Tahun Kesebelas, TdS Seharusnya Tidak Membebankan Anggaran Pemerintah Lagi

Pembalap TdS 2018 melintasi Kampus UNP Padang
Pembalap TdS 2018 melintasi Kampus UNP Padang (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir )

PADANG, KLIKPOSITIF - Pakar Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni menegaskan, tahun kesebelas pelaksanaan event Tour de Singkarak (TdS) seharusnya tidak dibebankan lagi kepada anggaran daerah.

Event yang telah memiliki branding yang kuat dan internasional, seharusnya sudah didanai sponsor tunggal (pihak ketiga).

baca juga: MotoGP Dimulai dengan Protokol Kesehatan Ketat

"TdS ini grafiknya harus naik, jangan sampai datar apalagi turun. Ini sudah tahun kesebelas jangan lagi dibebankan kepada uang rakyat. Sampai kapan akan seperti ini?," ujarnya kepada KLIKPOSITIF , Kamis, 11 Juli 2019.

Bisa jadi, lanjut Lenggogeni, mundurnya empat kabupaten dan kota di Sumbar disebabkan karena mereka tidak merasakan manfaat yang signifikan dari perhelatan sepeda berstandar internasional tersebut.

baca juga: Salain Balap, Ini Passion Lain Marquez

"Ingat cost (biaya) yang mereka keluarkan, lalu benefitnya apa, kalau mereka berpikiran buang uang saja tentu saja lebih baik tidak ikut, sebab banyak kebutuhan lain yang mendesak," katanya.

Namun, disisi lain Lenggogeni mengapresiasi hasil kerja Dinas Pariwisata Sumbar yang telah melakukan perluasan penyelenggaraan dengan bergabungnya Jambi (Kabupaten Sungai Penuh dan Kerinci).

baca juga: Wagub Sumbar: Kekurangan dan Kelemahan TdS Diperbaiki Bersama

"Dari sisi ini bagus karena telah melakukan perluasan, sudah mulai melakukan sinergi dengan provinsi tetangga. Ini terobosan yang bagus dalam mengembangkan TdS," akuiknya.

Akan tetapi, perlu banyak kajian dan evaluasi pemerintah dalam pelaksanaan TdS, mulai dari pemetaan waktu pelaksanaan serta mensingkronisasikan dengan jadwal berkunjung wisatawan. Kemudian mengintegrasikan dengan objek wisata lain dalam bentuk Co-branding.

baca juga: Berbarengan dengan Pilkada, TdS 2020 Terancam Batal Diselenggarakan

"Momentum Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto sebagai warisan budaya dunia UNESCO bisa dimanfaatkan dalam promosi yang terintegrasi dengan TdS, sehingga manfaatnya tampak jelas," terangnya.

Untuk diketahui, sejak tahun 2018 Kementerian Pariwisata tidak lagi mendanai event TdS lagi, sehingga provinsi harus menghabiskan sedikitnya 8 miliar untuk anggaran yang bersumber dari APBD. Selain provinsi kabupaten dan kota kota juga menyumbang sesuai sekitar Rp 500 juta hingga Rp 700 juta tiap event.

Dalam setiap kali event TdS sedikitnya menghabiskan sekitar Rp16 miliar tiap tahunnya. Kemenpar hanya bisa membantu Rp 1 miliar dengan porsi 60 persen untuk promosi dan 40 persen untuk kegiatan.(*)

Penulis: Joni Abdul Kasir