Sumbar Waspada Kabut Asap Kiriman, Alat Pendeteksi Kualitas Udara di Kantor Gubernur Malah Tidak Berfungsi

Alat Pendekteksi Kualitas Udara di Kantor Gubernur Sumbar
Alat Pendekteksi Kualitas Udara di Kantor Gubernur Sumbar (KLIKPOSITIF/ Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Disaat kondisi mengkhawatirkan tentang kemungkinan adanya kabut asap kiriman dari Provinsi Riau akibat kebakaran hutan , alat pendekteksi kualitas udara di Sumatera Barat malah tidak berfungsi.

Pantauan KLIKPOSITIF .com, pada siang ini (Rabu, 27/2, pukul 14.00 WIB) Air Quality Monitoring System/AQMS di depan Kantor Gubernur Sumbar tidak menyala. AQMS merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu resmi berfungsi sejak 2017 lalu. AQMS merupakan satu-satunya pendeteksi kualitas udara di Sumbar.

baca juga: Pemerintah Perpanjang Diskon PPnBM DTP Hingga Akhir Tahun, Beli Mobil Baru Bebas Pajak

Biasanya alat pengukur indeks standar pencemaran udara (ISPU) itu terpantau hidup dan menunjukkan keterangan kualitas udara sesuai warna garis. Ada lima warna garis mulai dari hijau menunjukkan kualitas udara (baik) kemudian biru (sedang), kuning (tidak sehat), merah (sangat tidak sehat) dan hitam pertanda (bahaya).

BACA JUGA:  BMKG Minta Masyarakat Dua Daerah di Sumbar Waspada Kabut Asap Kiriman

baca juga: Meraih Berkah dari Potensi Kopi Bancah

Meki Putra (35) warga yang tinggal disekitar kantor gubernur mengatakan tidak terlalu memperhatikan dan mengetahui fungsi benda yang menjadi pengukur kualitas udara tersebut. Namun dia mengaku sudah beberapa hari ini melihat tidak berfungsi seperti biasa.

"Biasa hidup lampu warna hijau saja tapi beberapa hari ini tidak lagi. Saya juga tidak tahu pasti kapan matinya," ujarnya kepada KLIKPOSITIF , Rabu, 27 Februari 2019.

baca juga: Pemerintah Prioritaskan Aspek Berkelanjutan dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Untuk mengkonfirmasi lebih lanjut KLIKPOSITIF mencoba menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Siti Aisyah namun tidak ada jawaban. Tidak sampai disitu KLIKPOSITIF mencoba mengirimkan pesan WhatsApp namun belum juga ada jawaban.

Sebelumnya Dinas Kehutanan Sumbar terus melakukan pemantauan adanya asap kiriman dari Provinsi Riau. Namun hingga kemarin (26/2) belum terpantau adanya asap kiriman tersebut. Upaya itu dilakukan karena kebakaran hutan dan lahan di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Riau yang terjadi sejak Januari hingga Februari 2019 ini terus meluas.

baca juga: Penerapan Ganjil-Genap di Kawasan Wisata Akan Diterapkan di Seluruh Indonesia, Menhub: Cegah Kepadatan

Selain itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Minangkabau, mengimbau masyarakat dua daerah yang ada di Sumatera Barat untuk mengantisipasi adanya kiriman kabut asap yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat kebakaran hutan di Provinsi Riau.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, pada KLIKPOSITIF , kemarin (Selasa, 26/2) mengatakan, untuk titik panas yang terpantau di Sumbar tidak ada hingga hari ini, namun waspada atas kiriman kabut asap yang bisa saja sampai ke Sumbar, terutama daerah perbatasan yakni Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Sijunjung.

"Kiriman kabut asap tersebut dapat saja terjadi kerena adanya tiupan angin, dimana saat ini dari pamantaun satelit angin bertiup dari arah timur dan timur laut," kata Yudha.

Ia menambahkan, sebab itu perlu antisipasi dan waspada atas kiriman kabut asap ini, apalagi dari citra satelit kemungkinan dua sampai tiga hari kedepan di daerah Riau diprediksi tidak akan turun hujan.

Perlunya antisipasi kabut asap tersebut juga didasarkan per 26 Februari 2019, dari citra satelit yang dipantau BMKG masih ada 12 titik panas yang terdeteksi di Riau dan diprediksi dapat terus meningkat karena cuaca di daerah itu.

"Dari pantauan satelit tingkat kepercayaannya sampai 80 persen, terhadap kemunculan titik panas tersebut," tegasnya.

Namun demikian, BMKG menegaskan akan terus memantau perkembangan titik panas tersebut, dan tidak ada imbauan agar masyarakat mengurangi aktifitas diluar rumah, tapi tetap perlu mengantisipasi adanya kiriman kabut asap tersebut yang dapat mengganggu kesehatan. (Joni Abdul Kasir)

Penulis: Eko Fajri