Harga Kebutuhan Pokok Mahal di Pasbar, Daya Beli Masyarakat Berkurang

Suasana di Pasar Simpang Angkek Pasbar.
Suasana di Pasar Simpang Angkek Pasbar. (KLIKPOSITIF/Irfan Pasaribu)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF -- Sejak dua bulan terakhir, sejumlah kebutuhan pokok dinilai masih terasa sangat mahal oleh masyarakat Kabupaten Pasaman Barat-Sumbar. Karena itulah, daya jual para pembeli rendah lantaran banyak yang lebih mendahulukan kebutuhan terpenting.

Pantauan KLIKPOSITIF Minggu (30/6) di Pasar Tradisional Simpang Ampek. Sejumlah kebutuhan pokok yang masih mahal seperti cabai merah, cabai hijau, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kentang, wortel, tomat, kacang tanah, kacang panjang, buncis, kemiri dan gula merah.

baca juga: Warga Pasaman: Pohon Pelindung Bukan Untuk Wadah Kampanye

Harga cabai merah sebelumnya Rp22 ribu per kilogram, kini menjadi Rp60 ribu per kilogram. Cabai hijau sebelumnya Rp12 ribu per kilogram, kini menjadi Rp22 ribu per kilonya. Cabai rawit sebelumnya Rp28 ribu per kilogram kini menjadi Rp60 ribu per kilogramnya.

Sedangkan, untuk bawang merah yang sebelumnya Rp15 ribu per kilogram, kini menjadi Rp32 ribu per kilogram. Bawang putih sebelumnya Rp20 ribu per kilogram, kini menjadi Rp60 ribu per kilogramnya. Untuk Kentang sebelumnya Rp8.000 per kilogram, kini menjadi Rp14 ribu per kilogramnya.

baca juga: 519 CPNS di Pasaman Barat Akan Jalani Tes SKB, Ini Jadwalnya

Kol sebelumnya Rp2.500 per kilogram kini menjadi Rp5.000 per kilogramnya. Buncis sebelumnya Rp8.000 per kilogramnya, kini menjadi Rp12 ribu per kilogram. Kemiri sebelumnya Rp36 ribu per kilogram kini menjadi Rp48 ribu per kilogramnya.

Selain itu, untuk Tomat sebelumnya Rp6.000 per kilogram, kini menjadi Rp12 ribu per kilogramnya. Kacang tanah sebelumnya Rp16 ribu per kilogram, kini menjadi Rp24 ribu per kilogramnya, kacang panjang sebelumnya Rp2.000 per ikat sekarang menjadi Rp4.000 per ikatnya.

baca juga: Diduga Ada Joki PPDP, Bawaslu Minta KPU Pasbar Lakukan Coklit Ulang di Tiga Kecamatan

Sementara, untuk gula merah sebelumnya sebelumnya Rp17 ribu per kilogram, kini menjadi Rp20 ribu per kilogramnya. Untuk harga lauk pauk masih dinilai mahal seperti daging sapi yang sebelumnya Rp110 ribu per kilogram, kini menjadi Rp140 ribu per kilogramnya.

Daging ayam sebelumnya Rp45 ribu per ekornya kini menjadi Rp55 ribu per ekornya. Ikan tongkol yang sebelumnya Rp25 ribu, kini menjadi Rp40 ribu per kilogramnya. Sedangkan, udang rebung sebelumnya Rp45 ribu per kilogram, kini menjadi Rp70 ribu per kilogramnya.

baca juga: Puluhan Tahun Hidup di Rumah Tidak Layak Huni, Janda Miskin di Pasbar Ini Butuh Uluran Tangan

Untuk udang batu sebelumnya Rp35 ribu per kilogram, kini menjadi Rp60 ribu per kilogramnya dan untuk telur ayam sebelumnya Rp32 ribu per papan (isi 30 butir), kini menjadi Rp40 ribu per papan.

Namun, untuk kebutuhan bahan pokok lainnya masih relatif stabil seperti lengkuas giling Rp8.000 per kilogram, kunyit giling Rp6.000 per kilogram, jahe Rp16 ribu per kilogram, minyak goreng Rp10 ribu per kilogram, gula pasir Rp12 ribu per kilogram dan beras Rp12 ribu per kilogramnya.

Akibat sejumlah kebutuhan pokok yang masih mahal tersebut. Membuat para kaum ibu harus pintar-pintar mendahulukan membeli kebutuhan pokok yang dianggap perlu.

"Susah sekarang mas, segala kebutuhan pokok pada mahal semua. Saya hanya belanja kebutuhan pokok, mana yang dianggap perlu saja. Uang yang dibawa harus pintar-pintar membaginya," sebut Delvi kepada KLIKPOSITIF di Pasar Tradisional Simpang Empat.

Tentu ini sangat terasa buat kami, kebutuhan makin mahal sementara ekonomi merosot. "Kami ini kan hanya mengandalkan hasil kelapa sawit, sedangkan harga jual TBS Kelapa Sawit kami hanya Rp600 per kilogram. Akibat itu, tentu semua makin terasa mahal," katanya.

Disamping itu dia tidak mengerti masih mahalnya sejumlah bahan pokok tersebut. Kata Delvi, ini sudah berlangsung sejak dua bulan terkahir. Namun yang dia khawatirkan menjelang lebaran idul adha mendatang.

"Bisa saja kan, kembali terjadi kelonjakan harga disejumlah kebutuhan pokok lainnya menjelang lebaran idul adha nanti," katanya.

Sementara menurut sejumlah pedagang di Pasar Tradisional Simpang Empat menyebutkan, kenaikan harga kebutuhan pokok karena tergantung pasokan stok dari daerah produsen, sehingga modal mereka mahal.

"Saat ini saja, cabai merah yang beredar di pasaran merupakan cabai merah hasil petani lokal. "Namun intinya bila pasokan melimpah dan permintaan bersifat stabil, tentu dengan sendirinya harga akan turun," ujar Muzar salah seorang pedagang setempat.

“Akan tetapi jika barangnya kurang, atau karena stoknya kurang, maka otomatis harganya akan melonjak tinggi. Namun untuk sementara sebagian harga-harga bahan pokok lainnya seperti, gula pasir, beras, minyak goreng dan sayur masih relatif stabil," ungkap dia.

Meski beberapa item bahan pokok harganya naik, namun pedagang tetap mengeluh karena omset pendapatan mereka tidak ikut naik. Kata mereka malah cenderung menurun, lantaran ekonomi masyarakat yang sedang merosot diakibatkan anjloknya harga kelapa sawit.

[Irfan Pasaribu]

Penulis: Agusmanto