Ridwan Kamil Terkenang Masa Lalu di Masjid Raya Sumbar, Begini Ceritanya

Masjid Raya Sumbar
Masjid Raya Sumbar (Wikipedia)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil terkesan dengan pembangunan Masjid Raya Sumbar . Tidak hanya soal arsitektur bangunan, mantan Walikota Bandung itu juga terkenang masa lalu saat beribadah di masjid tersebut.

Ridwan Kamil saat ini diketahui sedang berada di Kota Padang dalam rangka menghadiri acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia, (APPSI) 2019. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

baca juga: Ratusan Masyarakat Padang Salat Gerhana di Masjid Raya Sumatera Barat

Di tengah-tengah kegiatannya dalam acara tersebut, Kang Emil-panggilan akrab Ridwan Kamil menyempatkan berkunjung ke Masjid Raya Sumbar untuk melaksanakan salat Subuh.

Saat disana, Ridwan mengaku, dirinya terkenang dengan proses pembangunan masjid tersebut. Melalui akun Instagram pribadinya Ridwan mengaku bahwa ia terlibat saat memenangi sayembara nasional untuk arsitektur masjid itu sendiri.

baca juga: Pengurus Mengundurkan Diri, Bendahara Ditahan, Gubernur Lantik Pengurus Baru Masjid Raya Sumbar

"Masjid ini dahulu adalah hasil sayembara nasional yang dimenangkan oleh kantor arsitek kami dulu Urbane Indonesia dengan konseptornya Kang Rizal Muslimin yang sekarang jadi dosen di University of Sidney, Australia," katanya.

Ia pun berharap, masjid tersebut bisa jadi kebanggaan masyarakat Minangkabau dan menjadi saksi jejak ukhuwah islamiyah antara masyarakat Sumbar dan Jawa Barat.

baca juga: Begini Penampakan Salat Jumat Berjarak di Masjid Raya Sumbar

Lewat masjid itu pula ia menilai bahwa ada hubungan kekerabatan antara masyarakat Minangkabau dengan masyarakat Sunda. "Masyarakat Sunda menghormati budaya Minang. Masjid Raya ini menjadi saksinya," ujar Kang Emil.

Diketahui Masjid Raya Sumatera Barat adalah masjid terbesar di Sumatera Barat, terletak menghadap Jalan Khatib Sulaiman, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang. Dimulai dengan peletakan batu pertama pada 21 Desember 2007.

baca juga: Kejati Sumbar Tetapkan Seorang Tersangka Kasus Penggelapan Dana Infak Masjid Raya Sumbar

Pembangunan masjid ini tuntas pada 4 Januari 2019 dengan total biaya sekitar Rp325-330 miliar menggunakan dana APBD Sumatera Barat dibantu APBN. Pengerjaannya pun dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran dari provinsi.

Meski tidak rutin, Masjid Raya Sumatera Barat telah dipusatkan sebagai tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tablig akbar, pertemuan jemaah, penyelenggaraan Salat Ied hingga Salat Jumat setiap minggunya.

Sejak awal tahun 2012, pemerintah provinsi memusatkan kegiatan wirid rutin jajaran pegawai negeri sipil untuk memperkenalkan masjid. Namun, frekuensi pemakaian masjid untuk aktivitas ibadah masih terbatas karena belum rampungnya fasilitas listrik dan ketiadaan air bersih.

Konstruksi masjid terdiri dari tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang salat terletak di lantai atas, terhubung dengan teras yang melandai ke jalan.
Denah masjid berbentuk persegi yang melancip di empat penjurunya, mengingatkan bentuk bentangan kain ketika empat kabilah suku Quraisy di Mekkah berbagi kehormatan memindahkan batu Hajar Aswad.

Bentuk sudut lancip sekaligus mewakili atap bergonjong pada rumah adat Minangkabau rumah gadang.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa