Mudiknya Sopir dan Kenek Pandawa 87, Menatap Ketan Lebaran Hanya Lewat Hp

sopir Pandawa 87 saat bercerita suka dan duka melakoni kerja sopir
sopir Pandawa 87 saat bercerita suka dan duka melakoni kerja sopir (KLIKPOSITIF/Rehasa)

PADANGPARIAMAN, KLIKPOSITIF - Momen lebaran memang menjadi waktu beharga bagi banyak orang namun tak sepenuhnya anggapan itu dibenarkan oleh 15 orang laki-laki yang bekerja di Perusahaan Bus Pariwisata Pandawa 87.

15 orang yang terdiri dari 10 orang sopir dan 5 kenek perusahaan Pandawa 87, hanya menatap potongan ketan kinung lewat video call dengan anak dan istri saat lebaran.

baca juga: Diduga Korban Pembunuhan, Warga Sungai Geringging Temukan Mayat dengan 10 Luka Sayatan

15 orang tersebut bertugas dari Jawa Barat mengantar rombongan perantau Ikatan Keluarga Kecamatan IV Koto Aur Malintang (Ikako Amal).

Ironi memang, baru saja takbir berkumandang, mereka telah meninggalkan keluarga tercinta untuk mengantarkan 150 penumpang asal Aur Malintang.

baca juga: Miliki Sabu dan Ganja, Dua Pria Ditangkap Polisi

"Iya, bagi orang lebaran merupakan momen bertemu keluarga, bagi kami tentu tidak, kami hanya menatap ketan kuning dipotong oleh anak istri dari hp saja. Orang bertemu dengan keluarga, kami malah meninggalkan keluarga," ungkap Parano, yang mengetuai 5 unit mobil pariwisata Pandawa 87 di Aur Malintang, Kamis sore 13 Juni 2019.

Lebih lanjut Parano membeberkan, dia sebagai sopir digaji sebesar Rp200 ribu per harinya dari perusahaan. "Jika dikalikan satu minggu dapat satu juta empat ratus rupiah. Ya dengan pendapatan segitu kan tahu sendiri, 1 juta ditinggal untuk keluarga, lebihnya buat bekal di jalanan selama satu minggu, " jelas Parano.

baca juga: Begini Teknis Pelaksanaan Pendidikan Bagi Peserta Didik di Pariaman

Sambil senyum Parano menyebut moto situasi itu, "pergi bawa perut dan meninggalkan perut". Artinya kami berangkat harus tinggalkan uang untuk keluarga, " ungkap Parano didampingi kawan-kawan seperjuangan saat melepas penat di Aur Malintang.

Banyak suka dan duka yang mereka lontarkan saat berbagi dengan KLIKPOSITIF . Namun mereka sependapat bahwa lebih banyak duka daripada sukanya dipekerjaan yang mereka lakoni.

baca juga: Perangkat Desa di Pariaman Baca Quran Setiap Hari Sebelum Buka Pelayanan

Salah satu sopir Pandawa 87 bernama Trisno menilai perihal demikian. "Lebih banyak dukanya lah mas. Uang dikantong cuma 400 untuk hidup satu minggu. Ya sih makan ditanggung panitia, tapi kan tidak semaunya. Jenis makanan yang ditanggung panitia sudah ditarifkan.

Jadi, kata Trisno lagi, mau makan yang lain harus bayar lebih, hanya boleh makan seperti yang sudah ditarifkan panitia. Kalau mau macam-macam soal selera bayar sendiri mas, " jawab Trisno.

Para sopir dan kenek bus pariwisata tersebut sependapat menjawab pertanyaan KLIKPOSITIF , bahwa mereka kapok untuk ditugaskan kembali jika tujuan tur ke Aur Malintang.

Pasalnya, ada dua faktor, pertama perihal rute jalan dari Jawa menuju Aur Malintang banyak tantangan, rute sulit dan jalan kecil. Alasan kedua soal pelayanan dan basa basi dari pihak perantau atau panitia.

"Wah rute hingga kesini bikin kapok deh mas. Tikungannya dan lebar jalan lebih sering bikin kesal. Nyampe di sini, fasilitas juga bikin kami kapok. Tidur di musala, mandi di tepi jalan berdinding seadaanya," jelas Trisno.

Lebih lanjut dia menyebutkan, dirinya dan rekan seperjuangan lebih nyaman tidur di dalam bus. "Ya kami lebih nyaman tidur di dalam bus mas, ketimbang tempat yang telah disediakan," sebutnya.

Dibeberkannya juga, memang untuk fasilitas tidak ada dalam perjanjian, namun setidaknya mereka berharap mendapat tempat yang nyaman dan fasilitas istirahat serta tempat mandi yang mengesankan.

"Jika disebut gak enak juga sih mas, kerja kayak kami bonusnya memang dari tips yang diberikan orang. Kami diatur tidak boleh mintak atau pasang tarif diluar ketentuan perusahaan. Tidak munafik kami berharap banyak dari tips atas layanan kami," jawab Trisno.

Salah satu kenek bernama Faisal dalam rombongan bus tersebut juga mengutarakan hal yang sama. Faisal pun menaruh harapan dari bonus tip yang diberikan penumpang.

"Iya dong mas, kalau gak dari uang tip, coba dari mana. Biarpun seminggu tapi cuma 1 setengah juta. Itupun disetor untuk keluarga satu juta," jelas Faisal.

Lebih lanjut Faisal mengatakan, soal gaji itu bukan perjuangan mereka sebagai sopir. Namun prinsip mereka adalah tanggung jawab terhadap nyawa penumpang yang dibawa.

"Selain bertanggung jawab pada keselamatan penumpang, jauh dari keluarga saat lebaran juga bukan hal yang biasa saja. Itu merupakan pengorbanan yang tak ternilai dengan harta atau ongkos berapapun, " sebut Faisal.

Dia juga berucap pasrah, demi menafkahi keluarga dan demi dedikasi pada perusahaan dan penumpang, mereka ikhlas dan menganggap semua sebagai upaya kebaikan serta cerita duka hidup sang sopir saja.

Diketahui dari para sopir tersebut, besok pada Jumat (14/6) mereka kembali ke Jawa untuk mengantar para perantau Aur Malintang balik ke perantauan.

"Besok kami balik ka Jawa lagi, namun jadwal pasti berangkat belum kami dapatkan. Kata panitia ngumpul dulu untuk dilepas bersama oleh orang kampung sini, " ungkap Parano, ketua dalam rombongan.

[RHS]

Penulis: Fitria Marlina