Dari Padang, Sandiaga Uno Kecam Aksi Kekerasan Terhadap Jurnalis di Hari Buruh

Sandiaga Salahuddin Uno
Sandiaga Salahuddin Uno (Klikpositif/ Halber)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Sandiaga Salahuddin Uno saat berkunjung ke Padang, Rabu (1/5) menyampaikan keprihatinannya terkait kekerasan terhadap jurnalis Tempo saat peliputan Mai day di Bandung .

Salon wakil presiden dari pasangan nomor urut 02 tersebut menyatakan, jurnalis adalah pilar keempat dari demokrasi, jadi tidak boleh ada kekerasan terhadap wartawan.

baca juga: Sri Mulyani: Program PEN Bantu Penerima Manfaat Bertahan Selama Pandemi

Ia mengatakan bahwa aparat harus menindak tegas pelaku kekerasan terhadap wartawan yang terjadi di Bandung terhadap fotografer Tempo, Prima Mulia.

"Harusnya aparat menindak dan memroses pelaku kekerasan terhadap wartawan," ," ujarnya saat mengungjungi Padang pada Rabu 1 Mai 2019.

baca juga: Simpan Daun Ganja Kering di Rumah, Pemuda di Tanah Datar Ditangkap Polisi

Menurutnya, aparat penegak hukum tidak boleh membiarkan hal itu terjadi dan harus sesegera mungkin untuk menindak lanjutinya.

"Siapapun yang mengalami kekerasan pada aksi Mai Day harusnya tidak boleh terjadi, dan kami sangat prihatin dengan kejadian itu," tutupnya.

baca juga: Jaringan 5G di 4 Wilayah Strategis Ini Bakal Diperluas

Dari data yang diperoleh KLIKPOSITIF .com, Fotografer Tempo Prima Mulia dan jurnalis freelance Iqbal Kusumadireza (Reza) sedang meliput peringatan hari buruh internasional yang berpusat di Gedung Sate.

Sekitar pukul 11.30, Reza dan Prima berkeliling sekitar Gedung Sate untuk memantau kondisi pergerakan massa buruh yang akan berkumpul di Gedung Sate.

baca juga: Transaksi dengan Uang Kripto Halal Atau Haram? DSN-MUI Jelaskan Kriteria Mata Uang Menurut Islam

Saat tiba di Jalan Singaperbangsa, sekitar Dipatiukur, Prima dan Reza melihat ada keributan antara polisi dengan massa yang didominasi berbaju hitam-hitam.

Reza dan Prima mengaku melihat massa berbaju hitam tersebut dipukuli oleh oknum polisi. Melihat kejadian tersebut, keduanya langsung membidikan kamera ke arah kejadian tersebut.

Setelah pindah lokasi untuk mengabadikan gambar yang lain, Reza tiba-tiba dipiting oleh seorang oknum polisi.

Saat dipiting, Reza dibentak dengan pertanyaan “dari mana kamu?” Reza langsung menjawab “wartawan”. Lalu menunjukan id pers nya. Lalu oknum tersebut malah mengambil kamera yang dipegang Reza sambil menginjak lutut dan tulang kering kaki kanannya berkali-kali.

“Sebelum kamera diambil juga udah ditendang-tendang. Saya memepertahankan kamera saya. Sambil bilang saya jurnalis,” kata Reza.

Kaki kanan Reza menglami luka dan memar. Setelah menguasai kamera Reza, polisi tersebut menghapus sejumlah gambar yang sudah diabadikan Reza.

Sedangkan Prima Mulia mengalami hal yang sama. Hanya saja, Prima tidak mendapat kekerasan fisik dari polisi.

Saya sama Reza bisa masuk utk ambil gambar kekerasan oleh polisi. Wartawan lain dicegat gak boleh masuk area kerusuhan.

Sementara itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung mengelurakan kronologi kekerasan yang menimpa wartawan saat meliput aksi buruh di Hari Buruh , di depan Gedung Sate, Bandung, Rabu (1/5/2019).

Dalam keterangan tertulisnya, AJI Bandung menuliskan tindak kekerasan yang menimpa dua wartawan peliput aksi buruh, fotografer Tempo Prima Mulia dan jurnalis freelance Iqbal Kusumadireza (Reza).

Kekerasan yang menimpa wartawan itu, diantaranya, kamera wartawan dirampas, kaki wartawan diinjak berulang-ulang. [Halbert Caniago]

Penulis: Agusmanto