasa kebersamaan masyarakat yang tinggi untuk sama-sama ingi maju dan berkembang, serta adanya industri tebu di Jorong Tabek , juga menjadi potensi bagi Astra untuk bisa memajukan poerekonomian masyarakat melalui KBA yang bisa disinergikan dengan empat pilar KBA.

Begitu juga dengan tradisi pencak silat yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat Jorong Tabek . “ Astra International sendiri ikut berpartisipasi melalui program KBA, karena juga ingin menjaga kelestarian budaya Minangkabau tersebut,” katanya. 

Kendati begitu, Kepala Cabang Auto2000 Padang itu mengaku bahwa pihaknya tidak mudah untuk menemukan Jorong Tabek . Padahal, ia bersama tim Astra lainnya, telah berkeliling ke sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat untuk mencari kampung yang bisa dijadikan KBA.

“Alhamdulillah, disaat kami menyalurkan bantuan korban kebakaran di Talang Babungo, kami pun menemukan Jorong Tabek . Kemudian, turun tim dari Astra pusat untuk melakukan survei. Ternyata hasilnya, sesuai dengan harapan Astra,” ujarnya.

Nur Imansyah Tara mengaku banga kepada KBA Tabek. Meski sudah berjalan tiga tahun lamanya, namun KBA Tabek berhasil menjadi Juara II KBA Innovation 2018. Prestasi tersebut, katanya, tak terlepas dari partisipasi masyarakat Jorong Tabek untuk memajukan KBA.

“Ke depan, kami di Astra International akan terus mendorong dan memberikan Pendampingan berkelanjutan untuk Jorong Tabek melalui KBA, hingga jorong tersebut untuk menjadi maju, berkambang dan mandiri. Saya pun mewakili Astra international, juga berterimakasih kepada masyarakat Jorong Tabek yang menurut saya, merupakan masyarakat yang istimewa dari segala aspek,” pungkasnya.(*)

Penulis: Riki Suardi