Pemuda di Pasbar Lakukan Hal Ini untuk Selamatkan Penyu dari Kepunahan

Seekor anak penyu (tukik) hasil penangkaran Komunitas Pandah Artgreen Maligi yang dilepas di sekitar pantai maligi kelaut lepas.
Seekor anak penyu (tukik) hasil penangkaran Komunitas Pandah Artgreen Maligi yang dilepas di sekitar pantai maligi kelaut lepas. (KLIKPOSITIF/Eko Fajri)

PASAMAN BARAT, KLIKPOSITIF -- Penyu adalah kura-kura laut yang saat ini keberadaannya semakin berkurang. Telur penyu yang terus diburu manusia untuk dikonsumsi dan berakibat kondisi populasi penyu semakin menurun serta terancam punah.

Menyadari itu, sejumlah pemuda Maligi, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie yang tergabung dalam komunitas Pandah Artgreen Maligi berupaya untuk melakukan penyelamatan penyu dari kepunahan, baik dari segi konservasi dan segi sosialisasi.

baca juga: Idul Adha, Permintaan Kue Bolu dan Cake Meningkat di Pasaman Barat

Ketua Komunitas Pandah Artgreen, Surya menyebut, melakukan penyelamatan keberadaan penyu dari kepunahan sangat penting. Selain melakukan penyelamatan penyu dari kepunahan, tentu akan berdampak baik terhadap hasil penangkapan laut para nelayan.

Dia menilai, keberadaan penyu sangat penting bagi kelangsungan hidup ikan kecil di sekitar pantai. Secara tidak sadar, jika keberadaan penyu langka, maka ubur-ubur akan banyak ditemukan sekitar pantai. Sedangkan ubur-ubur ini, salah satu hewan laut yang agresif pemakan ikan kecil yang ada di laut.

baca juga: Masjid Agung Pasbar Tidak Pernah Menyelenggarakan Pemotongan Kurban, Ini Alasannya

"Tentu jika jumlah hewan laut tersebut meningkat, maka populasi ikan kecil akan habis. Sementara yang bisa mengurangi keberadaan ubur-ubur adalah penyu itu sendiri," terang Pemuda Pelopor Penyelamatan Penyu Maligi itu kepada KLIKPOSITIF , Minggu (21/7) sore.

Melihat kondisi itu, dia berangkat bersama komunitasnya sejak awal tahun 2019 memulai melakukan sosialisasi terhadap pentingnya penyu bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan laut. Dia bersama komunitasnya gencar memberikan pemahaman kepada masyarakat Maligi agar tidak memburu telur penyu untuk dikonsumsi.

baca juga: KPU Pasbar: Proses Vermin Perbaikan Paslon Agus-Rommy Sudah 75 Persen

"Awalnya memang kurang mendapat respon yang baik, akhirnya karena terus diberikan pemahaman masyarakat pun menyambut positif," jelasnya.

"Setelah mendapat dukungan dari berbagai kalangan masyarakat setempat, surya bersama komunitasnya memulai melakukan penangkaran dengan seadanya, meski berangkat dengan ilmu yang didapat dari youtube dan medsos namun tidak menyurutkan niat mereka," ujarnya.

baca juga: Polres Pasaman Barat Sebar 500 Kupon Daging Kurban ke Mustahik

Surya menceritakan, selama sebulan dia dibantu sejumlah pemuda mencari keberadaan telur penyu di sepanjang pantai, disamping itu komunitasnya membeli secara swadaya tiap telur yang ditemukan tanpa sengaja oleh nelayan. Hasil penangkaran yang dilakukan, pihaknya telah melepas sebanyak 379 ekor anak penyu (tukik) kelaut lepas.

Sedangkan yang masih dipenangkaran sebanyak 70 ekor tukik dan yang belum menetas ada sebanyak 200 butir telur. Diakui Surya, dari hasil setiap penangkaran yang dilakukan. Hanya 40 persen yang menetas. Hal itu diakibatkan keterbatasan ilmu, lokasi penangkaran yang seadanya dan keterbatas dana.

