Pemerintah Terapkan Tiga Strategi untuk Antisipasi Kemacetan Arus Mudik Lebaran

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

JAKARTA, KLIKPOSITIF -- Menjelang arus mudik Lebaran 2019, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) mewaspadai sejumlah titik rawan kemacetan di Jalan Tol Trans-Jawa. Terdapat tiga titik yang diwaspadai sebagai simpul kemacetan, yaitu Cikampek Utama, pintu tol Kalikangkung, dan Kartosuro-Solo.

“Di Ketiga tempat tersebut, kemarin kita cek sudah mulai dipasang gardu tambahan untuk bisa mengakomodasi lonjakan volume kendaraan yang tinggi,” ucap Kepala BPJT, Danang Parikesit di Jakarta, yang dikutip dari pu.go.id.

baca juga: Telah Dibuka, Tol Desari Seksi II Brigif-Sawangan Gratis 2 Minggu

Diharapkan dengan penambahan gardu tol ini proses transaksi bisa jadi lebih cepat, yakni 3-4 detik per kendaraan. Selain pemasangan gardu tambahan, Danang mengatakan strategi lainnya guna mengatur kelancaran proses mudik Lebaran 2019 seperti pemberlakuan diskon tarif tol sebesar 15 persen pada 27 - 29 Mei dan 10 - 12 Juni, serta memberlakukan manajemen lalu lintas selama puncak arus mudik dan balik dengan sistem satu arah dan contra flow.

“Jadi tiga hal tersebut secara strategi kita terapkan bersama dengan Korlantas Polri, Ditjen Perhubungan Darat, dan Ditjen Bina Marga untuk mengatur proses mudik ini untuk benar-benar aman dan lancar,” ungkap Danang.

baca juga: Hingga Lebaran H-1, Mobil Tinggalkan Jakarta Tembus 400 Ribu Unit

Selain titik kemacetan, pemerintah juga mengantisipasi saldo kurang e-toll para pemudik dengan menyediakan gardu tol khusus pembayaran cash dan gardu top-up e-toll. “Kita sediakan tempat top-up e-toll di Cikarang Utama. Jadi kita pastikan mereka yang melintas Trans-Jawa ada tempat-tempat untuk top-up kartu,” tambah Danang.

Tak hanya di gardu khusus, para pemudik juga bisa melakukan pengisian e-toll dengan menggunakan smartphone yang berfitur near field communication (NFC). Para pemudik bisa pengisian e-toll lewat aplikasi mobile banking bank penerbit atau lewat aplikasi e-commerce. Selain pengisian, pemudik juga bisa mengecek saldo e-toll lewat smartphone mereka.

baca juga: Gagal Mudik, 4.003 Mobil Dipaksa Putar Balik di Tol Cikarang Barat

Di samping titik macet di jalan tol , Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna mengatakan kemacetan di jalan nasional juga harus diwaspadai, terutama akibat pasar tumpah atau pasar kaget.

“Keberadaan pasar kaget di sisi jalan nasional atau jalan provinsi otomatis membuat ruas jalan terpotong. Menurut saya ada dua solusi. Pertama, Kepolisian dan Pemerintah Daerah memperbanyak jumlah petugas di lapangan untuk mengurai kemacetan. Kedua, bisa dengan mengatur jam kegiatan supaya tidak berbenturan dengan pemudik. Misal izin untuk memanfaatkan sebagian bahu jalan diberikan dari jam 5 hingga 7 pagi, sehingga ketika arus kendaraan mudik meningkat jalan sudah bersih dari pasar tumpah atau pasar kaget,” kata Yayat.

baca juga: BP2MI Prediksi Puluhan Ribu TKI akan Pulang ke Indonesia Hingga Juni 2020

Di samping jalan tol , Kementerian PUPR juga memberikan perhatian kepada jalan nasional. Untuk jalan nasional sendiri, kondisinya dalam keadaan baik dan siap dilalui oleh para pemudik. Jalan nasional merupakan backbone transportasi darat karena struktur dan jaringannya sudah relatif lengkap. Di Pulau Jawa, jalan nasional sudah terhubung hampir sepanjang 5.000 kilometer dan di Sumatra kurang lebih 7.000 kilometer.

“Kita lebih banyak mengandalkan jalan nasional karena strukturnya sudah terbentuk. Di Jawa misalkan, hampir 5.000 kilometer dengan kemantapan rata-rata mencapai 93 persen. Sementara di Sumatra jalan nasional hampir 7.000 kilometer dengan kemantapan rata-rata 88 persen,” ucap Endra Saleh Atmawidjaja, Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR.

Kemantapan jalan adalah roughness index kerataan jalan di mana dalam setiap satu kilometer terdapat berapa titik jalan yang tidak rata. Jalan mantap artinya jalan tersebut tidak memiliki lubang sehingga kendaraan bisa melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam tanpa risiko kecelakaan ataupun gangguan konstruksi.

Kementerian PUPR melengkapi infrastruktur jalan tol maupun jalan nasional dengan berbagai fasilitas untuk memperlancar arus mudik Lebaran 2019. Salah satunya adalah rest area. Kementerian PUPR telah menyiapkan 85 rest area di sepanjang ruas Tol Trans-Jawa yang terletak setiap 20 kilometer. Sementara untuk Tol Trans-Sumatra terdapat 15 rest area di Medan, 7 rest area di Bakauheni - Terbanggi Besar, dan 7 rest area Pematang Panggang - Kayu Agung.

“Rest area tersebut dilengkapi dengan toilet pria dan wanita, area parkir mobil dan truk, ATM, musala, SPBU, warung/kios, restoran, bengkel, klinik dan taman. Untuk Tol Trans-Jawa rata-rata setiap 20 kilometer ada rest area. Aturannya kan setiap 20-50 kilometer,” kata Danang.

Selain rest area, Kementerian PUPR juga menyediakan posko mudik dan call center untuk para pemudik yang menggunakan jalan nasional. Terdapat 584 posko mudik yang tersebar di seluruh jalan nasional di Indonesia. Posko mudik ini dilengkapi oleh personel, alat berat, dan material. Sehingga, begitu masyarakat menghubungi call center untuk melaporkan hambatan di jalan nasional, petugas akan menghubungi posko mudik terdekat dan hambatan bisa langsung diselesaikan.

“Bila terjadi sesuatu di jalan nasional, seperti menemukan banjir, longsor, atau jalan berlubang silakan hubungi call center kami di 0812-8383-5757. Petugas dari Kementerian PUPR siap membantu menyelesaikan masalah di lapangan,” pungkas Endra.(Mes/Iwn)

Penulis: Iwan R