64 Kloter Haji Indonesia Tiba di Madinah, Jemaah Wafat Bertambah

Ilustrasi
Ilustrasi (Kemenag)

KLIKPOSITIF -- Memasuki hari keenam kedatangan jemaah haji gelombang satu di tanah suci, tercatat sudah 64 kloter tiba di Madinah Al Munawarah. Dilansir Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pada tanggal 11 Juli 2019 (06.32 WAS) sebanyak 26.007 jemaah haji telah mendarat di Madinah.

Sedsngkan mereka yang meninggal dunia, masih tercatat sebanyak 3 orang, antara lain :
1. Khairil Abbas Salim (BTH 2),
2. Mudjahid Damanhuri Mangun (SOC 4)
3. Sumiyatun Suwikromo Sutardjan (SOC 2).

baca juga: Wapres Ingatkan Revisi UU ASN Jangan Sampai Lemahkan Reformasi Birokrasi

Jemaah gelombang satu akan berada di Madinah selama 8 hingga 9 hari untuk melaksanakan Arbain atau shalat 40 waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi.

Cuaca Madinah yang berkisar antara 35 - 45 derajat celcius merupakan salah satu tantangan bagi jemaah haji Indonesia.

baca juga: Penampakan 3 Harimau di Perkampungan Solok Selatan, Ini Kata Balai TNKS Sektor Batang Suliti

Direktur Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Amsyar Akil berbagi tips berhaji sehat untuk jemaah haji Indonesia agar dapat menunaikan ibadah dengan lancar dan selalu dalam kondisi yang sehat.

Sebelum pergi ke Masjid Nabawi, Amsyar menganjurkan jemaah haji Indonesia harus mempersiapkan diri dengan alat pelindung diri seperti masker, payung, spray. Ia juga membagikan tips berhaji sehat,

baca juga: Buruan, BUMN Berdikari Buka Lowongan Kerja

"Beberapa tips berhaji sehat, yang pertama, mencuci tangan dengan sabun menggunakan air mengalir, ini akan mencegah tersebarnya infeksi," ujar Amsyar ketika ditemui di Klinik Kesehatan Haji Indonesia, Minggu (09/07).

Kemudian Ansyar menambahkan agar jemaah haji senantiasa memakan makanan yang bergizi, memperbanyak minum air, dan jus buah serta membawa persediaan obat.

baca juga: Tahun 2024 Diperkirakan Ada 12,6 Juta Jiwa Lansia di Indonesia, Pemerintah Perkuat Implementasi Jaminan Sosial

Jemaah juga dianjurkan untuk tidak merokok, istirahat cukup dan tidak terlalu diforsir untuk beribadah. (*)

Penulis: Eko Fajri