Namun, pihaknya tetap fokus melakukan penyelamatan dan konservasi secara mandiri, untuk menjamin kelansungan hidup penyu . "Kita ingin komunitas ini hadir untuk mengembalikan keberadaan penyu ini disekitar pantai maligi," tukas Surya.

Disamping memiliki target penyu bisa dilestarikan kembali di Maligi. Pihaknya juga bertujuan untuk menjadikan Maligi salah satu ikon wisata pantai Pasaman Barat. Namun, tujuan utama adalah menyelamatkan penyu dari kepunahan. "Dahulunya di sekitar pantai maligi penyu mudah ditemukan, namun sekarang sudah sangat langka," ungkap Surya.

Imbuhnya, aksi yang dilakukan, murni bentuk dari peduli terhadap lingkungan dan untuk kelansungan hidup orang banyak. Selain mendapat dukungan dari masyarakat dan penggiat penyu , aksi komunitas ini telah menyita perhatian dari pemerintah terendah hingga pemerintah propinsi Sumbar.

Meski kegiatan yang digagas surya baru berjalan hitungan bulan. Namun dia telah meraih Juara I sebagai Pemuda pelopor tingkat Kabupaten Pasbar dan juga terpilih meraih Juara I Pemuda pelopor tingkat Propinsi Sumbar dengan issue Sumber Daya Alam dan Pariwisata.

Untuk pemuda pelopor tingkat nasional, Surya akan mewakili propinsi Sumatera Barat di ajang nasional mendatang. Selain mendapat penghargaan, komunitasnya juga menarik perhatian dari mahasiswa Universitas Malaysia Trengganu (UMT) untuk melakukan observasi dikawasan pantai Maligi.

Kedatangan kelima mahasiswa asal negeri jiran yang didampingi Ketua Program Studi Perairan, Pesisir dan Kelautan Pascasarjana Universistas Bung Hatta, Harfiandri Damanhuri pada Rabu (17/7) lalu dalam rangka melihat untuk pengembangan potensi kawasan pantai Maligi, baik itu dari segi potensi konservasi penyu , kawasan eko wisata, mangrove dan potensi lainnya.

Selain itu, dia bersama komunitasnya juga melakukan gerakan literasi dalam mendidik generasi masa depan dengan menyediakan buku-buku ilmu pengetahuan alam. Surya kembali mengimbau, agar masyarakat menghentikan menkonsumsi telur penyu . Karena memiliki dampak yang sangat besar buat kelansungan hidup masyarakat pesisir pantai," imbau Surya.

Sementara, Ketua Kolaborasi Kemanusiaan Pasaman Barat dan pembina komunitas Pandah Artgen Maligi, Decky H Sahputra mengatakan, partisipasi masyarakat maligi terus mengalami peningkatan. Dari hari kehari dukungan masyarakat setempat terus mengalir.

"Namun sekarang masyarakat lokal dan komunitas butuh perhatian dari segala pihak, agar kegiatan ini bisa berlangsung baik untuk anak cucu kedepannya," sebut Decky.

Terpisah, Camat Sasak Ranah Pasisie Ezy Zein memberikan apresiasinya atas apa yang telah dirintis oleh Surya bersama komunitasnya. "Teruslah berbuat baik, karena penghargaan dari manusia adalah bonus usaha. Namun keridhoan Allah Subhanahu Wa Taala yang lebih utama," tuturnya.

Camat juga mengatakan, masyarakat mulai sadar, bahwa dampak perkembangan penyu jika terus menerus telur penyu di konsumsi, akan berdampak terhadap hasil tangkapan nelayan. "Mari ke Kecamatan Sasak Ranah Pasisie berwisata, Pantai Sasak Ranah Pasisie rancak tacelak," ajak ibu Camat tersebut.

[Irfan Pasaribu]

Penulis: Agusmanto