Menjaga Tradisi Menyulan di Pariaman, Keterampilan yang Didapat Secara Turun Temurun

Linda memperlihatkan karya sulamannya yang dibuat menggunakan mesin jahit bordir.
Linda memperlihatkan karya sulamannya yang dibuat menggunakan mesin jahit bordir. (KLIKPOSITIF/ Rahesa)

PARIAMAN , KLIKPOSITIF -- Di Naras, Pariaman Utara, Kota Pariaman masih banyak terdapat pengrajin sulaman tangan, sulaman benang emas, sulaman peniti dan sulaman jahit alat pelaminan.

Berdasarkan keterangan warga setempat, menyulam merupakan keterampilan tradisional yang mereka dapatkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka bahkan mereka pun bisa mempelajarinya secara otodidak atau belajar sendiri tanpa ada yang mengajari.

baca juga: Tak Ada Lockdown di Guguak Tinggi Agam, Masyarakat: Situasi Aman Saja

Salah satu pengrajin sulaman yang belajar secara otodidak tersebut itu adalah Linda, seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Kantor Balai Kota Pariaman dan mempunyai usaha sampingan sebagai pengrajin sulaman jahit perlengkapan pelaminan dengan menggunakan mesin bordir.

Ibu empat orang anak ini sudah menekuni usaha sulaman jahit perlengkapan pelaminan ini selama lebih kurang empat belas tahun dengan penuh perjuangan dan kerja keras untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang bisa dibilang kurang dari cukup.

baca juga: Terus Berlanjut, Agam Tambah 2 Kasus COVID-19 Hari Ini

“Awalnya saya memulai usaha ini karena merasa senang melihat tetangga saya sedang mengerjakan sulamannya dengan menggunakan mesin jahit bordir, dari situ timbul rasa ketertarikan saya untuk menirunya, maka setiap hari setelah selesai bekerja di rumah saya selalu membawa anak-anak saya ke rumah tetangga tersebut dan terus menerus memperhatikan bagaimana cara beliau melakukan pekerjaan itu dan bagaimana cara membuat motifnya pada kain tersebut”, ujar Linda, Kamis 16 Mei 2019.

Dengan bermodal uang tabungan yang ada, di Tahun 2005 dia membeli mesin jahit bordir yang bekas seharga Rp300.000,- untuk mempraktekkan ilmu yang dapat itu secara otodidak.

baca juga: Ingin Menabung dengan Efektif di Rumah, Ini Tips Sederhananya

"Saya coba untuk melukis sendiri dan menjahitnya dikain perca, walaupun diawal menjahit, jarum jahitnya selalu patah tapi saya terus menerus mencoba hingga saya bisa membuatnya dan jarum jahitnya tidak patah lagi”, terang Linda ketika diwawancarai di rumahnya Desa Balai Naras.

Linda juga menjelaskan, setelah bisa ia menjahit lalu dia membeli bahan dasar kain sepanjang 1/2 meter yang saat itu seharga Rp3.000,- lalu dibuatnya lidah-lidah plastik halus.

baca juga: Begini Suasana Musim Durian di Ganting Kubang Pessel

"Nah setelah selesai saya beranikan diri untuk minta tolong tetangga saya yang bernama Tati seorang pengusaha sulaman juga untuk menjual hasil jahitan saya, walaupun dalam keadaan yang belum sempurna, ternyata hasil jahitan saya itu laku terjual, dari situlah bertambah semangat saya untuk terus mencoba berusaha supaya hasil jahitan saya jadi bagus," katanya.

Dengan dorongan dan motivasi yang terus menerus diberikan oleh Tati tetangganya itu akhirnya Linda berhasil membuat jahitannya semakin bagus dan mulai ada banyak pesanan yang datang. Tapi di Tahun 2010 usahanya itu sempat berhenti sejenak karena kekurangan ekonomi , beliau terpaksa menjual kembali mesin jahitnya tersebut.

Karena keinginan menjahit masih menggebu-gebu dan pesanan yang datang semakin banyak, Linda memberanikan diri untuk menyewa mesin jahit bordir yang harus dibayarnya sebanyak Rp30.000,-/bulannya.

Dia terus menjahit dengan mesin sewaan hingga Tahun 2017, dan Alhamdulillah di Tahun 2017 dia juga mendapatkan bantuan sebuah mesin jahit bordir dari Kantor Dinas Perindagkop atas bantuan dari seorang kakak angkat beliau.

"Alhamdulillah sekarang pesanan saya semakin banyak dan sudah punya anak jahit sebanyak lima orang, tapi kendala yang saya hadapi adalah masih kurangnya modal untuk mengembangkan usaha ini karena perputaran uang dari hasil usaha ini masih belum mencukupi untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin banyak meminati hasil karya saya ini," lanjutnya.

Beliau berharap semoga ada perhatiaan dari instansi yang terkait dengan cara memberikan bantuan pembinaan dan bantuan etalase untuk memajang hasil sulamannya di rumah, dan juga bantuan modal sehingga beliau bisa mengembangkan usahanya dan dapat memenuhi permintaan konsumen yang semakin banyak. (RHS)

Penulis: Eko Fajri