Sistem Zonasi Diberlakukan, Sekolah Unggulan di Payakumbuh Tertantang untuk Pertahankan Prestasi

Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Payakumbuh, Defi Marlitra.
Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Payakumbuh, Defi Marlitra. (KLIKPOSITIF/Taufik Hidayat)

PAYAKUMBUH , KLIKPOSITIF -- Diberlakukannya sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru ( PPDB ) jadi tantangan tersendiri bagi SMPN 1 Kota Payakumbuh untuk mempertahankan prestasi-prestasi yang sudah mereka catatkan selama ini.

Kepala Sekolah SMPN 1 Kota Payakumbuh , Defi Marlitra mengakui, sistem zonasi membuat pihak sekolah memiliki keterbatasan dalam menseleksi siswa yang akan diterima. Hal itu berbeda dari beberapa tahun lalu, di mana yang mereka terima merupakan siswa-siswa dengan catatan prestasi cukup baik ketika di Sekolah Dasar (SD).

baca juga: PPDB SD Kota Padang Dimulai

"Sistem zonasi itu, berapapun nilai anak tersebut tapi dia tinggal dekat dengan sekolah, wajib kami terima," jelas Defi kepada KLIKPOSITIF , Selasa 25 Juni 2019.

"Tentu ini jadi tantangan bagi kami, bagaimana kita bisa mengangkat anak-anak yang boleh dikatakan lemah selama ini, sehingga nilainya rendah sekali untuk masuk ke SMPN 1. Inilah yang jadi tanggung jawab kita selaku kepala sekolah, guru, dan karyawan agar membuat program yang sebaik-baiknya dan merencanakan dari awal," lanjutnya.

baca juga: Persiapan Untuk Arungi Liga 3, Gasliko Seleksi Seratusan Pemain

Diakui Defi, pemberlakuan sistem zonasi sempat membuatnya khawatir terhadap prestasi sekolahnya. Apalagi, sekolah yang dipimpinnya tersebut selalu jadi rujukan bagi sekolah lain di Payakumbuh dan juga daerah lain.

"Saya sebagai manusia dan pimpinan baru di sini, agak-agak ragu juga apabila sekolah ini nanti secara prestasi mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tapi kita berusaha semaksimal mungkin dulu," terangnya.

baca juga: Dorong UMKM Bangun Brand Bersama, Menkop UKM Contohkan Produksi Rendang di Payakumbuh

Defi sendiri mengaku mendukung penuh kebijakan pemerintah yang dalam dua tahun terakhir menerapkan sistem zonasi dalam PPDB . Terkait prestasi, ia menilai sudah menjadi kewajiban seluruh elemen di SMPN 1 Payakumbuh untuk bekerja semaksimal mungkin.

"Kami sangat menerima konsekuensinya, karena memang susah juga bagi orangtua. Contohnya, dia tinggal dekat dengan SMPN 1, orangtuanya hanya bekerja sebagai pengutip bawang atau cabai di Pasar Payakumbuh dan apabila anaknya harus menggunakan uang transpor untuk berangkat ke sekolah tentu akan memberatkan," pungkasnya kemudian. (*)

baca juga: Kebaya Encim Karya Putra Luak Limopuluah, Megi Efriater Mentas di HUT DKI

Penulis: Taufik Hidayat