Tim Ahli Dalami Pencemaran Akibat Upwelling di Danau Diatas

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Siti Aisyah, Prof. Hafrijal Syandri dan tim ahli saat meninjau Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Siti Aisyah, Prof. Hafrijal Syandri dan tim ahli saat meninjau Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Teka-teki pencemaran Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok mulai terpecahkan. Dari tinjauan lapangan tim ahli yang motori Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat (Sumbar) menemukan beberapa penyebab pencemaran danau.

Kesimpulan sementara tim ahli, telah terjadi peristiwa naiknya massa air dasar danau ke permukaan (upwelling). Kenaikan bisa disebabkan perbedaan suhu air dan gempa. Akibat upwelling,  air keruh dan binatang dasar danau mati.

Hal itu diperkuat dari pengamatan dan pengambilan beberapa sampel mulai dari permukaan dangkal dan kedalaman pada danau.

baca juga: Bantuan Alat Pengolahan Diharapkan Bisa Bantu Atasi Persoalan Sampah di Sumbar

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta Prof. Hafrijal Syandri yang mewakili akademisi dari tim ahli mengatakan, dari pantauan dan pengambilan beberapa sampel dibeberapa titik, ditemukan banyak jenis hewan dasar danau dengan pergerakan lambat mati seperti Siput (gastropoda) dan Lipabia.

Dijelaskannya, kenaikan dasar danau disertai berlerang menyebabkan Hidrogen Sulfida (H2S) tinggi dan beracun sehingga juga menyebabkan kematian pada hewan dan perubahan warna air. Kematian hewan menimbulkan bau amis yang tecium disekitar danau.

baca juga: Hari Ini DLH Sumbar Ambil Lagi Sampel Air Laut Menghijau di Bungus Teluk Kabung

"Penyebabnya bisa dari gempa, dan tanpa gempa pun bisa. Kami akan fokus mendalami penyebab ini," terangnya di Danau Diatas, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Senin, 13 Mei 2019.

Menurutnya, riwayat gempa sebelum pencemaran juga akan menjadi bahan kajian, ditambah jalur gempa Danau Singkarak, Diatas dan Dibawah dan Danau Kerinci. "Dugaan dari gempa juga bisa sebab sebelumnya ada riwayat gempa sebelum tercemar," ulasnya.

baca juga: Mencicipi Apel Babungkuih Kampung Alai Limau Gadang Lumpo

Sementara ahli biologi Universitas Andalas (Unand) Jabang Nurdin menambahkan, dari sampel yang diambil, hampir 80 persen hewan bentos (dasar air) mati seperti siput, dan hewan gerak lambat lainnya ikut mati.

"Sementara ikan karena geraknya cepat bisa selamat dari proses upwelling ini," ungkapnya.

baca juga: DLH Sumbar Kunjungi Kampung Iklim di Pessel

Dilanjutkannya, tim juga akan meteliti apakah ada dari pengaruh organisme seperti bakteria yang menyebabkan pencemaran danau.

Kesimpulan tim ahli diperkuat oleh Gusnawati (57) warga pinggir danau yang mengaku mendengar warga lain melihat fenomena air menggelembung dari tengah danau sebelum tercemar.

"Ada warga yang melihat air menguap dan menggelembung seperti lumut berwarna kuning," ujarnya.

Sejak saat itu air danau menguning dan berbau sehingga warga khawatir dan tidak memanfaatkan danau seperti biasanya.

"Biasanya bisa untuk minum, mandi dan mencuci. Sekarang sudah agak mendingan bersih dari dua bulan sebelumnya," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumbar Siti Aisyah menyebutkan, penelitian guna memastikan dan menemukan penyebab pencemaran danau. Pasalnya pencemaran menimbulkan keresahan ditengah masyarakat sekeliling danau.

"Dua minggu kedepan akan ada hasil dari tim ahli, tadi sudah kita ambil beberapa sampel di permukaan dan kedalaman termasuk di Itake PDAM," katanya. (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir