Karhutla Riau, DLH: Kualitas Udara Sumbar Masih "Baik"

Ilustrasi/Petani membakar jerami di Pesisir Selatan
Ilustrasi/Petani membakar jerami di Pesisir Selatan (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di Provinsi Riau, sebagai tetangga Sumatera Barat berpotensi kedatangan asap kiriman yang menyebabkan pencemaran udara.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat Siti Aisyah menegaskan, kualitas udara di Sumatera masih baik serta sehat. Itu artinya belum ada asap kiriman dari Riau.

baca juga: Bantuan Alat Pengolahan Diharapkan Bisa Bantu Atasi Persoalan Sampah di Sumbar

"Hingga saat ini kualitas udara kita masih baik. Kami rutin mencek apalagi sejak karhutla di Riau," ujarnya saat dihubungi KLIKPOSITIF , Kamis, 4 Juli 2019.

Dia mengakui, walaupun alat pendeteksi kualitas udara (Air Quality Monitoring System/AQMS) di depan Kantor Gubernur Sumbar dan Pemko Padang tidak menyala, pihaknya melakukan pemantauan sendiri di DLH.

baca juga: Kebakaran Hutan di AS, Telan Korban Jiwa dan Puluhan Orang Dinyatakan Hilang

"Iya masih tidak nyala, sebelumnya kami sudah koordinasi dengan Kementerian, sebab itukan kewenangan Kementerian. Sudah diperbaiki namun rusak lagi," jelasnya.

Dilanjutkannya, untuk saat ini masyarakat tidak perlu khawatir akan kualitas udara di Sumbar. Kerena DLH akan terus memantau setiap saat dan akan memperingati jika ada perubahan.

baca juga: KLHK Siapkan Solusi Permanen Penanganan Karhutla

"Insyaallah masih aman, semoga kebakaran di Riau cepat diatasi dan tidak berdampak kepada kita di Sumbar," tukasnya.

Pantauan KLIKPOSITIF dilapangan, kondisi AQMS di kantor Gubernur Sumbar dan kantor Walikota Padang sama-sama tidak menyala.

baca juga: Musim Kemarau Makin Dekat, BPBD Lima Puluh Kota Petakan Titik Rawan Kebakaran Hutan

Biasanya, alat pengukur indeks standar pencemaran udara (ISPU) itu terpantau hidup dan menunjukkan keterangan kualitas udara sesuai warna garis.

Ada lima warna garis mulai dari hijau menunjukkan kualitas udara (baik) kemudian biru (sedang), kuning (tidak sehat), merah (sangat tidak sehat) dan hitam pertanda (bahaya). (*)

Penulis: Joni Abdul Kasir