Mendikbud Sebut Dua Hoaks di Kasus Audrey

Justice for Audrey
Justice for Audrey (net)

KLIKPOSITIF -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyebut ada kabar bohong atau hoaks dalam kasus pengeroyokan Audrey di Pontianak , Kalimantan Barat. Kabar yang faktanya tidak seperti yang viral di media sosial.

Isu yang viral di medsos bahwa korban dikeroyok oleh 12 pelaku juga tidak benar. Termasuk, merusak area sensitif korban juga tidak benar. Kasus ini sangat disayangkan dan tidak seperti yang viral di medsos setelah dia mendapat informasi langsung dari Kapolresta Pontianak , Kompol Muhammad Anwar Nasir

baca juga: Mendikbud Nadiem Dilaporkan ke Komnas HAM, Ini Alasannya

"Maaf nalar sehat mestinya korban bisa meninggal kalau isu tersebut benar," ucap Muhadjir Effendy di Pontianak , Kamis (11/4) dilansir dari Suara.com, jaringan KLIKPOSITIF .

Kasus pengeroyokan Audrey ibarat emperannya lebih besar dari rumah sendiri, dia mencontohkan terkait auratnya (korban) juga tidak benar, padahal itu yang membuat mengerikan. Ia juga mengajak, kepada para Kepala Sekolah agar tidak membiarkan berita liar itu, sehingga merusak citra sekolah.

baca juga: Persatuan Guru NU: Kepemimpinan Mendikbud Nadiem Makarim Terlalu Elitis

Dia menambahkan, untuk kejadian seperti ini, para Kepala Sekolah masih harus bertanggung jawab. "Mohon kerja sama Kepala Sekolah untuk meredam masalah ini dan memberikan informasi yang benar, baik pada media maupun melalui medos," ujarnya.

Dia berharap, semua pihak untuk mengurangi dampak negatif media sosial pada anak-anak dan mudahan-mudahan ini kejadian pertama dan terakhir di Kota Pontianak . Kepada para Kepala Sekolah di Kalbar, dia meminta peningkatan pengawasan anak didik sehingga terhindar dari narkoba dan perilaku negatif lainnya.

baca juga: Jelang Pilkada Serentak, Kominfo Pastikan Jaga Ruang Digital dari Hoaks

Menurut Muhadjir, dalam perspektif pendidikan menyelesaikannya dengan mendidik dan anak bukan penjahat karena mereka sedang mengalami pertumbuhan. Jangan sampai korban dan pelaku terampas masa depannya, karena mereka saat ini sangat tertekan dan terintimidasi.

Sementara itu, Polresta Pontianak pada Rabu malam (10/4) telah menetapkan tiga tersangka masing-masing berinisial FA atau Ll, TP atau Ar dan NN atau Ec (siswa SMA) dugaan kasus penganiayaan seorang pelajar SMP AU di Kota Pontianak .

baca juga: Beredar Pesan Adanya Kuota 10 Gb Gratis saat Pandemi COVID-19, Hoaks

"Dari hasil pemeriksaan, akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi," kata Kapolresta Pontianak , Kombes (Pol) Muhammad Anwar Nasir.

Penetapan tersebut, dari hasil pemeriksaan yang ketiganya mengakui penganiayaan, tapi tidak melakukan pengeroyokan dan merusak area sensitif seperti informasi yang beredar di media sosial.

Terhadap ketiga tersangka dikenakan pasal 80 ayat (1) UU No. 35/2014 tentang perubahan UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara atau kategori penganiayaan ringan sesuai dengan hasil visum oleh pihak Rumah Sakit Mitra Medika.

Sesuai dengan UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, maka dilakukan diversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana).

Fakta hingga ditetapkan sebagai tersangka, yakni tersangka menjambak rambut korban, mendorong hingga jatuh, lalu ada tersangka yang memiting, dan ada tersangka yang melempar menggunakan sandal. (*)

sumber: Suara.com

Penulis: Agusmanto