Penggunaan Teknologi Pertanian Dinilai Belum Tepat Guna

Penggunaan alat pertanian berbasis teknologi di Sumbar
Penggunaan alat pertanian berbasis teknologi di Sumbar (Istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Penggunaan teknologi di sektor pertanian saat ini cukup penting, hal itu ditandai dengan penyaluran alat teknologi pertanian yang dilakukan Kementerian Pertanian ke daerah sejak tahun 2010 lalu.

Menteri Pertanian , Amran Sulaiman mengatakan modernisasi pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian .

baca juga: iOS 14 Dirilis, YouTube Hapus Fitur Picture In Picture

Hingga kini, menurut catatan pihaknya telah menggelontorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke seluruh pelosok Tanah Air.

"Penyaluran alat ini masuk dalam program pengembangan pertanian modern," katanya dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian .

baca juga: Akan Kembangkan Mobil Terbang, GM Jajaki Pasar Taksi Udara

Namun seiring berjalannya waktu, penggunaan alat pertanian yang berbasis teknologi ini dinilai kurang tepat guna.

Sebab, menurut salah satu distributor alat pertanian di Kota Padang, Edwin Ganadhi, banyak di antara alat yang diberikan pemerintah tersebut tidak terpakai oleh petani.

baca juga: Moto G9 Plus Akhirnya Rilis, Harganya Segini

"Salah satunya disebabkan karena penggunaan alat tidak sesuai dengan kontur tanah. Misal di daerah yang tanah sawahnya cenderung berlumpur malah diberi alat yang berfungsi untuk daerah yang tidak begitu berlumpur," katanya pada KLIKPOSITIF .

Hal ini kerap ditemukan Edwin di kota-kota besar, seperti Kota Padang. Dengan kondisi demikian, penggunaan teknologi tidak teraplikasikan dengan baik.

baca juga: GMC Bakal Rilis Hummer Listrik Berkemampuan Unik

"Jika alat sesuai spesifikasi alat dengan kondisi tanahnya, tentu penggunaan teknologi jadi lebih efektif. Namun bila sebaliknya, ini malah akan menyusahkan petani," ucap pria yang menjabat sebagai Manajer Marketing Kubota Padang itu.

Ia menjelaskan, alat pertanian berbasis teknologi yang biasa digunakan petani di antaranya seperti mesin panen, mesin tanam dan mesin untuk pembajakan lahan.

"Ketiganya digunakan seiring. Namun dengan adanya ketidakcocokan antara alat dan kondisi tanah tersebut, hanya satu alat saja yang terpakai," jelas dia.

Untuk di Sumatera Barat sendiri, ia mengungkapkan penggunaan alat pertanian berbasis teknologi yang hampir merata baru di Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung dan Pesisir Selatan.

"Daerah lain masih cenderung pakai teknik manual baik itu saat panen, tanam dan bajak. Padahal dengan teknologi ini, petani bisa menghemat waktu pengerjaan, produksi lebih banyak dan tentunya keuntungan petani juga lebih besar," pungkasnya kemudian.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa