Mengenal 3 Teknologi Mesin Pertanian yang Bisa Permudah Kerja Petani

Combine Harvester, salah satu alat dan mesin pertanian yang kerap digunakan petani untuk mempermudah proses panen
Combine Harvester, salah satu alat dan mesin pertanian yang kerap digunakan petani untuk mempermudah proses panen (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kehadiran alat dan mesin pertanian berbasis teknologi telah membantu produksi petani di Indonesia sejak tahun 2010. Sebab sejak 9 tahun yang lalu, penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) telah digalakkan oleh pemerintah.

Setidaknya ada tiga alat yang bisa membantu kerja petani baik itu dari proses panen, tanam hingga pembajakan area pertanian . Ketiga alat tersebut adalah Combine Harvester, Transplanter, dan Traktor Bajak.

baca juga: Peniliti Ungkap Partikel Covid-19 Bertahan dalam Lift Selama 30 Menit

Yuk, kenali sistem kerja tiga alat itu. Simak di bawah ini:

1. Combine Harvester
Mesin ini adalah alat yang digunakan untik memanen tanaman Serealia. Mesin ini, seperti namanya, merupakan kombinasi dari tiga operasi yang berbeda, yaitu menuai, merontokkan, dan menampi, dijadikan satu rangkaian operasi.

baca juga: PUBG Umumkan Kolaborasi Resmi dengan BLACKPINK

Di antara Serealia yang dipanen antara lain gandum, oat, rye, barley, jagung, kedelai, dan flax. Batang Serealia atau jerami ditinggalkan di lahan untuk memberikan nutrisi dan menambah kadar organik bagi tanah, atau dikumpulkan kembali dengan mesin baler (pembuat bale, gulungan jerami) dan dipadatkan untuk diberikan ke hewan ternak.

Combine Harvester adalah salah satu penemuan penting di bidang pertanian karena mampu menghemat biaya tenaga kerja dan mengefisiensikan usaha tani.

baca juga: Hari Tani Nasional: Ini Sejarah Pertanian di Indonesia

Alat ini bekerja dengan memasukkan tanaman yang akan dipanen ke dalam mesin pemotong yang ada dalam mesin tersebut. Setelah itu tanaman akan dialirkan ke perontok menggunakan auger dan konveyor.

Biji-bijian yang rontok akan jatuh ke nampan di bawahnya, dengan memanfaatkan getaran yang dihasilkan mesin, biji-bijian mengalir ke ayakan dan dari ayakan utama lalu jatuh ke kaki auger biji-bijian untuk dibawa ke tangki biji-bijian.

baca juga: Agam Terkoneksi, Bupati: Internet Gratis Hingga Pelosok Nagari

Sementara jerami yang mungkin masih mengandung biji-bijian lalu dibawa sambil digetarkan di pembawa jerami. Biji-bijian yang tersisa akan jatuh ke ayakan dan mengikuti aliran biji-bijian utama.

Tongkol atau kepala biji-bijian berukuran cukup besar sehingga tidak dapat lolos ayakan utama. Tongkol akan kembali ke perontok untuk dirontokkan kembali. Jerami akan dikeluarkan melalui penekan jerami (chaffer).

2. Transplanter
Transplanter merupakan alat penanam bibit dengan jumlah, kedalaman, jarak dan kondisi penanaman yang seragam. Secara umum ada dua jenis mesin tanam bibit padi, dibedakan berdasarkan cara penyemaian dan persiapan bibit padinya.

Pertama, yaitu mesin yang memakai bibit yang ditanam/disemai di lahan (washed root seedling). Mesin ini memiliki kelebihan yaitu dapat dipergunakan tanpa harus mengubah cara persemaian bibit yang biasa dilakukan secara tradisional sebelumnya.

Namun demikian waktu yang dibutuhkan untuk mengambil bibit cukup lama, sehingga kapasitas kerja total mesin menjadi kecil. Yang kedua adalah mesin tanam yang memakai bibit yang secara khusus disemai pada kotak khusus. Mesin jenis ini mensyaratkan perubahan total dalam pembuatan bibit.

Persemaian harus dilakukan pada kotak persemaian bermedia tanah, dan bibit dipelihara dengan penyiraman, pemupukan hingga pengaturan suhu.

Persemaian dengan cara ini, di Jepang, banyak dilakukan oleh pusat koperasi pertanian , sehingga petani tidak perlu repot mempersiapkan bibit padi sendiri. Penyemaian bibit dengan cara ini dapat memberikan keseragaman pada bibit dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Mesin ini dapat bekerja lebih cepat, akurat dan stabil.

Penggunaan alat transplanter mensyaratkan beberapa persyaratan teknis diantaranya:

- Olah tanah sempurna (lahan rata/datar)
- Lahan yang macak-macak (irigasi teknis)
- Persemaianan sistem dapok (petak-kecil)

3. Traktor Bajak
Traktor bajak ini bisa jadi satu-satunya alat yang paling sering digunakan petani secara umumnya. Namun untuk alat yang lebih modern, menurut distributor alat pertanian di Sumatera Barat dengan merk Kubota, Edwin Ganadhi, petani kerap gagap informasi saat menggunakan traktor bajak.

Untuk saat ini, traktor bajak terbagi atas dua jenis. Pertama adalah traktor untuk pembajakan lahan yang berkontur tidak berlumpur tebal, yang kedua traktor untuk lahan berlumpur tebal.

Ia menjelaskan, untuk traktor yang bisa digunakan di lahan yang tidak berlumpur tebal memiliki spesifikasi umum yakni memiliki ukuran ban depan yang sama besar dengan ban belakang.

Sedangkan traktor untuk lahan berlumpur tebal memiliki ukuran ban yang berbeda. Ukuran roda depan lebih kecil dengan ban belakang. Dengan kondisi demikian memudahkan petani menggarap tanah dan tidak memaksa kinerja mesin traktor.

"Banyak kasus yang kami temukan, mesin traktor digunakan tidak sesuai dengan spesifikasinya sehingga kinerja alat tidak optimal. Untuk kerja yang lebih efisien, petani harus memahami funsi keduanya," katanya.

Di sisi lain, untuk penggunaan alat dan mesin pertanian sendiri di Sumatera Barat telah hampir merata di Dharmasraya, Sijunjung dan Pesisir Selatan.

"Ketiga daerah itu cenderung memiliki kontor lahan yang datar dan tidak berlumpur tebal. Sedangkan daerah lainnya mesin sedikit susah digunakan karena kontur lahan yang berbukit dan berlumpur," jelas pria yang juga menjabat sebagai Manajer Marketing Kubota Padang (distributor alat pertanian ) tersebut.

Penggunaan alat dan mesin pertanian itu dibuktikan dengan pangsa pasar yang mencapai 90 persen di Sumbar. Menurut Edwin, pemakaian alat ini terus meningkat setiap tahunnya.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa